belajar melepaskan







Dalam hidup, ada saatnya kita dihadapkan pada situasi rumit yang membuat kita berdiri di jurang kebingungan. Pikiran kita memproses segala kemungkinan, berharap menemukan sedikit kebahagiaan dari pilihan yang akan diambil.

Sayangnya, melepaskan tak pernah menjadi pilihan pertama.

Ambil contoh: kamu punya anjing. Seekor anjing kecil, lucu, manja, dan senang bergelung di kakimu. Ia kamu beli dari seorang teman yang sedang kebingungan. Anjing itu menjadi teman baikmu sehari-hari—bermain, bercanda, bahkan menemanimu di hari-hari yang menyedihkan. Sampai akhirnya, ia menjadi bagian dari dirimu sendiri.

Suatu hari, anjing itu sakit. Kamu panik dan segera mencari klinik hewan terbaik. Kamu rela mengeluarkan uang sebanyak apa pun agar ia kembali sehat dan bisa bergelung di kakimu seperti hari-hari sebelumnya. Namun naas, ajal telah memilihnya. Dan kamu dihantam rasa sakit.
Kamu tak rela. 

Kamu tak bisa menerima kenyataan bahwa anjing itu telah tak bernyawa dan tak bisa lagi bermain denganmu. Pikiranmu menolak, tak mau percaya. Air mata turun sederas rasa sakitmu yang begitu kuat.

Namun, kematian anjingmu adalah fakta.
Dan kamu dipaksa untuk melepaskan segala hal tentang anjing itu.

Kamu tak mau. Kamu ingin menyimpan semua kenangan itu di sudut memori, yang pada akhirnya hanya membuatmu sedih berlarut-larut. Ingatan-ingatan itu menjadi tusukan menyakitkan di perasaanmu. Setiap kali mengingat, rasa sakit muncul, disertai kesadaran bahwa kenangan itu tak akan pernah bisa terulang.

Maka, kita mesti belajar melepaskan.

Bukan untuk melupakan. Bukan untuk menghilangkan perannya dalam hidup kita. Melainkan sebagai terapi agar hati tak terus merasa sakit. Melepaskan bukan perkara mudah, dan kita mesti menyadari itu.

Saya, sebagai pribadi, pernah mengalami hal semacam ini. Dan mungkin, kita semua juga pernah—menjadi orang yang dipaksa untuk melepaskan.

Saya pernah menyukai seseorang. Ia cantik, dengan mata bulat yang memesona. Rambutnya tergerai indah, senyumnya hangat. Dengan rupa semenarik itu, sudah pasti ia menjadi incaran banyak lelaki. Naasnya, saya adalah salah satu dari mereka.

Saya berusaha. Saya mencoba memberi banyak agar ia sedikit luluh dan tertarik pada saya. Nyatanya, saya tak pernah benar-benar ada dalam hidupnya. Saya hanya dianggap sebagai seseorang yang kebetulan hadir. Saya tak pernah menjadi sesuatu yang ia anggap penting—sedikit pun.

Saya merasakan bagaimana perasaan yang kuat ini dihantam habis-habisan oleh penolakan. Rasa sakit merekah, dan saya tak mampu mengatasinya. Sebagaimana lelaki pada umumnya, penolakan menjadi badai yang memporak-porandakan hidup. Namun saya menolak kenyataan itu. Saya tak bisa menerima bahwa ia tak mampu mencintai saya sebagaimana saya mencintainya.

Seperti cerita anjing tadi, pikiran saya menolak habis-habisan.

Saya tidak terima dan mulai merutuki nasib. Bagaimana mungkin cinta sebesar ini tak mendapat balasan sama sekali? Tak ada yang lebih menyakitkan daripada cinta bertepuk sebelah tangan. Saya hanyut dalam lautan kesedihan, mengepalkan tangan, sementara saya terus melihat unggahan-unggahannya—ia tampak semakin bahagia dengan hidupnya.

Di titik inilah, saya perlu belajar melepaskan.
Bukan untuk melupakan, tetapi melepaskannya sebagai seseorang yang menyakiti saya.
Saya tetap memiliki ingatan tentangnya, tetapi dengan perspektif yang berbeda.

Melepaskan adalah perjalanan panjang. Ia seperti gunung yang mesti didaki, dengan medan terjal dan berbatu. Kita akan tersandung berkali-kali, jatuh lagi dan lagi, lalu beristirahat sebelum kembali mendaki. Mungkin kita akan sampai di puncak, mungkin juga tidak. Namun melepaskan adalah bentuk usaha mencintai diri sendiri—sebuah upaya agar hidup menjadi lebih berani.
Kita seharusnya tidak menyimpan seseorang yang menorehkan luka dalam hidup kita.

Dua cerita tadi sama-sama menyakitkan. Pedih. Membuat air mata berurai. Kini, kita mesti siap belajar melepaskan hal-hal yang menyakiti, memberatkan, dan membuat hidup berhenti di satu titik. Kita harus cukup kuat untuk melepaskan, dan menaruh semua itu di belakang.

Akan sangat sulit.
Akan sangat berat.

Namun jangan menyerah. Apa pun yang memberatkan harus direlakan pergi. Barangkali, melepas adalah pintu untuk membuka banyak hal—termasuk kebahagiaan yang lain.

Komentar