POWER RANGERS DAN LAKI LAKI YANG TAK AKAN PERNAH BISA LEPAS DARI MASA KECIL



Hari Minggu, pukul 07.30 pagi. Udara masih segar, embun belum sepenuhnya menguap. Di ruang tengah yang sempit, saya dan beberapa teman sudah duduk bersila di depan televisi tabung yang berdesis halus. Mata kami terpaku pada layar dengan debar kecil yang berdenyut ritmis di dada. Kami tidak sedang menunggu berita, bukan juga sinetron. Kami menunggu sesuatu yang jauh lebih sakral bagi anak laki-laki usia 9 tahun.

Tak lama, apa yang kami nantikan akhirnya tiba. Intro musik bertema kepahlawanan mengalun keras, disertai efek suara boom yang membuat speaker televisi bergetar. Lalu, muncul sesosok figur berkostum warna-warni, melakukan pose khas, siap menyelamatkan bumi dari serangan alien raksasa. Saat itu juga, realitas di sekitar kami—tugas sekolah yang menumpuk, omelan ibu, atau rasa lapar—lenyap begitu saja. Kami lupa waktu. Jam demi jam berlalu tanpa terasa, terserap sepenuhnya ke dalam dunia imajinasi di mana kebaikan selalu menang dan persahabatan adalah kekuatan tertinggi.

Cuplikan masa kecil itu masih menempel kuat di kepala saya, bahkan hingga rambut saya mulai beruban. Bukan hanya karena tayangannya yang seru, melainkan situasi dan kondisinya—suasana persahabatan yang polos, antusiasme murni, dan kebebasan mutlak dari beban ekspektasi sosial—yang membuat ingatan itu bersemayam abadi. Itu adalah momen ketika kebahagiaan bisa dibeli hanya dengan kehadiran teman dan segelas teh manis.

Bagi generasi yang mungkin tidak familier, izinkan saya menjelaskan secara singkat fenomena yang kami sebut sebagai Power Rangers.

Ini adalah serial superhero tentang sekelompok remaja biasa yang dipilih untuk menjadi pahlawan. Mereka mengenakan baju zirah (spandex) berwarna-warni dan helm transparan, melawan monster menggunakan seni bela diri, senjata futuristik, dan robot raksasa yang bisa bergabung menjadi satu entitas besar: Megazord.

Sebenarnya, Power Rangers adalah adaptasi Amerika dari serial Jepang bernama Super Sentai. Di Jepang, genre ini disebut Tokusatsu (singkatan dari Tokushu Satsuei atau efek khusus), yang mencakup judul-judul legendaris seperti Kamen Rider, Ultraman, Metal Heroes, hingga Super Sentai itu sendiri. Formulasinya selalu sama: sekumpulan orang biasa berubah menjadi pahlawan, dilengkapi teknologi canggih, untuk melindungi bumi dari ancaman luar angkasa atau organisasi jahat.

Serial semacam ini meledak popularitasnya pada zamannya. Anak kecil mana yang tidak tertarik pada monster, ledakan praktis, dan pertarungan epik? Ceritanya yang ringan mudah dicerna, sementara efek visualnya—meski kini terlihat kaku dan jauh dari CGI mulus zaman sekarang—terasa magis bagi mata anak-anak tahun 90-an. Bagi kami, itu bukan sekadar efek murah; itu adalah bukti bahwa hal-hal mustahil bisa terjadi.

Saya tumbuh dengan mengidolakan Power Ranger Merah.

Mendapatkan peran sebagai Ranger Merah tidaklah mudah. Itu adalah posisi elit. Saya harus berdebat, bernegosiasi, bahkan kadang beradu jotos ringan dengan teman-teman, hanya untuk mengklaim posisi tersebut. Setiap hari Minggu menjadi ajang negosiasi sengit: siapa yang jadi Merah kali ini? Apakah giliran Budi? Atau jangan-jangan Andi?

Ranger Merah selalu menjadi rebutan karena dialah pemimpin (Leader). Dia dianggap paling berani, paling kuat, dan biasanya menjadi penentu kemenangan di babak akhir saat semua harapan hampir pupus. Bagi anak laki-laki, menjadi pemimpin adalah sebuah kehormatan yang wajib diperjuangkan. Itu adalah validasi pertama kami tentang pentingnya posisi dan tanggung jawab, meski dalam bentuk permainan pura-pura.

Kejadian-kejadian kecil itulah yang menjadi bumbu manis masa kecil, melekat hingga kita dewasa. Dan saya yakin, ini bukan pengalaman saya saja. Ini adalah ingatan kolektif hampir semua lelaki yang tumbuh di era yang sama.

Mungkin inilah alasan mendasar mengapa lelaki tak pernah benar-benar bisa keluar dari masa kecilnya.

