Selepas meeting sore itu, aku memandang langit yang gelap. Rintik gerimis jatuh pelan. Suara klakson bersahut-sahutan, seolah mereka tak punya waktu lain selain segera meninggalkan jalanan.
Namun aku masih berdiri dengan lunglai. Meeting tadi menyedot seluruh energiku sampai habis. Kepalaku memanas seperti mesin mobil yang terlalu lama dinyalakan. Waktu menunjukkan pukul lima sore, hampir setengah enam, tapi langit telah hitam sepenuhnya.
Aku menghela napas panjang. Bahuku merosot, seakan ada beban yang menariknya ke bawah—beban tak terlihat, beban yang selama ini hidup di pundak. Aku melangkah maju, menengadahkan tangan. Tetesan air jatuh. Gerimis masih deras. Aku merapatkan hoodie hitam H&M pemberian seseorang. Tas selempang kusam kusembunyikan agar tak basah. Lagi, aku menghela napas. Kali ini lebih panjang.
Aku memesan ojek online. Lima belas menit kemudian, aku tiba di stasiun. Lautan manusia dengan ekspresi beragam menyambutku. Mereka bergegas entah ke mana, seperti sedang diburu sesuatu. Langkah-langkah cepat, panik, rusuh. Apakah stasiun selalu seperti ini? Tak bisakah mereka memelankan langkah dan menjadi biasa saja? Keramaian ini membuatku resah.
Tujuh menit setelahnya, aku berdiri di gerbong tiga KRL. Tanganku menggenggam pegangan yang tergantung. Kanan kiriku penuh oleh manusia. Wajah-wajah kelelahan berderet tanpa sapa. Sesak—sangat sesak. Ini jam pulang kerja. Napasku bahkan sempat tertahan.
Hujan di luar makin deras. Kaca KRL basah oleh tetesan yang menghantam tanpa henti. Dua jam kemudian, aku berdiri di depan pintu kos. Kubuka pintu, menyalakan lampu, lalu menekan tombol kipas angin. Meski udara dingin, aku tak bisa tanpa kipas. Entah kenapa—barangkali kebiasaan—yang jelas itu membuatku nyaman.
Aku melepas pakaian dan terduduk diam. Lelah. Sangat lelah. Kurebahkan tubuh, memejamkan mata, berharap kantuk datang. Namun kepalaku justru dipenuhi pertanyaan.
Apa ini hidup yang aku mau?
Pertanyaan pendek itu menyerang tiba-tiba.
Jika harus kujawab: ini bukan hidup yang aku mau. Siapa pula yang ingin hidup dengan tekanan setinggi Gunung Fuji, sementara gajinya bahkan tak menyentuh UMR? Mendekati saja rasanya terlalu jauh.
Sebelum terjebak di sini, kegagalan telah lebih dulu menjadi kebiasaan. Aku ingat saat lulus SMA—antusias mendaftar kuliah, menyiapkan berkas, tinggal menunggu tes. Namun orang tua tak mengizinkan karena keadaan ekonomi. Mimpiku tentang bangku kuliah harus kuhapus sedari dini. Menyakitkan. Tapi aku menenangkannya dengan berpikir: banyak anak muda lain yang tak bisa kuliah sepertiku. Bukan hal besar, kataku waktu itu.
Lamaran demi lamaran kulayangkan. Aku tak punya impian. Setelah lulus SMA, aku hanya membayangkan bekerja di pabrik, menerima gaji bulanan, mungkin membeli kendaraan untuk sehari-hari. Hidup seperti orang normal. Aku tak bermimpi menjadi orang besar, bekerja di perusahaan ternama, duduk di depan komputer seharian dengan gaji dua digit. Aku harus realistis—ijazah SMA menahanku untuk bermimpi terlalu tinggi.
Sejak kecil aku memang bukan orang ambisius. Aku biasa saja. Aku hanya ingin hidup cukup, tanpa direpotkan oleh apa pun. Saat teman-teman berlomba menjadi yang terbaik, aku berjalan pelan, menikmati apa yang kupunya, tak memusingkan mereka yang mengejar sesuatu. Aku belum tahu bahwa dunia akan menganggap sikap itu sebagai kelemahan. Aku baru mengerti bahwa hidup menuntut ambisi, menuntut mimpi yang jauh. Tanpanya, manusia dianggap tak berguna.
Masalah muncul ketika aku tahu aku mengidap buta warna parsial. Aku baru menyadarinya saat sebuah tes di PT melemparkanku pada kenyataan itu. Aku masih bisa melihat warna, hanya saja beberapa di antaranya sulit kubedakan. Sejak saat itu, masuk PT menjadi hal paling mustahil bagi penyandang buta warna.
Aku ditolak berkali-kali. Gagal, lagi dan lagi. Entah mengapa PT memasang syarat yang terasa ganjil—mataku masih jelas, bahkan tanpa minus. Namun buta warna ini menjadi alasan atas hampir semua kegagalan. Aku tahu pekerjaan bukan hanya PT, masih banyak jalan lain. Tapi rasa sesak karena gagal terus menghantuiku setiap malam.
Aku sempat menganggur berbulan-bulan. Pernah mencoba menjadi sales obat herbal, menjelajah kota, mengetuk pintu demi pintu, hanya untuk diusir. Lalu berganti menjadi petugas parkir di sebuah mal besar. Tak lama, itu pun selesai—ada satu dua kejadian. Aku dinilai tak becus. Aku dinilai malas.
Umur bertambah, dan aku masih tak tahu ke mana hidupku akan dibawa.
Aku memandang langit-langit kos yang usang. Menyetel lagu dari Perunggu, lalu termenung. Seperti kata Osamu Dazai, orang-orang gagal tak punya kaki untuk melangkah; mereka hanya punya ketakutan untuk memulai kembali. Aku adalah orang gagal itu.
Aku gagal sebagai anak.
Aku gagal sebagai lelaki.
Aku gagal merapikan hidupku sendiri.
Mungkin karena itulah, di usia seperempat abad ini, aku tak pernah sungguh-sungguh memikirkan pernikahan. Aku tak cukup berani mengajak seorang perempuan masuk ke dalam hidupku yang berantakan. Aku tak sanggup melihat orang yang kusayang harus ikut hidup susah. Aku merasa belum cukup—untuk siapa pun, bahkan untuk diriku sendiri.
Lagu Perunggu masih terputar ketika mataku tiba-tiba panas. Air menggenang di pelupuk. Aku ingin menangis, ingin hanyut. Aku lelah hidup sebagai orang yang gagal—lagi dan lagi. Gagal kuliah, gagal menjadi orang normal, bahkan gagal menghidupi diri sendiri.
Apa ini hidup yang aku mau?
Pertanyaan itu kembali menggantung di kepalaku.
Aku menangis, membenamkan kepala sedalam-dalamnya ke bantal.
Di luar, hujan terdengar merdu.
Komentar
Posting Komentar