Karno dan siti adalah karyawan di sebuah toko beras. Siti sebagai kasir dan karno adalah kuli panggul. Karno lebih dulu kerja disana, ia sudah hampir 3 tahun lamanya bergelut dengan butir butir beras. Sedangkan siti baru 6 bulan, ia menggantikan kasir sebelumnya yang resign karena hamil duluan.
Di hari pertama siti masuk, karno sudah melihat ada hal istimewa dari perempuan ini. Matanya yang besar dan tubuhnya yang proporsional membuat darah karno berdesir setiap kali berdekatan dengannya. Tapi, jauh dari itu, siti punya sesuatu yang lain, yang perempuan lain tak punya. pengetahuan.
Ketika karno untuk pertama kalinya mengobrol dengan siti, kesan yang ia tangkap adalah siti berpengetahuan luas. Ia tahu banyak hal. Mulutnya cakap berbicara. Gestur tubuhnya luwes. Karno tidak bisa untuk tidak terpesona dengan kecerdasan siti. Setiap kata yang keluar dari mulut siti, karno menganggapnya sebagai sebuah keindahan yang tidak bisa di tawarkan perempuan lain.
Karno sedari dulu memang mencari perempuan yang pintar. Di kampung nya tak banyak perempuan yang seperti siti. Kebanyakan perempuan kampung hanya mengerti dapur, kasur dan sumur. Mereka tak berpendidikan. Tak ada ilmu yang mereka punya selain ilmu mengurus anak dan memanjakan suami. Jika di tanya perihal politik, ah mana paham mereka. Jika di tanya tentang hukum, ah mana mengerti mereka. Maka ketika karno bertemu dengan siti yang faham politik bahkan cakap, mengerti tentang segala hukum meski dangkal, ia merasa menemukan sesuatu yang selama ini hilang.
Jika boleh jujur, karno menemukan lawan bicara yang sepadan.
Sebetulnya Karno tidak bisa di bilang pintar juga. Ia tak pernah juara kelas, mentok mentok hanya juara tiga. Tapi, berkat kesukaannya terhadap buku, pikiran karno berkembang lebih cepat ketimbang pemuda kampung lain. Jatuh cinta pertama karno bukan pada perempuan, tapi pada buku.
Karno telah mengkritisi kebijakan sekolah yang di anggap tidak sesuai dengan apa yang di butuhkan siswa, sejak masa SMP. ia bahkan sukses membongkar praktik korupsi di sekolahnya. Itu hanya salah dua kisah keberanian karno. Semua hal itu terbentuk karena pengaruh buku buku yang di baca karno. Bahkan beberapa tahun setelah ia lulus SMA, karno populer karena jadi dalang demo di kantor kepala desa.
Karno tidak lanjut kuliah, orang tua tak mengizinkannya. Mereka keluarga miskin, boro boro memikirkan pendidikan, besok mau makan apa saja kadang bingung. Maka dengan berat hati, karno menghapus mimpinya untuk melanjutkan pendidikan dan lihatlah sekarang hidupnya, terjebak di sebuah toko beras. Padahal jika ia melanjutkan pendidikan karno punya potensi untuk jadi orang besar di masa depan. Seorang orator ulung.
Kembali pada siti.
Karno telah jatuh cinta pada siti di obrolan pertama. Jika orang lain jatuh cinta pada pandangan pertama, lain dengan karno. baru kali ini dia melihat perempuan sebegitu cemerlangnya dalam pemikiran. dan ya, karno jatuh cinta pada siti secepat kilat tanpa perlu alasan panjang.
Mulai hari itu, hidup karno hanya berisi siti.
Karno mulai menunjukan perhatian pada siti di Minggu pertama. Ia bertanya, ber basa basi, menanyakan sudah makan atau belum, menawarkan bantuan dan hal hal kecil lain. Siti awalnya menganggap itu hanya basa basi belaka karena tak hanya karno yang melakukannya. Hampir seluruh kuli panggul disana sering bertanya pada siti bahkan satu dua ada yang menggodanya.
Karno setiap pagi menyapa siti bahkan di Minggu kedua ia membawa sarapan untuknya. Siti tentu berterima kasih meski agak terkejut. Karno bilang ibunya masak banyak hari ini, padahal itu jatah sarapan karno sendiri.
Dalam usaha mendapatkan cinta, berbohong di ijinkan.