Coba lihat media sosial saat ini. Ramainya komunitas kolektor mainan aksi (action figures), replika helm Kamen Rider, poster film lawas, atau konsol game retro bukanlah sekadar hobi memburu barang antik atau gaya-gayaan. Lebih dalam dari itu, mereka sedang mencoba menyimpan kenangan. Tidak ada nilai istimewa pada plastik, resin, atau besi tua tersebut jika tidak ada sejarah yang melekat padanya. Sebuah action figure Power Rangers seharga ratusan ribu rupiah hanyalah benda mati jika dilihat oleh orang awam. Tapi bagi pemiliknya, itu adalah tiket pulang ke masa ketika hidup masih sederhana. Mereka rela merogoh kocek dalam-dalam semata-mata agar tidak kehilangan jejak masa kecil mereka.

Lelaki hidup dalam dua dunia sekaligus, dan seringkali keduanya saling bertabrakan.

Pertama, Dunia Dewasa: dunia yang ia jalani sehari-hari. Dunia tagihan listrik, target pekerjaan, kemacetan, politik yang rumit, dan ekspektasi untuk selalu kuat, stoik, dan sukses. Di dunia ini, lelaki dituntut untuk mematikan sisi emosionalnya demi efisiensi.

Kedua, Dunia Masa Kecil: sebuah ruang rahasia di dalam kepalanya, tempat ia bisa kembali menjadi anak yang bebas, berani, dan penuh imajinasi. Di sini, ia tidak perlu menjadi "kepala keluarga" atau "karyawan teladan". Ia cukup menjadi dirinya sendiri.

Jika kita sadar, lelaki di usia berapa pun—baik itu 20, 40, atau 60 tahun—akan tetap tertarik pada mobil-mobilan, sabuk transformasi, pedang laser, atau video game. Itu bukan tanda ketidakdewasaan (kekanak-kanakan). Itu adalah mekanisme pertahanan diri (coping mechanism). Di tengah dunia dewasa yang keras, dingin, dan penuh tekanan, nostalgia adalah harta karun yang memberi mereka kehangatan. Saat seorang lelaki memegang mainan kesukaannya, otaknya melepaskan dopamin yang sama seperti saat ia meraihnya pertama kali dulu. Itu adalah obat stres yang murah dan efektif.

Sekali lagi, lelaki tidak mau mengubur masa kecilnya. Mereka tidak mau membuang benda-benda yang telah menjadi saksi bisu kebahagiaan mereka saat hidup masih terasa ringan.

Saya masih menyimpan action figure Power Rangers yang dibeli saat saya berusia 8 tahun. Harganya kala itu mungkin setara dengan uang jajan seminggu. Hingga kini, benda itu masih nangkring di rak kamar, sedikit berdebu, catnya mulai mengelupas di bagian siku. Saya tidak ingin membuangnya atau memberikannya pada orang lain. Karena setiap kali mata saya tertuju padanya, ingatan itu menyala.

Saya teringat betapa mudahnya hidup dulu: makan nasi goreng, pergi sekolah, main bola sampai sore, lalu tidur nyenyak. Sangat berbanding terbalik dengan realitas sekarang yang dipenuhi kewajiban berat, kecemasan akan masa depan, dan rasa lelah yang tak kunjung hilang. Mainan itu adalah pengingat bahwa pernah ada masa di mana saya bahagia tanpa alasan yang rumit.

Ada sebuah ironi indah di sini. Semakin dewasa seorang lelaki, semakin ia menyadari bahwa "mainan" itu bukan tentang objeknya, tapi tentang perasaannya. Koleksi itu adalah museum pribadi di kamarnya. Setiap figur adalah pameran dari versi dirinya yang lebih bahagia, lebih optimis, dan lebih bebas.

Jadi, kepada para wanita di luar sana—ibu, istri, atau pasangan—mohon dimengerti.

Relakanlah jika pasangan kalian membeli mainan yang menurut kalian "tidak guna", memakan tempat, atau harganya tidak masuk akal. Jangan melihatnya sebagai pemborosan atau sikap kekanak-kanakan. Lihatlah itu sebagai upaya mereka menjaga kewarasan.

Mereka tidak membelinya karena butuh secara fungsional. Mereka membelinya karena butuh secara emosional. Mereka sedang membeli izin untuk sebentar saja lepas dari beban menjadi "lelaki dewasa". Mereka sedang membeli tiket kembali ke taman bermain imajinasi di mana mereka adalah pahlawan, bukan sekadar pegawai yang lelah.

Jadi, izinkanlah mereka memiliki ruang kecil itu. Biarkan mereka punya rak berisi robot-robotan atau lemari penuh komik. Karena di balik senyum puas saat mereka membuka bungkus mainan baru, ada seorang anak laki-laki di dalam diri mereka yang akhirnya merasa didengar, dihargai, dan bahagia.

Meski harganya mungkin bikin dompet menjerit... wkwkwk.

Komentar