SATU PER SATU (SEBUAH CERPEN)




Linda melihat seseorang terbungkus kain kafan di depannya dengan tatapan sendu. Hidungnya dijejali kapas dan matanya tertutup, dengan warna wajah yang begitu pucat. Linda bersimpuh di samping tubuh itu, memakai baju hitam dan kerudung hitam, sembari terus menangis tersedu-sedu. Suara orang menangis juga terdengar samar menggema di rumah kecil itu. Bagaimana tidak? Seseorang yang terbujur kaku di depan mereka ini adalah seorang yang begitu baik dan diakui oleh seluruh tetangga.

Linda memegang badan itu yang terbungkus kain putih. Begitu kaku—sekaku kayu jati. Ketika sentuhan itu terjadi, Linda merasakan seluruh tubuhnya bergetar. Ada perasaan sakit hinggap di dadanya. Sakit sekali, hingga air mata tumpah lagi dengan deras. Tubuhnya gemetar. Ia tak pernah menyangka, tunangannya yang sangat ia cintai sekarang tak ada lagi di dunia. Meninggalkannya sendiri. Meninggalkannya dengan banyak kenangan manis.

Yang membuat kematian itu semakin menyakitkan bagi Linda adalah fakta bahwa satu minggu lagi mereka akan melangsungkan pernikahan. Seluruh persiapan yang dibutuhkan untuk melaksanakan resepsi telah siap: perabot, gaun pengantin, dan bahkan sound system-nya juga telah siap. Artinya, mereka berdua telah siap menyatu dalam ikatan yang sah. Naas, nasib buruk menimpa si lelaki. Calon suami Linda harus meregang nyawa tadi pagi, tepat tujuh hari sebelum pernikahan akan dilangsungkan.

Linda tak kuasa menahan air matanya lagi. Ia begitu sayang dengan lelaki yang terbujur kaku di depannya ini. Sebuah usapan jatuh di punggung Linda—usapan yang begitu lembut, namun tak mampu meredakan gemuruh yang meledak dalam hatinya.

"Sudah, Nduk. Ikhlaskan, ya." Suara lirih itu begitu lembut, terucap dari calon mertua Linda, yang tak lain adalah ibu dari lelaki yang kaku ini.

Ucapan itu hanya dibalas dengan tangisan yang kian deras. Linda menahan tangis itu agar ia tak menjerit. Betapapun sakitnya, kematian adalah keniscayaan yang tak bisa dihindari manusia. Tapi kenapa? Kenapa harus nyawa calon suaminya yang direnggut? Bukankah banyak manusia jahat yang lebih layak mati duluan ketimbang calon suaminya yang begitu baik ini? Kenapa Tuhan tidak mengizinkannya bahagia? Pertanyaan-pertanyaan itu terus bergumul dalam pikiran Linda.

Ya, dan pertanyaan itu terus menggerogoti Linda. Ia memang tak pernah bahagia. Segala kebahagiaan seperti direnggut satu per satu darinya. Tuhan seperti tidak punya kasih sayang kepada Linda. Linda telah hidup dengan begitu sengsara, ditambah sekarang calon suami yang sangat disayanginya harus dikubur lebih awal.

---

Bertahun-tahun lalu.

Linda hidup dalam neraka dunia. Ia lahir sebagai anak haram. Ya, ia lahir dari rahim seorang pelacur. Ibunya adalah wanita yang mencari uang dari mendagangkan kelaminnya. Terdengar kasar, tapi begitulah adanya. Linda bahkan lahir di tempat pelacuran. Sebagai anak pelacur, ia tak pernah tahu siapa ayahnya—dan yang mana—karena ibunya melayani hampir lima lelaki setiap malamnya. Sebenarnya, di tempat pelacuran itu hubungan badan wajib menggunakan pengaman, tapi malam itu ibu Linda mendapat tamu yang brengsek, hingga lahirlah Linda sembilan bulan kemudian.

Namun tak seperti dalam film, ibu Linda sangat menyayanginya. Bagaimanapun, Linda adalah darah dagingnya sendiri. Justru dari faktor eksternal, Linda tersiksa. Sebagaimana umumnya masyarakat, mereka tak pernah menerima anak haram. Anak seorang pelacur dianggap najis. Anak yang harus dijauhi. Anak yang bahkan menyentuhnya saja dipercaya bisa mendatangkan dosa.

