JANGAN BANGUNKAN AKU (SEBUAH CERPEN)




Pagi itu, rumah Beni sudah berisik. Suara bapak dan ibunya bertengkar terdengar ke seluruh penjuru rumah. Beni mengerjap demi telinganya yang mendengar makian demi makian tertumpah ruah dari mulut bapaknya.

"Jadi istri nggak becus," teriak bapak. "Harusnya suami pulang disambut, atau seenggaknya dibikinin sarapan," lanjut ia.

"Kamu pulang dari mana, Pak?" tanya ibu dengan suara yang sudah gemetar.

"Kerja! Aku kerja! Dari mana lagi?" bentak bapak lagi.

"Bohong, Pak! Kamu pasti ikut judi lagi di sana, kan?" Kini ibu juga ikut berteriak.

Beni tak tahan, lalu menutup telinganya dengan bantal. Sebetulnya kejadian ini sudah sering terjadi. Ibu dan bapaknya tak pernah akur. Selalu ada saja yang diributkan. Entah masalah besar atau masalah sepele sekalipun. Bahkan jika boleh dibilang, rumah tangga mereka sudah di ujung tanduk. Tapi entah kenapa ibu masih bertahan dengan suami yang seperti itu. Bapak tukang selingkuh, entah dengan tetangga atau dengan lonte-lonte di fly over sana. Selain itu, bapak senang sekali memukul ibu. Bukan sekali dua kali, tapi hampir setiap bapak marah sudah pasti ia memukul ibu. Ibu punya banyak luka memar di tubuhnya, tapi anehnya beliau tetap saja bertahan.

Beni tidak diam saja melihat itu. Terkadang ia bahkan hampir saja beradu pukul jika bapaknya sudah kelewatan. Meski begitu, Beni tetap sakit dan hancur melihat keluarganya yang berantakan. Hampir setiap pagi ibunya menangis. Hampir setiap pagi pula Beni ikut menangis. Ia tak punya kuasa apa pun untuk memperbaiki keadaan. Apalagi dengan kondisi ia yang cacat seperti ini.

Beni memang cacat. Mata sebelah kanannya buta dan tangan kanannya hanya punya empat jari. Cacat itu ia peroleh dari hasil tawuran antawarga. Beni bukan anak yang suka tawuran, tapi waktu itu ada saja kondisi yang membuat ia terpaksa harus ikut tawuran. Dan karena belum punya pengalaman, jadilah ia terkena serangan dari musuh, lalu mata kanan dan tangan kanannya jadi cacat. Itu sudah bertahun-tahun lalu. Sekarang masa itu sudah lewat dan Beni sudah berdamai dengan keadaan.

Beni baru saja lulus SMA. Sebetulnya tidak terlalu baru juga, ia sudah tamat hampir satu tahunan. Dengan kondisi dia yang seperti itu, sulit sekali untuknya mendapatkan pekerjaan. Kita tahu sendiri, di negara ini tidak cacat saja sudah susah mencari pekerjaan, apalagi yang cacat macam Beni. Ia bahkan tidak diterima di ritel semacam Indomaret atau Alfamart. Sangat-sangat diskriminatif sekali. Meski begitu, Beni pernah beberapa kali ikut tetangganya menjadi kuli bangunan dan hanya itu pekerjaan yang bisa ia lakukan. Namun, pekerjaan kuli bangunan adalah pekerjaan yang temporer atau sementara karena jika bangunan yang sedang dibangun sudah selesai, ya pekerjaan selesai pula.

Kini Beni hanya bisa meringkuk di kamar sempitnya, mendengar pertengkaran antara kedua orang tuanya yang kian hari kian parah. Beni bahkan sebenarnya berharap mereka berpisah saja. Jika sudah berpisah, ibu bisa lebih tenang. Tidak lagi takut dan cemas akan kekejaman bapak. Tapi begitulah ibu, Beni tak mengerti akan jalan berpikirnya. Kenapa ia masih mau bersama lelaki yang bejat semacam itu?

