Kemarin, saya bertemu dengan teman-teman mahasiswa. Mereka sudah izin pada saya satu minggu yang lalu untuk mewawancarai saya perihal manajemen. Saya sebetulnya tidak terlalu mengerti, tapi saya selalu senang melihat antusiasme pelajar yang sedang berusaha menyelesaikan tugasnya. Jadilah kemarin saya diwawancarai dengan 30 pertanyaan lebih.
Semua pertanyaan itu sebetulnya hanya pertanyaan umum yang siapa pun bisa menjawab. Tapi sebagai seorang kasir, saya bisa memberikan sudut pandang yang lebih dalam perihal manajemen, setidaknya dalam lingkup kecil. Meski, ya tidak juga sih. Saya hanya menjawab apa yang saya tahu. Jika saya tidak tahu, ya saya tidak jawab. Memang begitu kan?
Tapi menyenangkan sekali bisa berbincang dengan mereka. Total ada empat mahasiswa, semuanya perempuan. Mereka punya pandangan menarik tentang dunia kampus yang tak pernah saya rasakan. Saya, yang sedari dulu ingin sekali merasakan bangku kuliah tapi tidak tercapai karena masalah ekonomi, merasa terwakili dengan pertanyaan dan jawaban mereka.
Iya, setelah saya diwawancarai, saya yang berbalik menanyai mereka. Saya berkata pada mereka bahwa saya sedang menulis artikel dan artikel kali ini akan bertema tentang mahasiswa. Mereka dengan antusias menjawab iya dan sangat siap untuk saya tanyai.
Sebetulnya tujuan saya menanyai mereka semata-mata untuk memberikan gambaran tentang anak-anak kuliah yang biasanya terikat stigma-stigma tertentu. Mahasiswa sering dianggap sebagai anak-anak pintar yang mesti tahu segala hal. Padahal faktanya, bangku kuliah pun adalah media belajar, proses mencari ilmu. Mahasiswa bukan manusia mesin yang dituntut bisa dalam semua bidang.
Mula-mula saya bertanya nama, jurusan, dan semester berapa. Mereka semua jurusan manajemen dan baru semester satu. Mereka bahkan baru resmi jadi mahasiswa tiga minggu yang lalu. Masih terlalu dini sebetulnya, tapi justru jadi lebih menarik.
Mereka bilang menjadi mahasiswa, setidaknya dalam tiga minggu itu, sesuai dengan ekspektasi mereka. Segala kepusingan dan rumitnya perkuliahan sama seperti apa yang mereka bayangkan semasa SMA. Jadi tidak terlalu terkejut ketika mereka menerima banyak tugas dan hal-hal yang mesti dilakukan sebagai mahasiswa.
Hal itu berkaitan dengan mental mereka. Di masa sekarang, apalagi di usia semuda mereka, mahasiswa rentan sekali terkena brainrot akibat tugas yang begitu banyak. Apalagi ditambah dengan deadline dan revisian. Banyak dari mahasiswa yang mengaku stres, bahkan ada yang sampai sakit jika tugas sedang melimpah. Tapi akan berbeda jika memang mereka sudah tahu bahwa dunia kampus akan semelelahkan itu dan bisa bersiap-siap sebelumnya. Teman-teman saya ini memang merasakan demikian.
Apa yang mereka rasakan sebetulnya hal umum yang terjadi pada mahasiswa. Tapi, semakin ke sini, dunia perkuliahan mengalami pergeseran dalam metode pengajaran. Dulu, saya pernah bertanya pada teman saya, metode kuliah yang ia rasakan sangat menuntut untuk kreatif dan berinovasi. Di dalam kelas, dosen hanya berperan sebagai pemandu, sisanya dilanjutkan oleh mahasiswa itu sendiri. Mereka bertukar pikiran, berdebat, dan berdialektika.
Sementara sekarang, mengacu pada apa yang diceritakan teman-teman mahasiswa baru tadi, pembelajaran kuliah fokus pada presentasi dan presentasi. Sedang dosen hanya diam dan memperhatikan, bahkan kata mereka, dosen hanya datang dan memberi tugas, sisanya ia pergi entah ke mana.
Tidak semua dosen seperti itu, tapi dosen semacam itu memang banyak, dan itu sangat mempengaruhi kualitas mahasiswa sekarang.
