Saya memasangkan helm hitam Honda, lalu mengaturnya agar terasa pas di kepala. Tak lupa, sebelum itu, sebuah headset hitam berkabel menancap lebih dulu di telinga. Kemudian, saya menaiki motor, menyalakan mesin, dan berjalan melewati jalanan yang masih lengang.
Waktu itu, jam masih jatuh di angka lima pagi. Jalan masih sunyi; beberapa lapak pedagang mulai didatangi ibu-ibu. Dengan hoodie bercorak dan headset di telinga yang memutarkan podcast GJLS, saya menarik gas motor pelan, menabrak angin pagi yang masih begitu dingin. Sesekali saya tertawa karena candaan dalam podcast yang berputar di telinga terdengar lucu.
Jarak dari rumah ke tempat kerja saya berkisar 17 km. Bila ditempuh dengan motor, perjalanan memakan waktu antara 45 menit hingga satu jam, tergantung kecepatan kendaraan. Tentu, itu bukan jarak yang dekat. Apalagi jalan di antaranya masih banyak yang rusak; tak ayal badan saya remuk setiap hari.
Iya, setiap hari saya bolak-balik seperti jutaan manusia dewasa lainnya.
Di umur yang telah sampai pada seperempat abad ini, hidup saya hanya seputar tidur, makan, target, bekerja, lalu kembali ke awal. Selalu begitu, berputar, berulang dengan kejadian yang sama. Setiap pulang bekerja, saya selalu menyempatkan diri untuk duduk di tempat luas, entah di mana pun itu, lalu satu pertanyaan tumbuh:
Hidup memang begini? Bolak-balik bekerja, diperas keringat dan tenaga untuk menghasilkan gaji yang habis dalam seminggu, lalu mati?
Pertanyaan semacam itu sangat mengganggu pikiran saya. Sekilas tampak ringan, tapi jika ditelaah lebih dalam, pertanyaan itu membawa saya pada kecemasan yang berlebih. Tentu saja pertanyaan seperti itu hanya retoris. Faktanya, hidup memang demikian. Kita harus bekerja sampai mati. Pahit, tapi kenyataan tak bisa diubah.
Tapi, mari kita beralih topik sebentar. Omong-omong, teman dekat saya baru saja menikah minggu kemarin. Bukan hanya satu teman; dalam kurun waktu dua bulan saja, ada tiga teman dekat saya yang melanjutkan hidupnya ke bab yang baru. Tersisa saya yang masih berkutat merapikan hidup.
Secara implisit, saya kehilangan teman. Dengan menikah, mereka otomatis menjadi suami yang terikat dengan istrinya. Itu berdampak pada waktu nongkrong bersama saya. Alhasil, sekarang saya sendirian. Betul-betul sendirian.
Saya jadi paham bahwa ketika dewasa, hidup akan menyempit. Kita mulai kehilangan orang-orang terdekat. Lingkaran pertemanan makin menipis. Hidup jadi lebih sepi. Saya bahkan kadang duduk sendirian di tempat biasa kami nongkrong, hanya untuk mengenang bahwa hidup ternyata telah jauh berubah. Tak ada yang tersisa selain memori indah di tempat itu.
Ketika hidup mulai menyempit, saya kebingungan harus melanjutkan hidup seperti apa. Lalu, pertanyaan tadi kembali timbul:
Hidup memang begini?
Saya akan bekerja mati-matian mengejar target hanya untuk dimarahi, lalu pulang dengan lelah di seluruh badan, kemudian tidur sebagai jeda untuk besok kembali bekerja. Hidup yang repetitif, membosankan, sepi, sunyi, dan hening.
Lalu perlahan aku menyadari, hidup yang menyempit ini bukan sekadar tentang hilangnya teman atau mengecilnya lingkaran pertemanan. Ia juga tentang bagaimana ruang gerakku sebagai manusia turut tergerus oleh rutinitas yang tak berujung. Dulu, masa depan terasa seperti lautan luas dengan ribuan kemungkinan. Kini, ia hanyalah lorong sempit berlantai beton: dari kamar tidur ke kendaraan, dari kendaraan ke meja kerja, lalu kembali lagi. Tidak ada belokan, tidak ada jendela, hanya garis lurus yang membosankan menuju titik yang sama setiap harinya.
Aku bahkan mulai lupa kapan terakhir kali melakukan sesuatu yang benar-benar baru, atau merasa penasaran pada hal di luar target dan gaji. Hobi-hobi lama menguap, obrolan-obrolan mendalam terganti oleh basa-basi soal pekerjaan, dan tawa-tawa lepas kini hanya tersisa dalam rekaman podcast yang kuputar saat berkendara. Aku bukan lagi seseorang yang sedang menjalani hidup; aku hanyalah penumpang pasif dalam perjalanan yang sudah ditentukan rutenya sejak lama.
Dan di tengah kesunyian malam ini, ketika pertanyaan itu kembali terngiang—hidup memang begini?—aku sadar bahwa jawaban paling menakutkan bukanlah "iya", melainkan ketidaktahuanku apakah masih ada pintu keluar dari lorong sempit ini. Atau mungkin, inilah satu-satunya bentuk kedewasaan yang sesungguhnya: belajar bernapas lega di ruang yang kian sesak, sambil berharap suatu hari nanti, entah bagaimana caranya, dinding-dinding itu akan runtuh dengan sendirinya.
Komentar
Posting Komentar