Pertengkaran pagi itu berakhir dengan suara piring pecah. Sepertinya bapak sudah minggat entah ke mana. Mungkin ke pos ronda di ujung sana, atau ke mana lah Beni juga tak mau tahu. Setelah mereda, Beni kemudian bangun dan segera melihat kondisi ibunya. Ibu tengah duduk di pencucian piring sembari terisak. Dari belakang, Beni bisa melihat tubuh ibu bergetar menahan tangis. Pemandangan ini sudah sering terjadi, namun hati Beni tetap saja merasa perih melihatnya.


---


Hari ini entah hari ke berapa Beni melamar pekerjaan. Mencoba satu per satu lowongan, berharap salah satunya ada yang bisa menerima kondisi Beni. Namun, kecacatan Beni benar-benar menyusahkan. Belum saja melamar, orang-orang sudah memandangnya dengan tatapan aneh seolah Beni adalah monster. Banyak dari HRD atau bos yang mewawancarai Beni terlihat seperti jijik dengan kondisi Beni. Yang akhirnya menolak lamaran Beni mentah-mentah.

Beni stres. Ia menangis di pinggir jalan. Ia merasa hidupnya sudah tak berguna. Kenapa pula hidupku ditakdirkan sedemikian buruk? pikir Beni. Keluarganya hancur, pengangguran, ditambah dengan tatapan orang-orang yang sangat menyakitkan. Tapi Beni teringat, dia masih punya Suri. Suri adalah pacar Beni yang masih setia dengannya. Mereka sudah menjalani hubungan hampir dua tahun lamanya. Hanya Suri yang Beni punya. Hanya Suri yang bisa menerima semua kekurangan Beni. Suri tidak memandang rendah Beni. Tatapannya tidak seperti orang lain yang memandangnya seperti zombie.

Suri memang tidaklah cantik, ia hanya perempuan biasa dengan dandanan seadanya pula. Beni bertemu Suri untuk pertama kalinya di sebuah job fair di ibu kota beberapa tahun lalu. Untuk pertama kalinya, Beni dipandang sebagai manusia biasa. Suri tidak menunjukkan tatapan meremehkan atau jijik pada Beni waktu itu. Merasa diterima, Beni mencoba berkenalan dengan Suri dan rupanya mereka cocok. Beberapa bulan kemudian, Beni menembak Suri dan mereka berpacaran hingga sekarang.

Sekali lagi, Beni hanya cuma punya Suri sebagai tempatnya pulang. Tapi seakan belum cukup, hidup Beni kembali dihancurkan. Hari itu, Beni melihat Suri tengah bergandengan tangan dengan seorang lelaki di sebuah pusat perbelanjaan. Beni yakin itu Suri. Tak salah. Dari perawakan dan gaya rambutnya tak bisa disangkal itu adalah Suri. Meski sebetulnya Beni tak percaya pada apa yang dilihatnya. Pasalnya, Suri adalah tipikal perempuan setia dan tak mungkin ia berselingkuh. Namun, apa yang dilihat Beni adalah kenyataan. Suri berselingkuh.

Beni hancur sejadi-jadinya. Air mata sudah mengalir membasuh pipi. Beni akhirnya pulang dengan langkah gontai seakan ia tak punya lagi energi untuk hidup. Naasnya, ketika Beni pulang, di depan rumahnya ada beberapa lelaki berpakaian hitam sedang berjejer. Beni tahu mereka. Mereka adalah depkolektor yang akan menagih utang bapak. Beni sudah gemetar, tapi kakinya tetap ia langkahkan.

Bagaimanapun, Beni harus menemui mereka karena sepertinya ibu sedang tidak ada di rumah. Mereka tak akan pergi jika belum mendapatkan apa yang mereka cari. Dengan pelan, Beni mencoba berbicara pada gerombolan depkolektor itu. Tapi, sial tak bisa dihindari, sepertinya para depkolektor itu sedang emosi entah karena apa. Maka berakhirlah Beni dipukuli oleh mereka. Habis muka Beni. Remuk tulang Beni.

