MATA YANG INDAH (SEBUAH CERPEN)




‎Rendra melirik mata kekasihnya sekali lagi. Bola mata itu cemerlang dan bersih seperti langit pagi. Ada campuran warna yang berpadu, membuat sepasang mata indah nan elok. Rendra selalu suka dengan mata kekasihnya itu; bahkan pada awal pertemuan, mata tersebutlah yang menjadi daya tarik paling utama.

Angin sore berhembus, menerbangkan daun-daun kering di taman. Bunyi gesekan daun-daun itu merambat ke telinga sepasang kekasih yang hendak berpisah. Rendra menggeser duduknya lebih dekat, namun si perempuan menjauh satu sentimeter ketika Rendra mencoba mendekat. Entahlah, si perempuan sedang tak ingin terlalu dekat dengan Rendra kali ini.

‎Ini adalah sore terakhir mereka bertemu. Setelah ini, mungkin tiga jam lagi, Rendra akan terbang ke Inggris untuk melanjutkan pendidikan. Ia mendapatkan beasiswa setelah proyek akhir kuliahnya menarik perhatian kampus di sana. Diberi kesempatan emas, Rendra tak ingin melewatkannya. Kapan lagi ia bisa terbang gratis ke negara tempat klub sepak bola favoritnya bertanding?

‎‎Namun jelas, si perempuan tak ingin Rendra pergi. Siapa juga yang rela melepas kekasihnya ke negara asing yang jauh? Mereka telah menjalin hubungan tak kurang dari lima tahun. Telah merencanakan masa depan sejak jauh-jauh hari, bahkan mereka sudah memilih tempat untuk melangsungkan pernikahan. Dan sekarang, rencana-rencana itu nyaris di ambang pupus.‎

‎Si perempuan merasa air matanya tak sanggup lagi ia bendung.

‎Lalu satu tetes air mata jatuh dari mata kanan si perempuan setelah tiga puluh menit mereka duduk di bangku taman sore itu.

‎Rendra menarik napas panjang, melemparkan pandangannya pada dahan-dahan kering. Ia juga tak ingin jauh dari kekasihnya, tetapi kuliah di Inggris dengan beasiswa penuh? Sungguh, Rendra merasa akan menyesal seumur hidup jika tak mengambil kesempatan ini.

‎Namun melihat kekasihnya yang kini telah berlumuran tangis membuat hati Rendra menciut. Rendra telah mencintai gadis ini selama hampir satu dekade, dan perasaannya tak berubah barang sedikit pun. Bahkan, jika boleh berlebihan, cinta Rendra telah habis pada perempuan ini. Ia tak bisa lagi mencintai perempuan lain.

‎“Sayang, aku kuliah cuma empat tahun. Sebentar saja, setelah itu kita menikah.” Di sela isak tangis si perempuan, Rendra berbicara dengan nada paling lembut.

‎Si perempuan tak menggubris sedikit pun. Ia malah menangis lebih deras. Sungguh, air matanya telah merusak keindahan bola mata yang ia punya.

“Sayang,” Rendra kembali berkata, kemudian mengusap pelan punggung kekasihnya.

‎“Kamu kan tahu, umur ibuku sudah enggak panjang lagi.” Ketika mengatakan itu, punggung si perempuan bergetar hebat. Tangisnya pun tumpah sempurna.

‎Rendra tahu hal itu. Ibu kekasihnya mengidap kanker, dan umurnya telah divonis tak kurang dari empat bulan.

‎“Dra, aku pengin penuhin permintaan ibu aku sebelum dia pergi, dan kita sudah bahas hal ini berkali-kali.” Kini si perempuan menengok pada Rendra, memberikan tatapan paling tragis yang pernah Rendra lihat dari mata kekasihnya.

‎Si perempuan melanjutkan, “Kamu enggak bisa egois begini, tiba-tiba mau pergi ke luar negeri tanpa mikirin apa yang sudah kita rencanakan.”

‎Rendra menunduk, tenggelam dalam kebingungan. Beasiswa ini memang datang tiba-tiba. Setelah ia menyetorkan proyek yang ia garap sebagai tugas akhir, beberapa hari kemudian sang dosen menelepon Rendra, mengatakan bahwa kampus di Inggris tertarik dengan proyek yang ia buat dan ingin segera Rendra bergabung karena akan ada kontes bulan depan. Rendra sempat terkejut dan bertanya apakah beasiswa ini bisa diundur. Sayangnya tidak. Beasiswa ini dirancang untuk orang-orang jenius seperti kamu, ucap dosennya. Bahkan, dua hari kemudian pihak kampus telah memesankan tiket pesawat untuk Rendra.

‎Lalu tibalah sore ini. Sore ketika ia telah mengambil keputusan paling besar dalam hidupnya. Rendra bahkan telah memikirkan keputusan ini berkali-kali. Ia juga sudah meminta saran orang tua, teman, Tuhan, bahkan ChatGPT sekalipun. Dan pilihan terbaik adalah mengambil kesempatan ini.

