Sebagai seseorang yang menyukai stand up comedy, saya selalu antusias dengan film-film yang dibintangi para komika. Entah komika favorit saya atau bukan, saya akan tetap menontonnya sebisa mungkin—entah secara legal atau ilegal, yang kebetulan dalam tulisan ini saya tonton secara legal (ekhm).
Film Pesugihan Sate Gagak dibintangi oleh tiga tokoh utama: Yono Bakrie, Adit Erwandha, dan Benedictivity. Ketiga manusia ini adalah komika jebolan Stand Up Comedy Indonesia Kompas TV. Semuanya saya kenal—bukan secara personal tentu saja. Maksud saya, saya mengikuti karier mereka sejak awal. Dari Benedictivity, Adit, hingga Yono. Ketiga komika ini punya jenis komedi yang berbeda, tapi bagi saya, ketiganya adalah selera saya. Kecuali Beny (khusus buat wajah).
Film ini bercerita tentang tiga sahabat: Anto, Dimas, dan Indra yang masing-masing memiliki masalah ekonomi. Ketika mereka sudah benar-benar buntu, mereka menemukan satu cara agar masalah mereka bisa selesai: pesugihan.
Yap, film ini sederhana. Tapi mari saya ceritakan bagaimana film ini tetap terasa menarik dengan premis yang sebenarnya klise.
Film ini menawarkan cerita yang sederhana, namun punya makna yang menyentuh sisi paling rentan manusia. Terkadang, himpitan ekonomi membuat manusia gelap mata. Bukan keinginan, namun keadaan yang memaksa mereka seperti itu. Karena yang saya yakini, setiap manusia punya nurani yang berfungsi sebagai kompas moral. Pada saat-saat terdesak, manusia rela melakukan segala cara agar mampu untuk bertahan hidup, termasuk merusak kompas moral tersebut.
Dan pesugihan adalah jalan paling mudah, meski di sisi lain juga terasa tidak masuk akal.
Zaman modern sebenarnya menawarkan banyak cara agar kita bisa mendapatkan pundi-pundi rupiah. Tapi dalam film ini, mereka memilih pesugihan sebagai jalan pintas. Pesugihan sendiri memang seperti rahasia umum di Indonesia. Ia sering disebut-sebut, tapi tak pernah benar-benar terbukti secara nyata. Banyak jenisnya. Sebut saja tuyul, babi ngepet, bahkan pesugihan yang mengharuskan kita bertapa di tempat keramat.
Ketiga sahabat ini kemudian melakukan ritual pesugihan sate gagak. Ritualnya sederhana: mereka hanya perlu membeli burung gagak, membuatnya menjadi sate, lalu menjualnya di tempat keramat. Syaratnya hanya satu—mereka harus telanjang.
Di sinilah film ini mulai benar-benar mengocok perut.
Hanya dengan ritual itu mereka akhirnya bisa mendapatkan uang melimpah. Semua tampak berjalan lancar. Mereka mendapatkan uang, dan satu per satu masalah mereka selesai. Namun, seperti semua ritual pesugihan pada umumnya, selalu ada konsekuensi yang harus dibayar.
Hantu-hantu mulai meneror mereka hingga ke dunia nyata ketika ketiga sahabat itu memutuskan untuk berhenti menjual sate gagak.
Film ini menawarkan komedi yang lepas dan liar. Sebagaimana yang kita tahu, horor dan komedi adalah medan yang cukup sulit ditaklukkan oleh para sutradara. Sebab sebuah film yang memiliki unsur komedi, jika berlebihan, bisa membuat nuansa horornya hilang dan membuat penonton merasa bingung dengan arah filmnya.
Dan itu pula yang saya rasakan di film ini.
Komedi dalam film ini benar-benar mendominasi. Bahkan jika saya hitung, paling tidak ada satu komedi yang terselip di setiap scene. Hal ini membuat film ini kehilangan nuansa horor yang sebenarnya coba dibangun. Meski begitu, saya tetap menikmati filmnya karena komedi-komedi yang dibawakan terasa segar dan tidak cringe.
Namun sang sutradara tetap terlihat cukup serius dalam menghadirkan unsur horor. Hal itu terlihat dari bagaimana kostum dan make-up hantu dibuat dengan sangat serius. Mereka terlihat seperti hantu sungguhan, tidak dibungkus dalam komedi juga. Mulai dari pocong, genderuwo, hingga kuntilanak dan tuyul yang tetap terasa menyeramkan.
Di sini saya bisa menangkap bagaimana sang sutradara ingin menghadirkan film komedi dengan balutan horor—bukan film horor yang dibalut komedi.
Secara teknis, film ini memberikan pengalaman menonton yang ringan. Tone warna, angle kamera, bahkan plot-nya dibuat seringan itu, seperti film komedi pada umumnya. Tidak ada plot twist, tidak ada ketegangan yang benar-benar kuat—hanya komedi dan komedi.
Bahkan di scene ketika ketiga sahabat itu bersitegang karena salah satu dari mereka ingin berhenti, atmosfer ketegangannya tidak terasa kuat. Saya hanya melihat dua orang bertengkar dan satu orang menjadi pelerai. Tidak ada emosi dan urgensi yang benar-benar dibangun sebagai penunjang klimaks.
Terlepas dari itu semua, sepanjang film saya hampir tidak berhenti tertawa. LPM (laugh per minute)-nya terasa padat, tidak memberikan kesempatan pada penonton untuk bernapas. Semuanya penuh komedi.
Jujur saja, sebenarnya film ini tidak masuk dalam watchlist saya meskipun pemerannya para komika. Namun ketika secara tidak sengaja akhirnya saya menonton film ini, saya dibawa pada kelucuan yang membuat saya melupakan kehidupan saya sejenak.
Segala masalah yang saya punya di kepala mendadak tergantikan oleh tawa.
Dan akhirnya, film ini membuat saya paham bahwa hidup—seberat apa pun—kadang bisa kita tertawakan.
Komentar
Posting Komentar