Ketika mereka telah pergi, Beni mengumpat dengan sisa tenaganya, lalu tertatih menuju kamar dan merebahkan diri di sana. Beni menatap langit-langit kamar dengan napas terengah. Wajahnya lebam di sana-sini. Tulangnya terasa remuk. Sakit. Sakit sekali. Tapi tak lama, kantuk hinggap di matanya dan Beni tertidur pulas.


---


Beni terbangun ketika mendengar namanya dipanggil oleh ibunya.

“Beni, bangun. Sini makan dulu,” teriak ibu.

Beni membuka mata, melihat ke gorden, dan rupanya hari telah pagi. Selama apa ia tertidur?

Ia kemudian bangun dengan jalan yang pincang. Tapi sejurus kemudian dia sadar, badannya segar dan tak ada sakit di sekujur tubuhnya. Ia meraba wajahnya dan melihat ke cermin, tak ada lebam apa pun. Ada apa ini? tanya Beni dalam benaknya. Bukannya tadi ia merasa sangat kesakitan setelah dipukuli oleh depkolektor? Masa dalam hitungan jam sakit dan lebamnya sudah hilang? Tapi memang begitulah adanya. Sekali lagi, Beni mematut dirinya di cermin dan wajah itu mulus saja seperti biasanya. Tunggu. Mulus? Lagipula mata kanan Beni bisa melihat. Ada apa ini? Belum tuntas Beni memikirkan ini, ibu berteriak lagi.

“Beni!”

“Bentar, Bu.”

Beni kemudian keluar kamar. Di sana, ibu dan bapak tengah sibuk mencentong nasi dengan tenang. Beberapa lauk dan sayur terpampang rapi juga di sana. Beni bertambah heran. Wajah ibu begitu sumringah dan cerah. Bapak juga demikian. Apa mereka telah berdamai? Dan sebentar, bapak mengenakan jas? Dia punya pekerjaan sekarang? Tanya Beni di pikirannya sendiri.

“Sini makan dulu, Ben. Bapak kamu keterima kerja hari ini,” kata ibu kemudian.

Beni yang masih heran duduk perlahan. Ibu mencentong nasi untuk Beni dan menyiramkan kuah sayur serta sambalnya. Banyak sekali pertanyaan dalam kepala Beni yang butuh jawaban.

“Makan dulu, Ben, enak ini buatan Ibu,” ucap bapak dengan mulut penuh nasi.

Sejak kapan bapak jadi baik? pikir Beni. Tak pernah sekalipun bapak melontarkan kalimat dengan nada seramah ini sebelumnya pada Beni. Biasanya ia hanya marah dan marah. Lagipula kapan terakhir Beni dan bapaknya mengobrol?

“Kok melongo, Ben? Makan, ayo,” suruh ibu.

“Bentar, Bu, aku masih bingung,” kata Beni, tidak menyentuh sedikit pun nasi yang dituangkan ibunya.

“Bingung kenapa?” tanya bapak.

“Ini beneran?”

“Beneran apa?” Kini ibu yang bertanya dengan nada heran.

“Kita makan bareng kayak gini.” Beni melanjutkan dengan hati-hati.

Bapak minum air dengan cepat, tersedak. “Lho, tiap pagi kan kita begini. Ya emang ini makanannya lebih banyak dan itu karena Bapak keterima kerja, Ben.”

“Kamu kenapa sih, Ben?” tanya ibu lagi-lagi.

“Beni nggak cacat lagi, Bu.” Beni meraba wajah dan melihat jari tangan kanannya yang lengkap.

“Emang sejak kapan kamu cacat?”

Hari itu jadi hari paling aneh buat Beni. Apa yang salah dengannya, kenapa semua berbanding terbalik dengan apa yang ia alami kemarin? Dan yang paling mencengangkan adalah Suri. Suri hari itu datang ke rumah Beni mengajaknya untuk jalan-jalan sore. Suri terlihat lebih cantik dua kali lipat dari yang diingatnya kemarin.

“Suri, kita mau ke mana?” Beni bertanya.

“Kemana aja, aku kangen.” Suri menyeringai manis.

