“Bagaimana kalau nanti nggak jadi apa-apa?”
Ucap seorang teman di sebuah sore yang tenang. Aku terdiam. Kalimat pendek itu ternyata menghunjam lebih dalam dari yang kubayangkan. Aku tak bisa menjawabnya. Mungkin itu memang pertanyaan retoris, atau mungkin sebuah pengakuan diam-diam bahwa kami sedang merenungi sesuatu yang selama ini luput dari pandangan.
Kita semua menghabiskan dua belas tahun—bahkan lebih—di bangku sekolah. Dari SD, SMP, SMA, hingga kuliah. Bagiku, sekolah bukan sekadar kewajiban administratif. Lebih dari itu, ia diklaim sebagai tempat pembentukan manusia: agar kita paham etika, moral, dan pengetahuan; agar kita tahu mana yang baik dan buruk, benar dan salah. Agar kita menjadi manusia seutuhnya.
Di sisi lain, sekolah juga dijual sebagai tiket menuju masa depan.
Sejak kecil, aku selalu ditanya tentang cita-cita. Saat itu, jawabanku selalu ragu. Maklum, referensi anak kecil masih terbatas. Memasuki masa remaja, daftar itu memanjang: pilot, dokter, guru, polisi, tentara. Dengan cepat, aku memilih dokter. Alasannya sederhana dan dangkal: pekerjaan mewah, bergaji besar, dan dipuji banyak orang. Hampir seluruh kelasku menjawab hal serupa.
Namun, memasuki dunia pra-dewasa, cita-citaku mulai mengerucut—bukan karena fokus, tapi karena realitas. Setelah menyadari bahwa jalur menuju profesi dokter membutuhkan waktu panjang dan biaya yang tidak masuk akal bagi kantongku, impian itu kuhapus. Aku bukan lahir dari keluarga berkecukupan.
Aku beralih ke pilihan lain, dan ternyata teman-temanku pun demikian. Menjadi polisi? Katanya harus “menjual sawah” untuk melancarkan proses. Menjadi tentara? Butuh fisik prima yang tak semua orang miliki. Menjadi guru? Gajinya dianggap tak memadai untuk hidup layak. Lalu, tersisa apa untuk masa depanku?
Ketika lulus SMA dan terjun ke dunia kerja, realitas menampar dengan keras. Pekerjaan-pekerjaan yang dulu kami anggap mulia ternyata memiliki kasta tersendiri, dan tidak semua orang diizinkan mendudukinya.
Saat bekerja di pabrik sepatu, aku melihat ribuan buruh bergerak seperti mesin. Apakah mereka bercita-cita menjadi buruh dengan upah di bawah standar minimum? Aku yakin tidak.
Saat bekerja di ritel, aku melihat kasir-kasir yang tertekan. Mereka sibuk melayani, membersihkan, hingga menelan ego saat menghadapi pelanggan yang marah dan berkata kasar. Apakah mereka bercita-cita berakhir di balik meja minimarket? Aku yakin tidak.
Para buruh, kasir, tenaga penjualan, hingga petugas kebersihan adalah orang-orang yang dulu punya mimpi setinggi langit. Mereka tidak pernah berencana berada di posisi ini. Namun, realitas adalah apa yang mereka terima hari ini. Dan masyarakat sering kali meminta mereka untuk sekadar bersyukur.
Terkadang, rasa sesak itu datang tiba-tiba. Dua belas tahun kita bergelut dengan rumus matematika, tumpukan kertas, dan ujian. Jutaan rupiah habis untuk seragam, buku, dan uang pangkal. Lalu, pada akhirnya, kita digaji dengan angka yang barely cukup untuk bertahan hidup? Sangat miris.
Lalu, pertanyaan temanku itu kembali terngiang, lebih keras dari sebelumnya.
“Bagaimana kalau nanti nggak jadi apa-apa?”
Otakku mencoba mencari jawaban logis, tapi hatiku malah membalas dengan pertanyaan lain:
“Sejak kapan kita harus ‘jadi’ sesuatu?”
Mungkin kita terlalu lama diajari bahwa nilai seorang manusia ditentukan oleh gelarnya, jabatannya, atau nominal di rekeningnya. Kita lupa bahwa sebelum menjadi dokter, insinyur, atau manajer, kita adalah manusia. Manusia yang butuh istirahat, yang punya rasa takut, yang berhak gagal, dan yang berhak untuk biasa saja.
Tidak semua benih ditakdirkan menjadi pohon raksasa yang menjulang. Sebagian mungkin hanya semak yang meneduhkan tanah, atau rumput yang menahan erosi. Mereka tidak terlihat megah, tapi mereka tetap ada. Mereka tetap hidup.
Mungkin, “tidak menjadi apa-apa” bukanlah sebuah kegagalan. Mungkin itu adalah kebebasan. Kebebasan untuk tidak terjebak dalam ekspektasi dunia yang lelah, dan akhirnya menemukan kedamaian dalam menjadi diri sendiri—tanpa label, tanpa topeng, dan tanpa perlu membuktikan apa-apa kepada siapa pun.
Sore itu, angin berhembus pelan. Aku tidak lagi merasa sesak. Aku hanya bernapas. Dan untuk pertama kalinya, itu terasa cukup.
Komentar
Posting Komentar