Ibu, hidup jadi lebih berat sekarang

‎


‎Aku lahir sebagai seseorang yang punya ketakutan lebih besar ketimbang tubuhku sendiri. Sedari kecil aku takut banyak hal. Hantu, teriakan, bahkan kentongan. Aku punya ingatan buruk tentang kentongan. Kala aku kecil, desa yang aku diami sedang tidak dalam kondisi damai. Kami berperang hampir setiap hari dengan desa desa lain. Kadang penyebab nya hanya sepele, seperti ejekan antar anak muda atau masalah percintaan yang harusnya bisa di selesaikan baik baik. 
‎
‎Setiap sore, aku dengar kentongan di pukul dan orang orang berlarian panik. Teriakan demi teriakan terdengar ke udara. Aku yang masih berumur 5 tahun hanya diam dengan kepala penuh tanya. Kaki ku gemetar, umur sekecil itu aku belum bisa memproses dengan baik apa yang terjadi. Aku hanya bisa menangis dan akhirnya di bawa orang tuaku ke dalam rumah, mengunci pintu lalu menutup semua lubang. Aku tidak tahu apa yang terjadi, yang pasti, keadaan waktu itu mencekam.
‎
‎Kenangan itu jadi semacam trauma yang hidup bertahun tahun kemudian. Aku tidak bisa jika mendengar teriakan, aku tidak bisa melihat kepanikan, bahkan dalam hal paling buruk, aku benci keramaian sekalipun. Otakku merespon semua yang bising sebagai ancaman yang membuat tubuhku bergetar, keringat turun dan debar jantung memompa lebih cepat. Aku panik jika banyak suara bising. 
‎
‎Dari sana, aku selalu benci keramaian.
‎
‎Aku tumbuh sebagai anak pemalu dan lebih banyak diam. Selain ketakutan yang aku bawa semasa kecil, bentuk fisik jadi alasan lain kenapa aku jadi anak yang tertutup. Tubuhku kurus, ceking, dengan kulit gelap dan rambut lurus. Aku seperti anak tak terurus saking kurusnya. Kelas satu SD, aku sudah punya rasa minder. Aku melihat bagaimana anak anak lain tumbuh dengan begitu baik. Tubuh mereka tinggi, kulit mereka putih dengan rambut yang indah. Aku merasa jadi manusia kerdil dan rendah sebab tubuhku yang tak enak di pandang. 
‎
‎Karena hal itu, aku lebih senang menyendiri. Aku senang duduk di bangku tengah, tidak di belakang ataupun di depan agar tidak mengundang perhatian. Aku suka melihat teman teman sekelas bergurau di luar kelas, tertawa tawa, sementara aku hanya duduk dengan tenang tanpa di ganggu siapapun. Aku merasa tidak pantas untuk mereka. Aku senang melihat anak populer di kerubungi perempuan dan mereka menjerit ketika si anak populer itu menunjukkan keahliannya. Aku senang melihat hal hal itu dari jauh dan tak terlibat di dalamnya. Bukan karena tidak mau, karena aku merasa aku bukan bagian dari mereka. Aku hanya figuran murahan yang tak perlu terlibat banyak adegan.
‎
‎Temanku sedikit, hanya satu atau dua saja. Mereka juga senasib denganku. Jadi anak yang terbelakang, yang tidak pintar tapi tidak bodoh juga. Yang tidak baik, tapi tidak nakal pula. Kami hanya sekumpulan anak anak biasa yang bahkan jika alfa pun, tidak ada yang mencari kami. Kami hanya butiran debu yang kebetulan hinggap di kelas. Aku tak tahu kenapa pikiran semacam ini sudah tumbuh di waktu aku kecil.
‎
‎Aku anak yang sangat menghindari keramaian. Ketika anak anak lain antusias melihat pertandingan bola voli di lapang sekolah, aku lebih memilih ke kantin, duduk memakan jajan 500 an yang terlalu asin. Aku tidak pandai olahraga, meski sebetulnya aku sangat menyukai sepak bola. Kadang ketika jam kosong, ingin sekali rasanya ikut bergabung bersama mereka yang tengah asyik bermain sepak bola di tengah lapang lalu di teriaki perempuan ketika sukses menjebol gawang. Tapi, tak sekalipun aku berani kesana. Aku merasa skill ku tak cukup baik untuk mereka dan takut aku hanya jadi cemoohan. Jadi, aku hanya menarik napas panjang dan berkhayal sedang ada di posisi mereka. Bahkan ketika ada acara kenaikan kelas, dimana orang orang berlomba berdandan agar terlihat menarik, aku lebih memilih di rumah dan berpura pura demam. Sebegitu bencinya aku dengan keramaian.
‎
‎Dengan keadaan yang seperti itu, aku sering jadi sasaran bully. Aku sering di cemooh bahwa aku jelek (meski fakta) aku sering di ejek bahwa aku hitam. Kata kata itu hanya jadi belati yang menancap di perasaan ku dan membuat luka abadi. Tak berani aku membalas mereka, tubuhku kurus, sementara mereka tinggi besar, sekali pukul mungkin aku akan terpental jauh dan mendapat 19 jahitan. Aku memilih menghindar meski rasa sakit ikut di perasaanku. Rasanya begitu rendah dan payah. Menyadari bahwa aku tidak bisa melawan atau membantah kalimat sampah  seperti itu. Dan yang paling menyakitkan, apa yang mereka ucapkan adalah kenyataan.