“Tapi kamu kemarin sama siapa di mal? Sampai gandengan tangan begitu?”

Kening Suri berkerut. “Siapa yang gandengan tangan? Gak ada, ih. Kamu kan tahu kemarin aku sakit. Aku full di rumah. Kita kan VC-an juga.”

Hah? Apa yang tengah dibicarakan Suri? Apa benar demikian? Tapi Beni yakin sekali dengan apa yang dilihatnya kemarin. Ah, itu mungkin memang orang lain, bukan Suri. Lagipula Beni percaya Suri bukan perempuan semacam itu.

Di sepanjang jalan, Beni melihat orang-orang menatapnya dengan ramah. Tak ada tatapan menjijikkan padanya, bahkan orang-orang di jalan melemparkan senyum pada Beni. Oh, betapa indahnya hari ini. Beni tak henti-henti tersenyum. Entah apa yang terjadi, Beni tak terlalu ambil pusing. Toh, bagaimanapun ia merasakan kebahagiaan yang tak pernah ia rasa sebelumnya. Ia percaya, mukjizat memang benar adanya. Semua bisa berubah secepat kilat.

Hari itu berakhir dengan kecupan dari Suri. Ia juga disambut oleh ibu dan bapak yang tengah duduk di ruang tengah sembari menonton televisi. Begitu hangat keluarga ini.

Beni yang agak lelah hanya tersenyum melihat kedua orang tuanya dan segera pergi ke kamar untuk kemudian merebahkan badan. Tak lama, kantuk terbang pada kelopak matanya dan ia terlelap sejurus kemudian.


---


Praaang...

Suara benda pecah terdengar keras. Beni terhenyak, lalu bangun dari tidurnya. Rasa nyeri di pipinya menjalar di otot wajah Beni. Ia mengaduh, mengusap pipinya yang ternyata bengkak. Apa ini? Tanya Beni. Bukankah tadi lukanya sudah hilang? Dan mata kanannya gelap, ia tidak bisa melihat. Bagaimana mungkin ini terjadi? Baru saja beberapa jam yang lalu ia merasa sangat sehat dan tidak cacat, kenapa sekarang seperti ini lagi?

Praaang...

Beni meringis, keras sekali piring itu terbanting.

“Perempuan sialan!!” Bapak menghardik ibu. Kencang sekali hingga terdengar ke telinga Beni.

Plaak... Suara tamparan nyaring dan renyah.

Ibu menangis. Beni hendak bangun tapi tak bisa. Remuk sekali tulangnya.

“Istri tolol!” Bapak sekali lagi membentak.

Ibu menangis lebih keras. Beni pun merasakan air matanya mengalir hangat di pipinya. Ia kemudian kembali meringkuk, meremas bantal sembari terisak. Beni akhirnya sadar, apa yang ia alami tadi hanya mimpi semata. Kehidupan indah yang sempat ia rasakan hanyalah bunga tidur yang tidak nyata. Beni merasa dadanya sesak, sangat sesak. Kenapa mimpiku bisa seindah dan senyata itu? tanyanya.

Beni membenamkan kepalanya lebih dalam. Lalu ponselnya berbunyi dan di sana ada pesan dari Suri yang ternyata ia meminta putus. Beni melempar ponselnya ke sembarang tempat. Ia menangis lebih keras. Di luar kamar, bapak masih tak berhenti menganiaya ibu. Segala kata-kata kotor terlontar tanpa hambatan sama sekali.

Beni menutup matanya keras. Ia ingin kembali tidur. Ia ingin hidup di alam mimpi yang indah tadi. Kehidupan nyata terlalu menyakitkan bagi Beni. Beni mencoba terlelap, tapi tak bisa. Kantuk seakan pergi jauh darinya. Beni kemudian duduk, ia gelisah. Ia butuh sesuatu yang membuatnya tidur.

Setelah pertengkaran di luar selesai, Beni bangun dengan sakit di sekujur tubuhnya. Ia paksakan. Beni keluar kamar. Suara tangis ibunya masih terdengar, tapi Beni tak peduli. Beni lalu keluar rumah dengan jalan sempoyongan. Tubuhnya benar-benar sakit. Brengsek sekali depkolektor itu, batin Beni.