Dan begitulah Linda tumbuh. Ia tumbuh dalam lingkungan pelacuran. Masa kecil Linda dipenuhi oleh kegiatan ibunya yang berganti lelaki setiap lima jam sekali. Meski begitu, ibu Linda selalu menitipkannya di sebuah langgar yang tak jauh dari tempat pelacuran ketika ia akan “disantap” oleh para hidung belang. Langgar itu kecil dan terletak di ujung gang. Tak banyak orang yang beribadah di sana. Namun setiap sore, langgar itu ramai oleh anak-anak kampung yang mengaji. Mereka diajar oleh seorang lelaki tua yang setia menempati dan merawat langgar tersebut.

Penolakan mulai terjadi ketika Linda masuk SD. Para orang tua yang tahu Linda adalah anak seorang pelacur melarang anak-anak mereka untuk bergaul dengannya. Akibatnya, tak ada satu pun yang mau berteman dengan Linda. Ia tak punya teman. Bahkan para guru pun memperlakukan Linda secara berbeda. Ia seperti anak buangan yang tak diurus. Tapi Linda kecil adalah anak yang ceria. Meski tak punya teman, ia mampu menjalani hari-hari sekolahnya dengan senang.

Tak berhenti di situ, penolakan terhadap Linda pun merambah ke ranah verbal dan kekerasan. Setiap hari, Linda diolok-olok oleh teman-teman sekelasnya.

“Anak haram.”
“Anak haram.”

Begitulah mereka meneriakinya. Linda hanya bisa pergi dan menangis di toilet. Di usia yang masih begitu belia, ia sudah mengerti arti dari anak haram. Ia tahu bahwa ia adalah anak seorang pelacur. Ibunya adalah manusia yang dianggap paling keji di muka bumi. Pemahaman ini ia dapat dari gurunya sendiri saat pelajaran agama.

“Tuhan sangat membenci orang-orang yang melakukan kemaksiatan. Apalagi para pelacur yang ada di rumah bordil itu. Mereka semua akan dipanggang di api neraka,” ujar sang guru kala itu dengan berapi-api. Entah mengapa ia mengucapkan hal se-vulgar itu di depan murid-murid SD.

Linda yang mendengar itu merasa tertusuk. Ia tahu tempat tinggalnya disebut rumah bordil, dan jelas gurunya sedang menyindir tempat itu. Sejak saat itu, Linda tak henti-hentinya menangis. Ia tak pernah meminta dilahirkan di sana. Ia tak pernah meminta menjadi anak dari seorang pelacur.

Tapi... sebegitu hinakah seorang pelacur?

Setiap sore, Linda dititipkan ibunya di langgar dan ikut mengaji bersama lelaki tua itu. Dari sana, Linda sedikit demi sedikit mulai mengenal huruf-huruf Al-Qur’an. Huruf-huruf yang tak pernah dimengerti oleh ibunya. Ia juga diajari doa-doa pendek oleh lelaki tua tersebut. Sejatinya, Linda adalah anak yang cerdas. Ia cepat sekali hafal doa-doa seperti doa masuk WC, doa tidur, hingga doa masuk rumah.

Linda merasakan perbedaan yang mencolok antara sekolah dan langgar. Di langgar, tidak ada yang peduli ia anak siapa. Di rumah Allah, semua manusia sama. Setara. Linda diperlakukan sama seperti anak-anak lain oleh lelaki tua itu. Ia yakin lelaki itu tahu siapa ibunya, karena setiap sore Linda diantar oleh seorang perempuan berpakaian minim khas wanita penghibur. Selain itu, lelaki tua itu pasti mengenal ibu Linda—ia adalah pelacur yang cukup tersohor di kampung. Namun lelaki tua itu tak pernah menyinggung hal tersebut. Bahkan ia tak pernah menyampaikan ayat-ayat mengerikan seperti yang kerap disampaikan guru agama di sekolah.

Pukul tujuh malam, ibu Linda akan menjemputnya dari langgar dan memberi uang kepada si lelaki tua. Namun, lelaki tua itu tak pernah mau menerima uang pemberian ibunya. Entah karena tak ingin menerima uang haram dari seorang pelacur, atau memang ia ikhlas dengan apa yang dilakukannya. Namun sejauh ini, lelaki tua itu tak pernah meminta imbalan atas apa pun yang telah ia lakukan untuk mengajar anak-anak mengaji.