Saya mulai antusias ketika mereka bercerita panjang lebar.
Dari keempat mahasiswa ini, tak ada satu pun yang menjadikan manajemen sebagai jurusan utama. Mereka seperti tak punya pilihan lain dan terpaksa masuk jurusan ini. Memang ada yang suka dengan manajemen? Manajemen bukan jurusan populer dan ini adalah jurusan terakhir bagi mahasiswa yang tak bisa masuk ke jurusan impiannya.
Meski begitu, mereka mau tidak mau harus bersemangat untuk menimba ilmu di jurusan ini.
Setelah itu, pada pertanyaan berikutnya, saya mencoba menggali apakah kuliah adalah keinginan mereka sendiri atau paksaan dari orang tua, atau memang karena mereka masih belum siap masuk dunia kerja. Mereka menjawab dengan yakin bahwa kuliah adalah keinginan sendiri, tak ada paksaan atau alasan lain. Mereka menyadari betul dunia kuliah tidak serta merta akan menjadikan mereka sukses di masa depan. Pendeknya, kuliah bukan jembatan menuju sukses. Banyak yang lebih sukses bahkan tanpa menempuh bangku kuliah.
Kuliah, bagi mereka, adalah sarana pengembangan ilmu, pencarian karakter, dan proses agar menjadi manusia terdidik. Yang mengerti bahwa pendidikan bukan cuma semata-mata hanya untuk bekerja. Yang paham betul bahwa dampak dari pendidikan lebih luas dari yang masyarakat percayai.
“Bukannya jadi ada beban tersendiri ya, kalau kalian nanti punya gelar? Kayak punya tuntutan sukses lebih besar?” tanya saya di sela-sela.
Salah satu dari mereka menjawab, “Itu jelas. Saya bahkan dari sekarang sudah dipertanyakan dan sudah dibandingkan dengan anak-anak yang telah sukses tanpa kuliah.”
“Tapi itu nggak menghalangi niat saya buat mencari ilmu,” katanya.
Saya melanjutkan pertanyaan, “Kalian kan perempuan, ada nggak sih yang sering bilang bahwa perempuan itu nggak perlu sekolah tinggi-tinggi karena hanya akan berakhir di dapur, kasur, dan sumur?”
Yang lain menanggapi, “Itu anggapan yang udah lama kayaknya, ya. Cuma kalau aku mikirnya gini, anggapan kayak gitu ada benarnya juga. Tapi dengan saya terdidik, berpikir kritis, setidaknya kalau saya punya anak, saya bisa mewariskan apa yang saya dapat ke anak saya. Dan nggak ada yang salah dengan itu.”
Saya tertegun mendengarnya. Jawaban yang cukup menarik. Di usia semuda mereka, mengerti tentang stigma yang sudah melekat dalam benak orang-orang Indonesia, bagi saya adalah pencapaian yang sangat baik. Artinya mereka mengerti bahwa perempuan punya kesempatan yang sama dengan laki-laki. Jenis kelamin tidak bisa jadi penghalang untuk meraih pendidikan setinggi mungkin.
Saya kemudian mendengarkan mereka bercerita dengan semangat. Ada banyak harapan tersirat di kedalaman mata mereka. Ada pula lekuk lelah menghiasi wajah karena telah berkeliling seharian untuk melakukan wawancara sebagai tugas kuliah. Paling tidak, mereka menikmatinya.
Mereka hanya salah satu dari banyak mahasiswa. Tidak mewakili siapa pun, tapi setidaknya saya punya gambaran tentang bagaimana beratnya menjadi seorang mahasiswa. Beban-beban menancap di pundak mereka. Harapan kian menambah sulitnya. Bahkan mereka tidak bisa lepas dari stigma negatif bahwa kuliah hanya buang-buang uang.
Mereka yakin tidak ada istilah buang-buang dalam menjalani proses pendidikan. Mungkin hasilnya bukan sekarang. Mereka hanya sedang menanam, berproses, dan mencoba menjadi manusia terdidik. Sepuluh, dua puluh tahun ke depan, hasil akan diraih atas jerih payah mereka hari ini.
Setelah selesai, saya memberi mereka buku sebagai cinderamata.
Dan berfoto di akhir.

Komentar
Posting Komentar