Menyukai Olivia Rodrigo sejak lagu driver license meledak membuat saya seperti bocah fomo yang hanya ingin ikut-ikutan tren. Saya ingat sekali lagu ini hadir di FYP saya seperti banjir—muncul di mana-mana. Setiap scroll, lagu ini pasti melekat pada cuplikan-cuplikannya yang lewat.
Dari sana, saya beralih ke YouTube dan mencari di kolom pencarian, mengetik nama Olivia yang masih asing di telinga saya. Muncullah gambar seorang Olivia yang cantik dan manis, sangat tipe saya sekali—tapi maaf, ini bukan sedang membahas hal itu. Mari kembali ke topik.
Lagu driver license ada di urutan paling atas dengan jumlah penonton yang, jika saya tidak salah, sudah menyentuh angka ratusan juta. Jelas, ini fenomenal. Apalagi lagu itu diunggah belum ada setengah tahun.
Saya kemudian mengklik.
Tak lama, iklan muncul. Maaf, YouTube saya memang bukan premium. Saya masih kaum mendang-mending.
Setelah iklan selesai, musik mulai mengalun dan saya menuntaskan mendengarkan lagu itu tanpa berhenti. Sangat indah. Sangat melekat di perasaan saya.
Kesan pertama yang saya rasakan adalah kelam. Dari pertama lirik dinyanyikan, saya sudah merasakan suasana menyedihkan dari lagu ini. Piano yang dimainkan juga berpengaruh besar atas kesan kelam yang saya dapatkan di detik pertama. Sungguh lagu yang melankolis.
Suara Olivia terasa seperti usapan lembut di punggung saya. Ia seolah sedang meninabobokan saya atas perasaan sedih yang mulai merayap di hati. Vokal Olivia empuk, persis seperti sate maranggi yang saya makan tempo hari. Musik dan suara Olivia jadi semacam pasangan serasi—cocok dan berjodoh. Saya makin larut dari menit ke menit.
Yang paling menarik dari lagu ini adalah kesederhanaan yang dibawa Olivia. Entah dari segi aransemen atau instrumen, lagu ini tidak melibatkan banyak alat musik, serta aransemen pun tidak serumit itu. Meski mungkin, dalam sudut pandang produser, lagu ini juga rumit. Tapi saya orang awam, tidak cakap menilai kerumitan proses pembuatan sebuah lagu.
Dan faktanya, untuk merasakan kesedihan yang mendalam akibat patah hati, kita tak perlu musik yang ramai dan bising. Hanya perlu satu atau dua not piano untuk bisa membuat hati luluh dan sakit dalam waktu yang bersamaan. Saya pun demikian. Patah hati yang dinyanyikan Olivia berhasil tumbuh juga di perasaan saya.
Sebetulnya, pemilihan judul driver license berhasil mengecoh saya pada awalnya. Yang saya tahu, driver license di Indonesia adalah SIM, surat izin mengemudi. Masa iya lagu ini bercerita tentang seseorang yang berhasil mendapatkan SIM untuk pertama kalinya? Kenapa harus dirayakan? Bukannya tinggal sogok lantas bisa dapat SIM? Bercanda.
Naasnya, lagu ini tidak sedemikian bercanda. Ini lagu patah hati paling indah yang pernah saya dengar, sekaligus paling menyakitkan. Olivia, di usia yang masih sangat muda, telah sukses menciptakan lagu megah, dan bahkan lagu ini membawanya memenangkan Grammy—sebuah penghargaan paling bergengsi di dunia musik.
Saya suka lagu ini karena Olivia pandai merangkai lirik, memvisualkannya, dan membuat pendengar terhubung. Judul driver license ini terasa sangat personal, bukan momen besar, yang justru jadi memori indah yang terasa menyakitkan ketika seseorang yang kita cintai telah pergi ke pelukan lain. SIM, lampu merah, mobil putih—semua yang berhubungan dengan kendaraan yang pernah Olivia naiki bersama pasangannya—menjadi monumen yang terpahat dalam ingatannya. Dan saya, sebagai pendengar, juga terbawa dan mulai menguras kenangan-kenangan yang pernah saya rasakan dahulu kala.
Klimaks di lagu ini tiba pada interlude. Nada naik, tempo semakin cepat, yang bisa jadi merupakan isyarat dari Olivia bahwa apa yang ia rasakan sebegitu menyakitkannya. Sebagai pendengar, saya dibawa ke titik tertinggi. Interlude ini begitu menguras emosi. Bahkan Olivia menulis lirik, “God, I’m so blue,” yang berarti ia telah tenggelam dalam kesedihannya yang berlarut.
Akhirnya, apa yang saya dapatkan dari lagu ini adalah kesadaran. Menyadari bahwa bagian tersakit dari patah hati adalah mengingat momen-momen kecil yang justru kadang luput dari pandangan, lalu mulai menangis ketika tahu bahwa momen-momen kecil bersamanya telah digantikan oleh orang baru. Saya mengerti bahwa patah hati bisa sesunyi ini—diam dan hancur perlahan, sembari melihat orang yang pernah kita sayangi sebegitunya bahagia bersama orang b
Komentar
Posting Komentar