Kedekatan karno dan siti makin intens hari ke hari. Di jam istirahat, mereka sering duduk berdua di warteg yang penjualnya bukan orang Tegal. Mereka membicarakan banyak hal. Politik, sejarah, hukum, bahkan teori evolusi. kadang berdebat sedikit, di waktu lain sepakat satu sama lain. Karno telah luluh sepenuhnya pada perempuan ini dan ia tak ingin melewatkannya.
"Menurutmu, jika ada seorang perempuan di perkosa karena pakaiannya terbuka, siapa yang salah?" tanya karno di sebuah siang yang terik.
Siti menyendok makanan, mengunyahnya pelan dan meneguk air sebab makanan itu susah melewati tenggorokan. "yang salah tetep yang memerkosa." jawab siti, setelah rampung menelan makanan.
Karno terlihat tidak setuju, "Tapi kan pakaian bisa jadi pemicunya. Jika si perempuan itu tertutup, kemungkinan adanya pemerkosaan bisa hilang?"
"gak begitu." siti menanggapi dengan tenang. "ada banyak kasus pemerkosaan terjadi pada wanita berpakaian tertutup, bahkan banyak terjadi juga di lingkungan pesantren. Di sana pasti pakaian tertutup dong?" siti berhenti, kembali menyendok makanan.
"pemerkosaan terjadi bukan karena pakaian. Itu murni karena manusia tidak bisa menahan nafsunya." lanjut siti.
Karno mengangguk, "tapi bukankah lebih baik jika di tempat umum wanita berpakaian sopan yang tidak mengundang nafsu? Karena yang saya tahu nafsu hadir atas sebuah pemicu bukan tetiba saja naik. Tapi juga akan lebih baik kalau si pria mampu menundukkan pandangan. Jadi kedua lawan jenis tidak ada yang di salahkan."
"idealnya begitu." Kata siti. "tadi pertanyaan kamu apa?"
"siapa yang salah jika pemerkosaan terjadi pada perempuan yang pakaiannya terbuka?" karno mengulang.
"aku jawab apa?" tanya siti.
Karno mengingat sebentar, "yang salah tetep pelaku."
Siti mengangguk, "iya, yang salah dan dapat hukuman adalah pelaku. Entah perempuan atau pria yang melakukannya, ia salah dan wajib dapat hukuman. Jadi tidak ada bias gender dalam hal pemerkosaan, harusnya. Meski dalam prakteknya ya seringkali perempuan yang jadi korban karena secara fisik perempuan lebih lemah. Padahal pemerkosaan atau pelecehan juga bisa terjadi pada laki-laki. Tapi, ya kamu tahu sendirilah."
"pasa dasarnya pemerkosaan terjadi karena tidak ada ijin atau consent terhadap tubuh kita. Ada hak yang di langgar. Kalo suka sama suka mah bukan pelecehan namanya." lanjut siti setelah meneguk habis satu gelas.
Karno melongo mendengarkan penjelasan siti yang panjang lebar. perempuan ini kritis, punya prinsip dan mengerti bagaimana society bekerja. Pandangan semacam ini tak mungkin karno temukan di perempuan kampung. Bukan meng-underestimate, faktanya memang demikian. Tingkat literasi di kampung sangat rendah. Pemikiran semacam ini tak bisa tumbuh.
Ada yang berdegup kencang setelah karno mendengar penjelasan itu. Siti terlihat dua kali lipat lebih cantik ketika mengeluarkan kecerdasannya dan itu membuat perasaan Karno berbunga bunga. cinta sudah mendarat tepat di hati karno.
Karno dan siti makin dekat. Bahkan sekarang karno telah berani mengajak pulang siti meski dengan gemetar. Siti seorang perantau, tinggal di sebuah kost sempit tak jauh dari toko beras itu. Siti tak menolak ajakan karno. Ia bahkan menerimanya dengan antusias. Jadilah satu toko heboh hari itu.
***
Berbulan ke depan, karno dan siti sudah macam sepasang kekasih, pulang pergi di bersama, makan siang bersama, mendebatkan undang undang yang baru di buat pemerintah, merumuskan Pancasila yang baru bahkan sampai berdebat tentang hukum Newton. Di sela toko beras yang sibuk dan penuh debu, mereka jadi dua manusia yang berpikir jauh. Lebih jauh dari yang di kira. Obrolan mereka lintas topik. Satu hari tentang hukum, lain hari membahas sejarah.
Karno tak perlu menyiapkan banyak bahan obrolan. Jika mereka sudah duduk berdua, ada saja yang mereka bahas. Topik Mengalir tanpa henti. dari sini bisa di lihat bahwa mereka adalah pasangan yang serasi. sama sama cerdas dan mempunyai pemikiran yang lebih maju ketimbang anak muda kampung seumuran mereka.