Bertahun-tahun Linda belajar agama dari lelaki tua itu. Ia belajar tentang rukun Islam, rukun iman, dan banyak hal lain mengenai Islam. Lelaki tua itu sangat berpengetahuan luas tentang agama. Ia bahkan hafal hadis-hadis beserta tahun turunnya. Tahun itu, Linda sangat terpesona dengan semua cerita dan pelajaran yang disampaikan oleh lelaki tua itu. Islam ternyata adalah agama yang hebat. Cerita-cerita di dalamnya mampu membangkitkan rasa iman dalam hati Linda.

Linda menjadi lebih dekat dengan lelaki itu karena hampir setiap hari bersamanya—lebih lama ketimbang anak-anak lain yang hanya datang sore hari. Linda tinggal di langgar itu hingga azan isya, menunggu ibunya menjemput. Kadang, sang ibu lupa dan baru menjemputnya larut malam.

Lelaki tua itu adalah sosok yang tabah, sabar, dan ikhlas dalam mengajar. Konon, ia berasal dari luar pulau—mungkin dari Kalimantan. Ia memang sudah tua, hampir menginjak usia 60 tahun. Rumor beredar bahwa lelaki tua itu sedikit gila setelah pulang dari tanah suci. Ia diusir oleh keluarganya ke Pulau Jawa dan akhirnya menetap di langgar kampung yang hampir tak terurus. Meski begitu, pemahamannya tentang agama luar biasa. Jika ia mau, ia sudah pantas disebut ustaz. Bacaan Qur’annya merdu, seperti para qari yang sering tampil di televisi. Sikap dan sifatnya benar-benar santun, meniru akhlak Rasulullah. Warga kampung sangat menghargainya.

Lelaki tua itu menjadi guru khusus bagi Linda. Sejak saat itu, Linda juga mulai diajari berhijab dan dijelaskan batas-batas aurat perempuan—mana yang boleh ditampakkan, mana yang tidak. Linda mulai sadar bahwa pakaian ibunya jauh dari itu semua. Paha, tangan, bahkan dada ibunya diumbar untuk menarik para lelaki. Meski begitu, lelaki tua itu tak pernah menghakimi. Ia tak pernah menghina atau mengutuk ibu Linda.

Suatu sore, Linda pernah bertanya kepadanya.

“Pak Guru,” ucap Linda. Ia memang memanggil lelaki tua itu dengan sebutan "Guru". Lagaknya, ia lebih sudi menyebutnya Guru dibanding guru-gurunya di sekolah.

“Iya, ada apa, Linda?” Lelaki tua itu menatap lembut. Saat itu, mengaji sore baru saja usai dan anak-anak lain telah pulang.

“Kok Pak Guru nggak pernah bilang Ibu Linda manusia keji? Guru-guru di sekolah senang banget bilang Ibu Linda itu keji,” tanya Linda polos.

Lelaki tua itu menghela napas. “Linda, pekerjaan ibumu memang salah. Ingat, ya. Tapi, sebagai sesama manusia, kita nggak berhak bilang begitu ke orang lain. Ibumu juga manusia, dan perkataan semacam itu nggak pantas diucapkan pada sesama manusia,” jelasnya dengan tenang.

Linda mengangguk dan tersenyum. Kata-kata lelaki tua itu terasa begitu menenangkan.

Linda sangat menghargai guru ngajinya. Selain karena telah mengajarinya mengaji, lelaki tua itu juga sangat pintar dalam menghargai sesama. Beda sekali dengan guru-guru di sekolah yang tak segan mengolok pekerjaan ibunya. Namun satu hal yang Linda tahu, pekerjaan ibunya memang salah. Tak seharusnya seorang wanita menjual tubuhnya. Dan mungkin benar, ibunya adalah manusia penuh dosa yang kelak akan dipanggang di neraka. Meski begitu, Linda tetap menyayanginya.

Apa pun pekerjaan ibunya, Linda tahu—semua itu dilakukan demi dirinya.

---

Lelaki tua itu telah menjadi orang tua kedua bagi Linda. Ia begitu menyayanginya, sebab hanya bersamanyalah Linda menemukan ketenangan dan kasih sayang—hal yang tak pernah ia dapatkan di tempat lain.

Suatu sore, langgar dipenuhi anak-anak yang sedang mengaji. Lelaki tua itu sibuk membimbing mereka membaca Al-Qur’an dengan baik. Anak-anak itu duduk berbaris, menanti giliran. Linda, seperti biasa, memilih duduk di barisan paling ujung. Ia tak pernah tergesa-gesa.

