PAKSA (SEBUAH CERPEN)



‎"Bagaimana ini, Bu? Ini sudah melanggar peraturan dan bisa mencoreng nama baik kampung kita," ujar seorang bapak tua yang sedang bersandar di daun pintu.
‎
‎Yang dipanggil Ibu hanya tertunduk lesu menahan tangis. Sesekali ia menoleh kepada anak perempuannya yang juga tak mampu menaikkan wajah barang sedikit pun.
‎
‎"Sabar, Pak," kata Pak RT Samin mencoba menenangkan suasana.
‎
‎Di rumah sempit Bu Yayan, warga desa berkumpul. Mereka sedang mengadili anaknya yang kepergok bermesraan di sebuah rumah kosong di ujung desa bersama seorang lelaki dari kampung sebelah.
‎
‎"Pak RT, ini wajib dinikahkan sesuai hukum yang berlaku di kampung kita. Daripada dosa mereka mengotori seluruh kampung," ucap bapak bertopi merah berlogo banteng dari sudut lain. Ia tampak marah; urat lehernya bahkan terlihat jelas.
‎
‎Bu Yayan terisak. Yani, anak perempuannya, turut menangis tersedu. Sementara itu, si lelaki muda duduk di seberang meja dengan kepala tertunduk. Wajahnya seperti tenggelam dalam rasa malu yang tak bisa dijelaskan.
‎
‎Beberapa jam sebelumnya, Yani dan Dasram sedang asyik bermesraan di rumah kosong tersebut. Rumah itu bekas hunian seorang pejabat desa yang pindah ke kota dan meninggalkan bangunan besar tak berpenghuni. Mereka selayaknya sepasang kekasih muda yang sedang dimabuk asmara, berpelukan ria sampai seorang petani yang pulang dari sawah memergoki mereka. Petani itu lalu memanggil warga untuk kemudian mengarak keduanya keliling desa.
‎
‎Tangis Bu Yayan kian deras, namun segera ditenangkan oleh Pak RT Samin. Betapa malunya ia sebagai orang tua.
‎
‎"Ibu tenang dulu, ya. Pak Yayan bisa dihubungi atau tidak?" tanya Pak RT Samin pelan.
‎
‎Suami Bu Yayan, Pak Yayan, sedang merantau dan telah pergi hampir setengah tahun tanpa kabar. Setelah menerima berita bahwa anaknya diarak keliling desa, Bu Yayan mencoba menelepon suaminya untuk mengambil keputusan, namun sambungan tidak berhasil tersambung.
‎
‎"Saya panggil Pak Kyai saja buat menikahkan anak ini, malam ini juga," kata bapak bertopi merah.
‎
‎"Pak, kami enggak ngapa-ngapain, sumpah," Dasram kini berani berbicara.
‎
‎"Halah, wong kamu sudah kepergok kayak gitu masih ngeles!" Si bapak bertopi banteng menoyor kepala Dasram.
‎
‎"Pak, apa tidak bisa dibicarakan saja? Mereka masih SMP, Pak," Bu Yayan memohon pada Pak RT Samin.
‎
‎Dari balik daun pintu, seorang bapak kembali bersuara. "Ya enggak bisa, Bu. Mereka ini sudah bermaksiat. Bisa jadi kampung ini kena batunya nanti gara-gara kelakuan dua bocah ini."
‎
‎Tak sampai 15 menit, seorang kyai kampung datang dan segera menggelengkan kepala melihat kedua anak itu.
‎
‎"Anak-anak Ibu sudah terlaknat. Kamu, Ibu, yang tidak becus mendidik anak," tunjuk Pak Kyai pada Bu Yayan tanpa tedeng aling-aling.
‎
‎"Mari kita ke musala, kita nikahkan kedua anak ini," lanjut Pak Kyai.
‎
‎Yani dan Dasram enggan. Mereka berontak. Dasram bahkan hampir memukul bapak-bapak yang menariknya paksa. Bu Yayan hanya pasrah dan menangis lebih dalam.
‎
‎Dasram pun menangis. Ia tak punya orang tua untuk membelanya; semuanya telah meninggal dimakan tanah longsor bertahun lalu. Ia tinggal hanya dengan neneknya yang sudah hampir berusia 80 tahun.
‎
‎Di luar, warga tampak begitu ramai. Mereka berkumpul seperti sedang menonton pertunjukan wayang. Gelap telah sempurna melingkupi desa. Yani dan Dasram dibawa paksa menuju musala terdekat. Bu Yayan dan Pak RT Samin mengekor di belakang.
‎
‎Hampir separuh warga desa mengarak kedua anak ini. Hampir semuanya laki-laki, meski ada beberapa ibu-ibu dan anak kecil. Raut wajah mereka geram, seolah tengah menangkap basah maling motor. Padahal, kedua anak ini hanya sedang berpacaran dan sama sekali tak merugikan siapa pun.