Sore itu, toko beras sedang menuju tutup. Semua karyawan telah siap bergegas pulang setelah seharian penuh bergelut dengan beras. Siti masih terlihat sibuk. Ia tengah menghitung uang dan fokus dengan komputer di depannya. Karno dan beberapa kuli lain beranjak meninggalkan toko. Namun demi melihat siti masih sibuk, ia berhenti dan berbalik menghampiri perempuan itu lalu duduk di sebelahnya.
Karno memandang wajah siti, tampak sekali kelelahan menghiasi disana. Dadanya berdebar. Setelah memendam perasaannya berbulan bulan, karno merasa ini waktu yang tepat untuk mengungkapkan semuanya. Ia sudah cukup yakin dengan apa yang ia rasakan juga dengan sikap siti padanya.
"Masih lama?" tanya karno.
"sebentar lagi." pandangan siti masih ke layar komputer.
"aku mau ngomong sesuatu." Karno berkata gugup. Bagaimana pun, ia tak terlalu lihai dalam urusan semacam ini.
"sebentar." siti berkata, kemudian menghitung uang, menekan keyboard lalu mematikan komputer dan menaruh uang di berangkas.
"selesai. Ayo mau ngomong apa?" tanya siti menghadap pada Karno setelah pekerjaannya rampung.
Wajah karno memerah. Dada nya berdegup kencang. Ia harus bicara. Karno tak mau melewatkan kesempatan ini.
"Aku suka sama kamu. Kamu mau jadi pasangan aku?" akhirnya kalimat itu keluar dari mulut karno.
Hening. angin sore berhembus masuk ke dalam toko. Di toko hanya tersisa mereka berdua. Matahari tengah menuju peraduannya. Gelap perlahan merayap ke setiap sudut. Karno merasa dadanya akan meledak. Dengan resah, karno menunggu jawaban siti.
Sudut bibir siti terangkat. "maaf, karno."
Dari satu kalimat itu saja karno sudah tahu apa yang akan ia dengar selanjutnya. Meski begitu, ia tetap siap mendengarkannya.
"untuk sekarang, jujur saja aku belum siap menjalin hubungan." kata siti, pelan. Mungkin Siti mengucapkan kalimat itu hati hati agar tak melukai hati karno.
Bagaimanapun, penolakan adalah penolakan. Rasa sakit tumbuh karenanya. Tapi karno tetap tersenyum. Mengangguk, lalu berdiri dan meninggalkan siti tanpa sepatah katapun. Karno kehabisan kalimat, ia tak mampu bahkan untuk menatap mata siti. Siti berhak menolak, tapi karno juga berhak untuk merasa terluka karenanya.
Matahari jatuh di ufuk barat, siti menghela napas. Toko itu sepi, lengang, menyisakan desir angin sore yang menelisik.
***
hari berlalu seperti biasanya. Toko beras itu tetap sibuk sebab permintaan makin melonjak karena pemerintah menerapkan peraturan baru perihal beras impor yang mengakibatkan beras impor menaikan harganya gila gilaan. Beras lokal jadi komoditas yang di buru karena harganya lebih murah meski kualitasnya tak sepadan dengan beras impor.
Toko semakin sibuk, hingga siti dan karno tak sempat untuk bertegur sapa seperti hari hari sebelumnya. Mereka kerja penuh seharian. Karno bisa memanggul lebih dari 100 karung seharinya. Sementara siti tak bisa beranjak dari kursi kasir. Semua fokus pada pekerjaannya masing masing.
Namun siti jelas merasakan ada yang berbeda dari karno. lelaki itu semangat seperti biasa, tapi seperti menjauh dari siti. jika ada keperluan pun, karno hanya menjawab seperlunya, tidak ada basa basi seperti biasa. Bahkan kini, karno sudah tak mengantarnya pulang lagi.
Karno sekarang suka menulis di pojok toko. ia membawa sebuah buku tulis dan ketika jam istirahat ia akan fokus disana entah menulis apa.
Sebetulnya siti bisa memahaminya. Penolakan yang ia lontarkan sore itu, pasti membuat hati karno hancur. siti memang sedang tak ingin menjalani hubungan asmara dengan siapapun sebab ada satu hal. Tapi, di sisi lain, ia juga faham betapa sakitnya sebuah penolakan. Maka dari itu, siti mengatakan penolakan dengan sangat hati hati agar tak menyakiti hati karno.