Sebagian anak tampak bermain, berlarian ke sana kemari, bahkan ada yang main kejar-kejaran. Di salah satu sudut langgar, dua anak perempuan mulai bertengkar. Suaranya cukup keras, sampai berteriak-teriak. Karena mengganggu suasana mengaji, lelaki tua itu segera menghampiri mereka, mencoba melerai pertengkaran yang nyaris berujung jambak-jambakan.

“Hei, hei, kalian kenapa bertengkar?” tanyanya lembut.

Namun, kedua anak itu mengabaikannya dan tetap bertengkar entah karena apa. Lelaki tua itu berusaha memisahkan mereka dengan menarik tubuh keduanya secara perlahan.

“Sudah, ya,” ucapnya, kini mulai menarik mereka sedikit lebih kuat.

Namun, salah satu dari mereka, si anak berkerudung cokelat, mencengkeram baju temannya dengan sangat kuat. Lelaki tua itu tampak kewalahan. Ia menarik sedikit lebih keras hingga tak sengaja, tubuh si anak terlempar ke pelukannya. Dalam posisi itu, tangan lelaki tua itu tanpa sengaja menyentuh dada anak perempuan tersebut. Si anak langsung menjerit, menangis, merasa tubuhnya telah dijamah—padahal jelas sekali itu tidak disengaja.

Anak itu kemudian lari keluar langgar sambil menangis. Lelaki tua itu hanya bisa menghela napas panjang, lalu kembali ke tempatnya, melanjutkan sesi mengaji.

Saat giliran Linda tiba, langgar sudah sepi. Hanya ia yang tersisa. Namun tiba-tiba, terdengar keributan dari luar.

“Hei, lelaki cabul! Keluar kau!” teriak seorang lelaki dari luar.

Lelaki tua itu berdiri dan keluar langgar. Linda mengintip dari balik jendela.

“Kau apakan anakku, hah?!” teriak seorang pria—ayah dari anak perempuan berkerudung cokelat tadi. Di belakangnya, berdiri sekitar sepuluh orang lain dengan wajah-wajah penuh emosi.

“Tenang dulu, Pak. Itu hanya kecelakaan. Saya tidak sengaja,” jelas lelaki tua itu, mencoba menahan situasi.

“Pukuli saja, Pak! Predator kayak gini enggak boleh hidup!” teriak salah satu pria di kerumunan. Wajahnya terasa familiar bagi Linda, seolah ia pernah mengenalnya.

Tanpa aba-aba, massa itu langsung menyerang. Pukulan dan tendangan menghujani lelaki tua itu tanpa ampun. Linda hanya bisa menangis ketakutan. Dan tak lama kemudian, lelaki tua itu terkapar. Tak bergerak. Tak bernapas.

Itulah kehilangan pertama dalam hidup Linda.

---

Selepas itu, Linda seperti kehilangan pijakan. Seseorang yang selama ini ia anggap sebagai ayah sendiri, kini pergi untuk selamanya. Linda kecil larut dalam kesedihan selama berhari-hari. Ibunya paham betul—ia tahu hampir seluruh hari Linda dihabiskan bersama guru ngaji itu. Wajar jika kepergian lelaki tua itu begitu mengguncang, apalagi Linda menyaksikannya sendiri, tepat di depan matanya.

Linda murung. Ia menolak makan selama beberapa hari. Tapi waktu, sebagaimana biasa, perlahan menyembuhkan luka di hatinya. Linda tumbuh, meski hidupnya tak banyak berubah. Sebagian besar hari-harinya masih dihabiskan di rumah bordil itu. Ia tak punya teman. Tak ada yang mau mendekat. Tapi Ibu Linda berusaha keras agar anaknya tidak tumbuh menjadi seperti dirinya. Ia menjaga Linda sebaik mungkin, berharap anaknya tetap menjalani hidup seperti remaja lain pada umumnya.

Tahun-tahun berlalu, cepat dan datar. Linda tumbuh jadi remaja yang cantik. Kini, sebentar lagi ia akan lulus SMA. Tak banyak kenangan indah yang bisa ia simpan selama masa itu. Hidupnya masih terasa berat. Cemoohan, hinaan, dan tatapan sinis masih menghantui hari-harinya. "Anak haram"—kata itu masih sering terdengar. Tapi Linda, meski sering terluka, tetap ceria. Ia kuat. Ia terbiasa menjalani semuanya sendirian.