‎
‎Tiba di musala, Pak Kyai segera menyiapkan prosesi akad. Ia duduk di tengah musala dengan sebuah meja kecil di depannya. Yani dan Dasram didudukkan di hadapan Pak Kyai. Yani tampak lesu sebab tangisnya telah menyedot seluruh energi. Sementara Dasram kini mulai geram; mimik wajahnya menunjukkan amarah. Ia merasa tak adil dipaksa seperti ini.
‎
‎Di belakang, Bu Yayan terduduk lemah. Ia tak bisa berbuat apa-apa lagi dan hanya bisa menunggu akad diselesaikan. Ia merasa menjadi ibu paling bodoh, paling tidak becus mengurus anak. Lagi pula, ke mana suaminya?
‎
‎Tanpa menunggu dan dilakukan secepat kilat, akad pun diselesaikan. Kedua anak yang baru menginjak balig ini resmi menjadi suami istri sah secara agama.
‎
***

‎Semua berjalan sangat cepat. Yani dan Dasram menjadi keluarga kecil yang hangat. Siapa sangka? Meski umur mereka belum genap enam belas tahun, rupanya pernikahan itu membawa nasib baik bagi mereka.
‎
‎Setidaknya, begitu yang tampak di permukaan.
‎
‎Pada kenyataannya, semua berbanding terbalik. Dasram yang masih bocah tak mengerti bagaimana cara menjadi suami. Ia tak punya bekal apa pun, selain apa yang pernah dilihat dari orang tuanya dahulu. Yani pun demikian. Sebab pernikahan paksa itu, sekolahnya harus putus. Ia bingung dengan usia yang masih belia sementara ia mesti berperan sebagai istri, sesuatu yang tak pernah ia duga-duga.
‎
‎Yang paling kejam adalah sanksi sosial. Yani dan Dasram menjadi keluarga tak terdaftar dalam administrasi negara. Mereka sah secara agama, tapi luput dari pendataan pemerintah. Mereka hanyalah data kosong. Kadang kala, ketika ada bantuan pemerintah, mereka tidak mendapatkan bagian karena masih dianggap sebagai anak-anak.
‎
‎Mereka menjadi keluarga yang dipandang dengan tatapan jijik oleh masyarakat. Gunjingan, ocehan, bahkan makian kerap mereka terima hingga berminggu-minggu kemudian. Yani bahkan hampir setiap hari menangis kepada ibunya karena diperlakukan seperti itu oleh warga. Tak terpikirkan olehnya bahwa hidup akan berubah sedemikian rupa.
‎
‎Sementara itu, Dasram kelimpungan mencari nafkah. Di saat teman-teman seusianya tengah sibuk bermain, Dasram sibuk mengais pekerjaan serabutan. Kadang-kadang ia mengarit, mengambil rumput di tepi sawah. Rumput-rumput itu dijualnya kepada tetangga yang memelihara sapi. Dari satu ikat besar rumput sawah, Dasram hanya mendapatkan uang tak lebih dari Rp20.000.
‎
‎Setiap hari ia mengerjakan hal itu karena tak ada pekerjaan lain yang bisa dilakukannya. Ia bekerja mulai dari pagi hingga tengah hari, lalu pulang untuk mengambil air yang jaraknya hampir 500 meter dari rumah Yani.
‎
‎Bu Yayan tak banyak bicara setelah anak semata wayangnya dikawinkan paksa oleh masyarakat. Ia terus-menerus mengutuk dirinya sendiri karena tak mampu menjaga gadisnya. Akibatnya, ia menjadi pendiam, bahkan terkadang berbicara sendiri tak jelas. Pak Yayan pun tak ada kabar sampai sekarang. Ia seolah hilang ditelan bumi.
‎
‎Keadaan keluarga itu kian kacau hari demi hari. Apalagi ditambah dengan nenek Dasram di kampung sebelah yang mengalami sakit hebat. Bu Yayan, Yani, dan nenek Dasram menjadi tanggung jawab Dasram seorang diri. Ia kelelahan; tubuhnya menyusut waktu ke waktu. Usia sebelia itu tak mampu menahan beban-beban tersebut.
‎
‎Yani dan Dasram sering bertengkar. Semua hal dipermasalahkan, mulai dari hal kecil hingga hal besar, dari persoalan sederhana sampai yang paling rumit. Dasram bahkan kadang berteriak kasar pada Yani yang menurutnya tak kunjung berubah.
‎
‎"Yani, kamu harus bantu saya!" teriak Dasram di suatu sore. "Kamu malah tidur-tiduran terus kayak gini."