Siti tak terlalu peduli sebetulnya, ia lebih memilih fokus pada pekerjaannya yang makin hari makin melelahkan. Meski ia agak sedikit merasa kehilangan juga pada akhirnya.
Anehnya, beberapa hari kemudian, siti menyadari karno sering tidak masuk kerja. Ia sempat bertanya pada karyawan lain dan tidak mendapatkan jawaban. Mereka hanya bilang tidak tahu.
Belakangan ini toko beras lebih cepat tutup. Biasa tutup jam 5 sore, sekarang tutup dua jam lebih awal. Itu di sebabkan adanya kerusuhan di desa yang agaknya lumayan mengkhawatirkan. Desa ini memang sedang dalam tensi yang cukup panas, karena kepala desa di sinyalir melakukan korupsi besar besaran. Warga desa marah. Tempo hari mereka melakukan demo di depan kantor kepala desa dan sempat terjadi kerusuhan kecil dengan aparat.
Warga semakin marah dengan adanya pemukulan terhadap warga desa oleh orang orang misterius. Warga yakin orang orang itu suruhan pak kades. Sudah biasa kan, para pejabat mengerahkan hal hal semacam itu untuk membungkam suara warganya? Seperti efek kejut, agar mereka berhenti dan ketakutan.
Sebaliknya, warga semakin berang. Demo kembali terjadi dan kerusuhan berulang. Aparat di turunkan lebih banyak. Toko beras itu, yang jaraknya hanya sepelemparan batu dari kantor kepala desa, terkena dampak dari kerusuhan tersebut. Oleh karenanya, pemilik toko memutuskan untuk menutup tokonya lebih awal guna menghindari hal hal yang tidak di inginkan.
Siti tiba tiba saja teringat pada karno. Pasalnya, ia hilang dari tempat kerja setelah adanya demo itu. Siti memang pernah dengar cerita dari karno tentang dia jadi pembongkar korupsi di sekolah, sampe dalang demo kepala desa di beberapa tahun lalu. Siti tahu, karno adalah tipe orang yang membenci kekuasaan apalagi yang korup. Siti sekarang diliputi kecemasan.
Makin hari, demo makin besar dan pemerintah telah mengerahkan setidaknya seratus aparat. Apa yang warga tuntut sepertinya tidak di respon dan itu mengakibatkan warga murka.
Sementara siti semakin khawatir karena hampir seminggu ini karno tidak masuk kerja. Ia takut terjadi hal buruk pada karno. Selain itu, siti juga merasa kehilangan. Ia rindu pada karno. Ia rindu pada percakapan mereka tentang semua hal. Pada akhirnya, siti memang merasakan sesuatu terhadap karno. Jarang siti menemukan laki laki yang sedemikian antusias membahas hal hal berat dan tabu. Tapi, karno, dengan kecerdasannya telah membuat siti sedikit demi sedikit lulus. Meski, siti tahu, ia tak bisa menerima karno.
Sore itu, siti menemukan buku yang sering karno bawa di pojok toko. Saking sibuknya, ia tak menyadari ada seonggok buku tergeletak disana. Bahkan mungkin sudah berhari hari. Ketika hendak membaca buku tersebut, dari depan toko terdengar seseorang memanggil.
Siti menghampirinya, seorang ibu yang terlihat tua, datang dengan napas memburu.
"Neng, saya ibu nya karno, apa karno ada disini?" ucap si ibu dengan raut wajah yang cemas.
Siti menjawab, "tidak ada bu, karno sudah semingguan ini tidak masuk kerja."
Si ibu menangis, "ya allah karno, kamu kemana."
"ibu tenang dulu. Karno emang dimana bu?" tanya siti, ikut cemas.
"ibu tidak tahu. Katanya karno terakhir keliatan di bawa sama orang, gak tahu siapa. Sampe sekarang karno gak pulang." air mata si ibu makin deras.
Siti mematung. Dari arah jalan terdengar ramai orang orang berteriak.
"Karno di bunuh, kita ancurin kepala desa, udah pasti ini ulah mereka." seseorang berteriak dari kerumunan itu.
Mendengr itu, si ibu tua berlari ke sana, sementara siti terduduk. Sebuah petir seperti menghantam kepalanya. Badannya gemetar, air mata telah ada di pelupuk.
Telpon dari saku siti berdering, siti mengangkatnya.
"halo siti. Katanya tempat kamu bekerja sedang tidak aman ya? Pulang ya nak. ii calon suamimu sudah siap melaksanakan pernikahan." ucap seseorang dari seberang sana.
Komentar
Posting Komentar