‎“Sasha,” panggil Rendra kepada perempuan di sampingnya yang masih tersedu-sedu. “Aku sayang sama kamu, tapi aku juga enggak bisa melewatkan kesempatan ini. Kamu juga tahu, aku lahir dari keluarga yang kurang mampu, dan kesempatan semacam ini enggak bakal datang dua kali buat aku,” lanjut Rendra.

‎Sasha bergeming. Desir angin sore terasa dingin menyapu air matanya yang perlahan mengering.

‎“Aku yakin ibu kamu bakal bertahan sampai ngelihat kita menikah,” Rendra kembali berkata.

‎“Kamu enggak lihat sudah separah apa kondisi ibu aku? Kamu juga dengar sendiri kan dokter ngomong apa?” ucap Sasha tegas. Ia merasakan adrenalinnya perlahan naik ke pucuk kepala.

‎“Suatu malam ibu aku bangun dan nangis pengin ngelihat aku menikah,” kata Sasha dengan suara gemetar. “Dan setelah itu aku enggak ingin hidup aku dirongrong penyesalan karena enggak bisa menuhin permintaan ibu. Sudah cukup aku enggak bisa nepatin janji ke bapak.” Sasha menatap langit, mencegah air matanya kembali turun.

‎Rendra tahu ke mana arah pembicaraan ini. Mungkin ia egois, mungkin ia memang hanya peduli pada hidupnya sendiri. Namun kesempatan ini pun akan menjadi penyesalan yang hidup di pundaknya bertahun-tahun kemudian jika tak ia ambil.

‎Dua manusia itu kemudian terdiam, membiarkan udara sore berbicara lebih banyak. Terkadang cinta memang rumit. Terkadang cinta juga menjadi alasan dua manusia membenci satu sama lain. Rendra masih sangat mencintai Sasha, begitu juga dengan Sasha. Ia tak ingin menikah dengan lelaki selain Rendra. Namun ibunya selalu lebih penting daripada apa pun, bahkan mimpi kekasihnya sekalipun.

‎“Aku berangkat malam ini,” ucap Rendra, memecah keheningan yang baru saja hinggap di antara mereka.

‎Hening kembali. Sasha tak menjawab.

‎“Aku harap kamu bisa terima. Aku harap kita bisa ketemu lagi. Aku akan ambil beasiswa ini,” kata Rendra seperti seorang pejuang yang hampir mati di medan perang. Bohong jika Rendra tak sedih, bohong jika Rendra tak ingin menangis. Sejak tadi ia menahan air matanya sekuat mungkin.

‎Sasha menghela napas. “Semoga kamu baik-baik saja di sana. Semoga kamu bisa mendapatkan apa yang kamu impikan.”

‎Sasha kemudian beranjak dari bangku taman, membalikkan badannya menghadap Rendra. Mereka saling tatap selama beberapa detik. Mata indah Sasha telah kembali; Rendra bisa melihat itu, meski mendung masih bergelayut di kedua mata kekasihnya.

‎Sore hampir habis. Matahari perlahan tenggelam di ufuk barat dan berganti warna. Cahaya jatuh pada daun-daun, dahan, burung kenari, bangku taman, dan kedua manusia itu.

‎Sasha menyodorkan tangannya pada Rendra. Dengan ragu dan gugup, Rendra menerima sodoran itu.

‎“Terima kasih. Sehat selalu buat kamu,” ucap Sasha, lalu pergi.

‎Rendra akhirnya menangis deras.

‎
‎****

‎

‎Rendra tengah duduk di indekosnya yang hangat dengan secangkir kopi yang masih mengepul, sembari melihat salju berguguran. Ia menatap jendela yang menampilkan pemandangan indah.

Sebuah notifikasi berbunyi dari ponselnya.

Sebuah pesan dari teman.

Sebuah unggahan Instagram.

Rendra mengkliknya, lalu sebuah foto muncul jelas di layar ponselnya.

Sasha tengah duduk di pelaminan bersama seorang lelaki yang tak Rendra kenal. Mereka tampak bergembira dengan senyum yang merekah. Mata indah Sasha terlihat bersinar; riasannya membuat ia tampak lebih cantik.

Ibu Sasha berada di tengah kedua mempelai, duduk di kursi roda dengan sebuah kupluk yang menutupi kebotakan rambutnya. Meski raut wajahnya tak lagi menandakan kehidupan yang kuat, Rendra tahu ibu Sasha sangat bahagia melihat anaknya menikah sebelum ia pergi. Senyum beliau terlihat tulus dan penuh arti.

‎Rendra menarik napas panjang, teringat pertemuan terakhirnya dengan Sasha di taman. Rendra masih mengingat jelas mata indah Sasha—sampai kapan pun.


‎

Komentar

Posting Komentar