saya menatap layar ponsel yang menampilkan video video lucu, tertawa sebentar untuk kemudian menyadari satu hal. suara takbir menggema dari sudut sebuah mesjid. saya melepaskan pandangan dari benda pipih yang sedari tadi menggulirkan beragam jenis video, pada tembok kamar kost yang sedikit kekuningan. ada sesuatu yang hinggap di perasaan saya.
ini sudah lebaran ke empat saya berada di perantauan. bukan hal besar sebetulnya, sebab yang mengalami hal ini bukan hanya saya. banyak orang yang juga terpaksa tetap tinggal di kota dan rela jauh dari keluarga di momen sakral ini. meski, di titik tertentu, saya merasakan sesak yang tak pernah bisa di jelaskan.
suara takbir di kejauhan seolah jadi pemantik ingatan. banyak memori muncul di benak yang memaksa untuk saya ingat ingat. saya ingat sekali bagaimana lebaran jadi momen yang begitu manis ketika saya masih hidup sebagai anak anak. sebagaimana anak pada umumnya, saya sangat antusias menunggu momen lebaran sebab ada baju baru yang siap di pamerkan. selesai sholat ied, saya bersama ibu dan bapak akan pergi ke rumah nenek. sepanjang perjalanan saya tak henti hentinya tersenyum bangga dengan baju dan celana baru yang saya pakai waktu itu.
sore harinya, saya akan berkumpul bersama teman untuk bermain petasan. sangat menyenangkan. kala itu, lebaran adalah waktu paling sakral dan hangat, semuanya di penuhi kegembiraan dan senyuman.
Di kamar kost ini, saya tidak lagi merasakan lebaran dengan cara yang sama.
dewasa membuat saya harus jauh dari keluarga, dari kakek dan nenek serta teman teman. semua kebahagiaan yang pernah terjadi harus saya kemas untuk saya bawa di kota besar. sekarang, ingatan tentang kebahagiaan itu muncul kembali di picu oleh suara takbiran yang nada nya tak akan berubah sampai kapanpun. sebuah nada yang magis dan penuh kenangan. sebuah nada yang menyimpan banyak perasaan.
saya meresapi suara takbir itu. menutup mata sebagai upaya agar tangis tidak turun. saya ingat keluarga saya, saya ingat bau rumah saya, saya ingat senyum hangat teman teman saya. segala apa yang saya ingat itu hanya jadi belati yang membuat perasaan saya semakin perih. menyadari bahwa kini saya sendirian di kostan sempit, dengan sebuah kipas, dan setumpuk pekerjaan yang menunggu saya selesaikan di esok hari.
dalam ponsel, saya melihat bagaimana teman teman saya tengah berkumpul, mereka seolah memamerkan kebersamaan mereka dan itu membuat saya tidak berdaya. saya merasa jadi orang paling tidak beruntung. ketika orang lain sibuk mengatur waktu berkumpul dan liburan, saya justru sibuk dengan pekerjaan yang tiada ujungnya. saya merasa di permainkan kapitalisme. saya merasa terjebak dalam sebuah ruang yang membuat saya mati perlahan.
ada getar yang tak bisa saya sembunyikan ketika ibu menelpon dari rumah. saya melihat adik saya dan bapak saya sedang bersiap di meja makan. ada beberapa piring dan sebuah cobek dengan sambal merah di atasnya. getar itu perlahan hidup, tumbuh dan memenuhi tubuh saya. air mata seolah tiba begitu saja di pelupuk mata. ketika satu air mata jatuh, kamera saya palingkan ke arah lain. saya tidak mau terlihat sedih di depan orang tua saya.
mungkin saya cengeng. mungkin saya payah. di luaran saya, bisa jadi lebih banyak manusia yang mengalami hal lebih buruk daripada saya. tapi, terlepas dari itu, saya memang menangis. saya ingin hadir bersama mereka disana, berkumpul, tertawa dan lahap memakan masakan ibu.
takbir masih berkumandang, bahkan lebih keras dari sebelumnya. aku melepaskan semua yang aku pegang. membiarkan saya hanyut dalam kesedihan dan perasaan kelabu lainnya. membiarkan saya tenggelam dalam lautan kenangan yang membanjir ingatan saya. saya tidak ingin seperti ini. saya ingin pulang dan memeluk semua yang masih saya miliki disana.
Komentar
Posting Komentar