Beni kemudian sampai di sebuah warung. Ia menanyakan obat yang bikin kantuk datang. Si penjaga warung itu bilang tidak ada obat yang seperti itu. Di sana hanya ada obat semacam Ultra flu, Bodrex, dan Paramex, dan itu bukan jenis obat yang bisa bikin mengantuk.

"Ultra flunya tiga," pinta Beni pada si penjaga warung.

Beni ingat pernah minum obat itu ketika ia flu, dan dari semua obat yang ada di warung, Ultra flu cukup kuat untuk mendatangkan kantuk.

Beni kemudian pulang dan menegak obat itu, tiga butir sekaligus. Ia berharap akan tidur dalam beberapa menit ke depan. Setelah minum obat, Beni terlentang di kasurnya. Dada Beni berdebar, ia berharap bisa kembali pada mimpi yang tadi. Jika boleh, bahkan ia ingin mimpi yang lebih indah dari sebelumnya.

Lalu perlahan pandangannya kabur dan ia mulai tertidur.



---


"Beni, bangun." Ibu berteriak.

Beni membuka mata. Ibu tengah menggoyang-goyangkan tubuh Beni. Wajah ibu terlihat panik.

Jam di dinding menunjukan pukul 10 malam.

"Ada apa, Bu?" Beni bangun. Perih sekali wajahnya.

"Bapak lagi dipukulin di luar, cepet tolongin." Mata ibu basah. Ia benar-benar cemas.

Sialan, batin Beni. Kenapa ia kembali ke kehidupan nyata? Kemana mimpi indah itu? Tanya Beni pada diri sendiri.

“Biarin aja, Bu. Biar dia mampus sekalian.” Beni berkata dengan nada yang tinggi.

Plak...

Satu tamparan dari ibu mendarat di pipi Beni. “Itu bapakmu, Ben! Bapakmu!!”

Beni merasakan sakit di pipinya makin menjadi. “Beni udah lama nggak punya bapak.”

“Beni! Jangan pernah kamu ngomong kayak gitu lagi!” bentak ibu.

“Biar dia mati sekalian, Bu. Dia udah nyakitin ibu setiap hari. Apa ibu nggak sadar? Dia cuma lelaki bejat yang kerjaannya cuma judi, ngutang, sama ngentot doang. Mata ibu ke mana selama ini?” Beni menatap mata ibu yang kian basah.

Ibu menangis dan pergi dari kamar Beni. Beni mencoba menyusul dengan pincang. Di luar, suara riuh terdengar, namun Beni benar-benar sudah tidak peduli lagi. Ia mengintip ke luar. Beberapa lelaki yang tempo hari memukuli Beni, sekarang memukuli bapak. Ibu datang ke sana dan jadi bahan pukulan pula. Hati Beni hancur berkeping-keping, tapi ia tak bisa melakukan apa pun.

Beni kembali ke kamarnya. Mencoba menenggelamkan kepalanya lebih dalam. Ia tidak peduli dengan apa pun. Ia terlampau sakit. Ia ingin semuanya lenyap. Beni ingin tidur dan hidup dalam mimpi yang indah selamanya. Dunia nyata sangat bobrok, tidak ada kebahagiaan sedikit pun. Tapi suara berisik dari luar tetap saja terdengar. Beni ingin tidur. Beni sangat ingin tidur. Beberapa saat kemudian, keributan itu selesai dan terdengar suara motor para depkolektor itu menjauh. Beni sedikit lega.

Tak lama, Beni keluar rumah dengan berjinjit pelan. Sebelum itu, dia pergi ke dapur untuk mengambil sesuatu. Beni tahu ia harus ke mana. Beni tahu di mana ia bisa mendapatkan kantuk agar ia bisa kembali kepada mimpi itu.

