Saya bolak-balik memutar bola mata, melihat bagaimana pantai di ujung Jogja ini begitu menawan. Seolah tak ingin kehilangan sejengkal pun sajian alam di hadapan saya. Pasirnya putih bersih, tak sedikit pun hitam atau noda yang menginterupsinya. Seakan ia adalah kanvas yang belum ditulis tinta. Saya melihat jauh ke luasnya laut. Di cakrawala sana, matahari sedang tenggelam.
Manusia dengan berbagai jenis busana hilir mudik, meninggalkan jejak kaki yang sekian detik kemudian hilang dihapus ombak. Ini hari ketiga saya di Jogja. Setelah memutuskan resign dari pekerjaan lama dan mencoba peruntungan di Kota Pelajar yang kemudian gagal, saya pada akhirnya harus menikmati kota ini sebelum saya kembali pulang. Dengan uang pas-pasan dan segenggam modal nekat, saya menjelajah tiap sudut kota sendirian. Tak berharap apa pun, saya hanya ingin menghibur diri sekaligus menebus semua beban yang selama ini tinggal di pundak saya.
Minggu depan saya ulang tahun. Anggap saja ini adalah hadiah ulang tahun dari saya untuk diri saya sendiri. Sepanjang ingatan, saya tidak dekat dengan kata perayaan. Kenaikan kelas, juara, ulang tahun, bahkan Lebaran pun tidak saya rayakan. Semua berjalan seolah hari-hari pada umumnya. Saya tidak menyematkan kata spesial dalam momen-momen tersebut. Segalanya terlewat dengan datar dan kosong.
Namun ada perbedaan yang saya rasakan ketika usia saya akan tiba di angka 25 (dua puluh lima). Bayangkan, dua puluh lima, seperempat abad. Saya tak pernah menyangka akan tiba pada usia ini. Saya pikir angka ini adalah mitos. Faktanya, saya akhirnya sampai dengan selamat di sini. Ada sedikit rasa bahagia, tapi perasaan sesak tak terhindarkan pula.
Pantai ini jadi salah satu pantai paling ramai di antara pantai lain di Jogja. Selain letaknya yang tidak terlalu jauh dari pusat kota, harga yang masuk akal jadi salah satu alasan mengapa pantai ini begitu sesak oleh pengunjung. Saya duduk, sendirian, hampir merebahkan diri di pasir yang, semakin malam, semakin terlihat putih. Helaan napas berat terlontar begitu saja dari hidung ketika saya mengingat ulang tahun saya. Semuanya terasa ganjil. Tetap hidup di era sekarang yang penuh dengan tanda tanya, perang dunia, ekonomi yang merosot, dan kriminalitas, adalah sebuah pencapaian terbaik yang bisa dicapai.
Tapi tak bisa dipungkiri, perasaan ganjil itu demikian kuat di dada saya. Saya teringat bahwa sekarang saya berstatus pengangguran, yang artinya saya tidak punya penghasilan bulan ini dan bulan-bulan ke depan. Setelah beberapa saat, akhirnya saya tahu perasaan ganjil ini timbul dari ketidakmampuan saya mencapai kebahagiaan. Bertahun-tahun bekerja, menguras keringat, membanting tulang, dan tidak menyisakan apa pun membuat saya terlihat menyedihkan. Saya melempar pandangan pada orang-orang di sini, apakah mereka punya pemikiran yang sama dengan saya?
Usia 25 bisa menjadi banyak hal. Ia dianggap tua untuk pekerjaan, tapi terlalu muda untuk pernikahan. Saya cemas tidak bisa cepat kembali mendapatkan pekerjaan karena syarat perusahaan yang selalu mencari anak muda, fresh graduate. Seolah di usia saya sekarang adalah tanda kedaluwarsa, tidak becus bekerja. Hal tersebut sebenarnya telah jadi konflik umum. Harusnya syarat semacam ini sudah tidak relevan. Berpenampilan menarik, maksimal 24 tahun, dan bla bla bla… Saya masih tidak mengerti dengan syarat-syarat aneh semacam itu.
Kecemasan itu bercampur menjadi satu dengan rasa ganjil yang kian kuat saya rasakan. Saya merasa tertinggal. Saya merasa jalan di tempat. Saya seolah masih jauh dari garis finis, sedangkan orang lain sudah hampir tiba di sana. Meski begitu, saya juga tidak tahu sejak kapan hidup jadi kompetisi? Entah propaganda apa yang dilakukan sampai-sampai hidup diukur dari pencapaian orang lain. Padahal kita adalah individu; kita yang menjalani hidup kita sendiri. Berhasil atau tidak, seharusnya tidak jadi masalah. Harusnya begitu, tapi ah, entahlah. Sebagai manusia normal, saya ingin pamer, saya ingin dipuji, saya ingin dihormati dengan kesuksesan yang saya raih sendiri. Mungkin memang begini manusia, penuh dengan paradoks.
Malam telah tiba dan matahari sudah hilang sepenuhnya. Tapi saya tak beranjak barang sejengkal dari posisi ini. Sudah telanjur nyaman. Saya merasakan suhu beringsut turun, diiringi dengan angin yang timbul semilir.
Apa yang harus saya lakukan setelah ini?
Pertanyaan itu hadir begitu saja, macam meteor yang datang tiba-tiba menghantam keselarasan pikiran saya. Saya tak punya jawaban. Saya mau tanya ke orang lain, tapi saya yakin mereka juga tak punya jawaban.
Dan memang, tidak akan ada jawaban apa pun atas pertanyaan tentang masa depan. Masa depan tidak untuk dipertanyakan; ia ada untuk ditempuh, ia ada untuk dituju. Mempertanyakannya tak akan membuat perubahan apa pun. Dengan sukses atau tidak, saya akan sampai di masa depan. Sehat atau tidak, saya akan tiba di masa depan.
Jadi, apa jawaban yang tepat?
Saya akan hidup dengan baik, dengan bahagia, dengan memilih keputusan berisiko agar hidup jadi lebih dinamis. Barangkali hidup manusia memang begini: mencapai masa depan.
Komentar
Posting Komentar