5 MENIT (SEBUAH CERPEN)

‎Aku berdiri di antrean. Tiga orang tengah bertransaksi di depanku. Suara scanner dan obrolan terdengar samar. Aku masih tenang berdiri, menunggu giliranku tiba.
‎
‎Dadaku entah kenapa berdebar keras, seperti ada sesuatu yang menggebu di dalamnya. Entahlah. Dengan satu botol minuman dingin di tangan, aku merasakan perasaan yang menyenangkan.
‎
‎Lalu antrean berkurang. Satu orang selesai melakukan transaksi. Aku maju satu langkah, lebih dekat ke meja kasir.
‎
Aku menengok ke kanan dan kiri. Minimarket ini lumayan ramai. Tak peduli siang, sore, atau malam, pengunjung berdatangan seperti tak ada habisnya. Suara AC dan decit sepatu memenuhi ruangan yang luas ini.
‎
‎Setelah beberapa menit, akhirnya giliranku tiba. Kasir itu masih fokus ke arah layar, sembari mengarahkan scanner ke belanjaanku.
‎
‎“Ada tambahan lagi, Kak?” tanya kasir itu sambil menengok ke arahku.
‎“Eh,” setelah dia melihatku, hanya kalimat itu yang keluar dari mulutnya, sembari tersenyum manis.
‎
“Gak ada,” ucapku, membalas senyumnya.
‎
‎Percayalah, sebetulnya aku ingin mengucapkan banyak hal. Tapi mulutku seakan terkunci—kuncinya sudah dibuang ke Bantargebang. Kata dan kalimat seolah pergi, entah ke mana. Otakku beku, sedingin daging ayam frozen di kulkas ibuku.
‎
‎Aku sudah menyiapkan banyak kata sebelumnya, tapi naas sekali, di hadapan kasir perempuan ini aku mati kutu. Aku hanya bisa menatap senyumnya dan melihat rambut sebahunya berkibar halus. Ada warna oranye di ujung-ujung rambutnya, membuatnya tampak semakin memesona.
‎
‎Tiba-tiba waktuku habis, dan antrean di belakang sudah mengular.
‎
‎Aku berjalan keluar dari minimarket itu dengan napas panjang, seolah baru saja melewati kegagalan besar. Ini sudah kali keenam aku mencoba bercakap dengan kasir itu, tapi tak sekalipun aku bisa berbicara panjang dengannya.
‎
‎Sebagai pelanggan dan kasir, aku hanya punya lima menit untuk berbincang—atau setidaknya mendapatkan informasi tentang dirinya. Sangat sulit. Ditambah aku yang sangat payah.
‎
‎Aku hanya punya lima menit untuk tahu namanya.
‎Aku hanya punya lima menit untuk tahu dia tinggal di mana.
‎Aku hanya punya lima menit untuk membuktikan keberanianku.
‎
‎Kasir ini punya kulit eksotis. Tidak putih, tapi juga tidak masuk kategori hitam. Ia manis dan sangat mencolok bagiku. Rambutnya rapi, lurus, jatuh di bahunya. Senyumnya kecil dan hangat.
‎
‎Sejak ada dia, aku jadi sering ke minimarket itu. Aku mencari-cari alasan untuk kembali ke sana. Pengen beli ini, pengen beli itu, padahal tidak ada urgensinya. Kalian tahu sendiri, orang yang jatuh cinta memang demikian.
‎
‎Setelah bertahun-tahun hidup, aku tak ingin ada penyesalan. Aku sudah sering dipukul penyesalan, dan berkali-kali pula aku babak belur dibuatnya. Kali ini, aku tak ingin itu terulang. Bagaimanapun, aku harus berkenalan dengannya.
‎
‎Di kamar tidur, aku merancang banyak kalimat untuk kuucapkan dalam lima menit itu. Aku tak ingin membuang waktu. Aku ingin memanfaatkannya sebaik mungkin. Entah bagaimana kelanjutannya, aku tak peduli—yang penting aku berani, setidaknya untuk diriku sendiri.
‎
‎Malam itu aku tersenyum kecil, tak sabar menunggu hari esok. Aku telah memikirkan skenario yang paling sempurna.
‎
‎***
‎Esok hari, siang tengah terik, aku tiba pada giliranku untuk bertransaksi.
‎
Aku terkejut.
‎Kasirnya bukan dia.
‎
‎“Mbak yang itu ke mana?” tanyaku.
‎
‎Kasir itu berhenti, menengok ke arahku.
‎“Yang mana, Kak?”
‎
‎“Yang rambutnya sebahu,” kataku.
‎
‎“Oh, dia udah resign. Kemarin hari terakhirnya,” jawabnya.
‎
‎Aku terdiam, bahkan setelah keluar dari minimarket itu.
‎
‎Aku bukan siapa-siapa baginya.
‎Aku bahkan belum berkenalan dengannya.
‎Namanya pun aku tak tahu.
‎
Tapi kalian mungkin pernah merasakan sesak semacam ini?
‎
Ya, Aku kehilangan lima menit yang krusial itu.

Komentar