Di tengah malam, Beni berjalan tertatih. Kepalanya terasa panas entah kenapa. Matanya tak sedikit pun berat, sepertinya ia dikutuk untuk tidak mengantuk lagi padahal ia sangat butuh tidur. Di saat-saat itu, Beni melihat sosok Suri tengah bercengkerama mesra dengan seorang pria di sebuah warung pecel lele.

“Persetan dengan perempuan tolol itu.” Beni meludah ke sembarang tempat. Hatinya seperti ditusuk.

Kemudian ia sampai di tempat tujuan. Beni melihat suasana. Cukup sepi. Ini hampir tengah malam dan Beni merasa ini waktu yang tepat. Beni lalu masuk ke salah satu ruko.

Beni mengacungkan pisau yang ia ambil dari dapur. “Mbak, berikan saya obat tidur sebanyak-banyaknya. Sekarang!!” Beni menyalak.

Seorang perempuan penjaga apotek berbaju putih itu terlihat gelagapan, tak pernah ia dihadapkan dengan situasi ini. Ia lalu mengobrak-abrik rak obat. Tangannya sudah gemetar. Bagaimana tidak? Lelaki yang menodongnya seperti monster, apalagi ditambah matanya buta satu. Macam dajjal saja dia.

Perempuan itu menaruh hampir sepuluh macam obat tidur. Ia tak sempat berpikir, untuk apa lelaki ini merampok obat tidur? Bukankah biasanya rampok lebih membutuhkan uang? Tapi demi melihat pisau yang berkilau itu, si perempuan menurut saja.

Beni memasukkan obat-obat itu ke dalam kantongnya. Hampir penuh. Saku kanan kiri, depan belakang akhirnya penuh.

“Segini doang?” Beni tak berhenti menyalak, mengacungkan pisaunya lebih dekat pada si wanita. “Ada lagi nggak?”

“Sudah, Mas. Nggak ada lagi.” Perempuan itu terengah-engah, kepanikan merajainya.

Tepat ketika itu, leher Beni dicekik dari belakang. Beni berontak sekuat tenaga. Mencoba melepaskan cekikan itu yang terasa makin menguat. Beni mundur, yang akhirnya memaksa si pencekik untuk mundur pula dan akhirnya menabrak salah satu rak obat. Obat-obat berhamburan. Tapi cekikan itu tak berhenti. Beni makin susah bernapas. Namun tanpa ragu, akhirnya Beni menusukkan pisau yang dipegangnya pada tangan itu.

“Aaaah!” Lelaki yang mencekik Beni berteriak kesakitan. Darah bercucuran.

Beni berbalik, menendang lelaki itu dengan keras. Lelaki itu terpental dan kembali menabrak rak obat yang lain. Perempuan di meja kasir menjerit. Beni kalap, ia mendekati lelaki itu yang kini terjatuh kesakitan. Beni tanpa ragu menusukkan pisaunya pada perut lelaki itu. Cukup satu tusukan dan Beni pergi. Si perempuan di meja kasir pingsan.

Beni kembali ke rumah. Ketika ia masuk, ibunya tengah mengompres bapak. Beni hanya diam dan masuk ke kamar lalu mengunci pintunya.

Ibu mengetuk pintu kamar, “Beni, kamu kenapa, Ben?”

“Jangan bangunkan aku!!” Beni berteriak keras.

Beni lalu mengeluarkan semua obat tidur. Beni tersenyum, ia sebentar lagi akan tertidur pulas dan hidup di alam mimpi yang indah itu. Beni tidak sabar. Mulutnya mengeluarkan liur. Beni benar-benar terobsesi dengan tidur dan lenyap dari dunia yang menyakitkan ini.



---


Esoknya, ibu menangis. Ibu terisak sangat dalam. Ia seperti baru saja ditabrak oleh mobil Avanza. Hatinya benar-benar terbelah. Perasaannya kosong.

“Beni...” Ibu menangis.

“Beni...” Ibu menangis.

Beni hanya diam. Mulutnya penuh busa. Matanya terbuka lebar. Badannya kaku. Di sampingnya, obat-obat berceceran tidak karuan.

Beni mati dengan harapan bisa bahagia di kehidupan yang lain.

Komentar