‎
‎Aku sering berkaca, melihat wajahku yang hitam legam. Mata terlalu besar dengan pipi tiru yang membuatku terlihat seperti kuda kecil. Aku kadang memukul mukul wajahku dan sangat menyesal kenapa aku terlahir dengan wajah yang sedemikian buruknya. 
‎
‎Karena wajah ini pula, kisah sekolahku tak ada indahnya sedikitpun. Aku tak punya kisah asmara seperti anak anak lain yang sedari SD sudah bisa bermesraan dengan perempuan idaman mereka. Jika untuk berteman saja sungkan, apalagi untuk mencari pacar. Aku cukup sadar diri bahwa wajahku tak di inginkan siapapun. wajah seperti ini hanya akan jadi bahan olok-olok. aku sadar dan menyadari hal itu dengan baik.
‎
‎namun dengan segala trauma, ketakutan, dan rasa rendah diri yang aku punya, ibu selalu bisa jadi penawar untuk setiap hal buruk itu. ketika aku dilanda hal hal semacam itu, ibu hadir sebagai sosok yang menenangkan seluruh gelombang. ia yang mengingatkanku betapa setiap manusia istimewa dengan apa yang ia punya. aku di beri tahu bahwa semua makhluk yang di ciptakan tuhan indah dengan caranya sendiri. dan aku, terperangah ketika ibu mengucapkan kalimat itu di sebuah sore.
‎
‎bagiku ibu menjelma sosok yang bukan hanya seorang perempuan, tapi malaikat tanpa sayap yang memberi hidupku warna, cinta dan kasih sayang. ketika aku menangis karena di ejek habis habisan, ibu akan mengusap punggungku, mengajakku ke warung untuk membeli eskrim dan memakannya di teras rumah sembari melihat awan awan berarak di langit sana. ia akan bercerita panjang lebar yang sebetulnya tidak ada hubungannya dengan perasaanku saat itu tapi tetap saja aku dengarkan dan terhibur karenanya. di ujung cerita, dia berkata bahwa dia juga mengalami hal yang sama dulu kala, dan bersedih tak akan membuat hidup lebih baik.
‎
‎ibu adalah sosok sempurna dengan cacat yang ia punya. ia pekerja keras, ia tak malu melakukan apapun selagi bisa tetap membuat anaknya gembira. aku sering melihat ibu terduduk lesu di belakang rumah sehabis bekerja seharian penuh. keringat nya menetes dari dahi menuju pipi untuk kemudian jatuh ke tanah. wajahnya kusam penuh debu. rautnya sayu seperti ia tak ada energi lagi. ketika itu, aku merasa bahwa apa yang aku rasakan, trauma yang aku bawa, rasa Rendah diri yang selalu melekat, tidak apa apa nya di banding apa yang ibu rasakan. 
‎
‎Tapi, ibu sudah jauh sekarang.
‎
‎ketika aku menulis ini, aku sedang berduka. tepat tujuh hari yang lalu ibuku meninggal dan lukanya masih basah merekah di dadaku. di tinggalkan ibu rasanya seperti kita jatuh dari lantai 10 tapi tidak mati, hanya merasakan sakit yang teramat sangat dan sulit untuk kembali pulih. hidup akan berjalan sangat lambat. seolah semua berhenti berputar dan aku di paksa untuk hidup di sana. aku merasakan kekosongan yang teramat hebat. seluruh apa yang aku kenang tentang ibu, tiba tiba saja membanjir ingatanku dan membuat semuanya semakin pahit.
‎
‎aku menulis ini sebab rasa rindu yang bersemayam dalam hati. aku teringat banyak hal tentangnya, aku ingat ketika ibu menggendongku paksa karena perang antar desa bergemuruh. aku ingat sekali raut wajah ibu yang cemas dan tak ingin aku celaka. aku ingat ketika ibu memarahi anak tetangga yang terus terusan mengejekku seolah ia tak ingin darah dagingnya di jadikan bahan olokan. aku ingat ketika ibu memberikan senyum terbaiknya ketika aku takut untuk masuk ke kelas.
‎
‎bu, hidup jadi lebih berat sekarang.
‎
‎meski begitu, andai ibu tahu, sekarang aku sudah tidak takut lagi dengan keramaian, aku sudah tidak malu dengan tubuhku sendiri, aku telah percaya bahwa aku istimewa dengan caraku sendiri dan di suatu saat akan ada yang memandang ku seperti ibu memandang aku. andai ibu tahu, seluruh apa yang pernah ibu ajarkan, ceritakan atau apapun, semuanya membuat aku jadi lebih kuat. membuat aku mengerti bahwa hidup keras dan kita harus lebih keras darinya. 
‎
‎andai ibu tahu, aku sangat ingin kembali duduk dan mendengarkan cerita cerita mu lagi.
‎
‎
‎
‎
‎

Komentar