‎
‎Yani tak merespons. Ia tenggelam dalam lamunannya.
‎
‎"Saya pontang-panting tiap hari buat keluarga ini. Kamu ngerti enggak sih?" Dasram menodongkan mulutnya ke arah wajah Yani.
‎
‎"Saya enggak pernah mau kayak gini," Yani akhirnya bersuara. "Saya masih betah sekolah. Saya masih pengen main-main."
‎
‎"Siapa yang mau, Yani? Ini sudah kejadian dan mau enggak mau kita harus melanjutkan hidup," Dasram kini frustrasi.
‎
‎Dari arah dapur terdengar suara tangisan. Bu Yayan rupanya yang menangis. Kemudian Yani pergi ke sana dan menangis bersamanya.
‎
‎Dasram membenturkan kepalanya ke daun pintu. Tak pernah terpikirkan dalam benaknya bahwa percakapan berat itu keluar dari mulut dua orang yang bahkan belum lulus SMP.
‎
***
‎ 
‎Kala itu desa sedang ada hajatan. Warga sibuk membuat tenda dan panggung dekat musala. Akan ada pengajian rutin yang dipimpin oleh Pak Kyai. Keluarga Dasram tak diizinkan membantu, atau setidaknya membaur bersama para warga. Mereka tak bisa melepaskan pandangan kotornya pada Dasram dan Yani. Lagipula, Dasram juga tak ingin bergabung; ia hanya basa-basi saja.
‎
‎Setelah semua rapi dan siap, pengajian dimulai sehabis Magrib. Waktu itu Dasram baru saja pulang mengarit. Tubuhnya basah oleh keringat. Wajahnya kotor dan beberapa kulit terluka akibat sayatan tidak terduga. Ia bisa melihat panggung megah berdiri di area musala desa. Lampu kelap-kelip dan sound system yang tampaknya mahal berdiri dengan gagah di sudut panggung. Dasram juga melihat Pak RT Samin sibuk pontang-panting menyiapkan hidangan.
‎
‎Setibanya di rumah, Dasram tak disambut siapa pun. Yani dan Bu Yayan sedang tidur dengan nyenyak. Perut Dasram lapar, namun tak ada hidangan apa pun. Tubuhnya lelah, tapi masih harus mengambil air. Amarahnya begitu memuncak, namun segera ia kubur dan pergi ke teras rumah.
‎
‎Dasram melihat ke arah panggung. Mobil Pajero putih datang dan seorang lelaki tua bersorban putih keluar dengan pelan, diikuti dua asistennya yang keluar dari pintu belakang. Itu Pak Kyai. Kini ia telah punya banyak pengikut dan hartanya naik berkali-kali lipat.
‎
‎Dasram duduk di sana hingga acara selesai. Ia tak mendengarkan apa pun. Bacaan Al-Qur'an, tausiah, dan hiburan di panggung itu tak masuk ke kepala Dasram. Ia terlampau lelah dan benci dengan semuanya. Lalu, warga berebut memberi bingkisan pada Pak Kyai. Ada yang memberi baju, berkat, bahkan emas. Mereka sibuk ingin menciumi tangan Pak Kyai.
‎
‎Kemudian Dasram masuk ke dalam rumah dengan perasaan kosong.
‎
‎Pak RT Samin hendak membagikan berkat ke rumah Bu Yayan. Hampir tidak ada yang peduli selain Pak RT Samin. Ia datang dengan tiga ember berkat yang susah payah ia pegang. Sesampainya di depan rumah Bu Yayan, Pak RT Samin mengetuk pintu. Sekali, tak ada jawab. Dua kali, tetap tak ada jawaban. Hingga akhirnya ia berteriak, namun tetap tak ada jawaban.
‎
‎Didorong rasa penasaran, Pak RT Samin membuka pintu yang rupanya tidak terkunci. Ketika daun pintu itu terbuka, tiga ember di tangan Pak RT jatuh. Wajahnya terkejut, mulutnya terbuka lebar. Ia kemudian berteriak. Warga yang sedang beranjak pulang menghampiri asal suara dan memberi ekspresi yang sama dengan Pak RT Samin.
‎
‎Pak Kyai yang penasaran pun datang dengan dua ajudannya ditemani bapak bertopi merah. Mereka menyeruak di antara kerumunan warga.
‎
‎Pak Kyai hanya bisa menutup mulut melihat tubuh Dasram dan Yani menggantung di langit-langit rumah.
‎
‎Sementara Bu Yayan meringkuk di bawah mereka dengan tubuh bergetar menahan tangis. Ada jeda yang begitu panjang di sana. Jeda itu seolah melemparkan Pak Kyai, bapak bertopi merah, dan Pak RT Samin pada sebuah kenyataan gelap dan pahit.
‎

Komentar

Posting Komentar