Kadang, Linda menyempatkan diri untuk mengunjungi makam guru ngajinya di pemakaman desa. Ia belum pernah bisa melupakan kebaikan lelaki tua itu. Ia yang selalu menghormati Linda dan ibunya, tak seperti guru lain yang sering mencibir dan merendahkan. Di makam itu, Linda berdoa dengan doa-doa yang dulu pernah diajarkan sang guru.

Air matanya jatuh perlahan. Di depan makam itu, Linda merasa hidupnya begitu sepi. Ia mulai merasa marah pada ibunya. Andai saja ia tidak lahir dari rahim seorang pelacur, mungkin hidupnya akan berbeda. Mungkin ia akan punya teman. Tak akan ada olok-olok, tak akan ada hinaan yang melukai hatinya.

Namun, rasa benci itu buru-buru ia tepis. Bagaimanapun juga, ibunya adalah satu-satunya keluarga yang ia punya. Seorang ibu yang mencintainya sepenuh hati. Linda percaya, takdir tak bisa dipilih. Meski menyakitkan, ia harus tetap hidup. Bersama ibunya. Dalam kasih yang tak selalu mudah, tapi tetap nyata

---

Beberapa hari ini, di rumah bordil, Linda sering mendengar ibunya bertengkar dengan seorang lelaki. Namun, Linda tak memahami apa yang mereka ributkan. Yang jelas, pertengkaran itu tidak hanya terjadi satu hari. Entah dengan siapa ibunya bertengkar.

Ketika Linda bertanya, ibunya selalu menjawab bahwa itu hanya masalah kecil dan tak perlu dipikirkan. Namun, raut wajah ibunya tidak bisa berbohong. Ada kesedihan yang menggantung di sana dan Linda tahu itu. Apakah ibunya memendam sesuatu? Dan siapa pula lelaki itu? Rasanya, ibu bertengkar hanya dengan lelaki itu.

Linda menatap wajah ibunya. Tak bisa dipungkiri, wajah ibu mulai terlihat tua. Ada beberapa kerutan dan lipatan kecil di dahinya, meski samar karena tertutup oleh makeup ibunya yang cukup tebal. Selama ini, Linda tak pernah memperhatikan kondisi ibunya. Lagipula, ibunya memang sibuk. Paling-paling mereka bisa berkumpul hanya di pagi hari saja, sebelum Linda berangkat sekolah.

“Ibu ada masalah?” tanya Linda.

Ibu Linda tersenyum tipis. “Nggak ada, Sayang. Eh iya, ngomong-ngomong, kapan perpisahan sekolah kamu?” Ia mengalihkan pembicaraan.

Linda tahu ibunya hanya menghindari topik itu, yang artinya ia tak mau membicarakannya.
“Minggu depan, Bu. Ibu bisa datang?”

“Bisa dong. Masa nggak bisa,” ucap ibunya.

Meski Linda ragu, sebab ibunya pasti jadi bahan tontonan orang-orang di sana. Siapa pula yang tidak mengenal ibunya Linda? Ia adalah pelacur tersohor yang namanya sudah terkenal jauh, bahkan sampai ke pulau seberang.

“Kamu nggak malu kan kalau Ibu datang? Selama ini Ibu nggak pernah datang ke sekolah kamu, bahkan buat ambil rapor. Jadi, untuk pertama kalinya, karena ini perpisahan SMA, Ibu mau hadir, ya.” Kata ibunya. Senyum tipis masih ada di bibirnya.

“Linda nggak pernah malu punya Ibu,” kata Linda. “Linda malah bangga kok punya Ibu. Banyak teman-temanku yang udah nggak punya orang tua,” lanjut Linda.

Ibunya tertawa. Mereka lalu saling memeluk. Linda cuma punya ibu sekarang. Ia sangat menyayanginya, terlepas dari apa pun yang melekat pada ibunya. Ibu, bagi Linda, adalah harta terakhir yang harus ia jaga.

Perpisahan sekolah akhirnya tiba. Sebelum berangkat sekolah, ia berpamitan pada ibunya. Ibu bilang nanti dia akan menyusul, sebab ada beberapa hal yang harus dikerjakan. Setelah keluar rumah, Linda melihat seorang lelaki di sudut parkiran. Linda seperti pernah melihat lelaki itu. Ada ingatan yang menyala melihat lelaki itu. Tapi ketika Linda ingin menghampirinya, lelaki itu lenyap entah ke mana.

Perpisahan sekolah begitu ramai. Linda yang tak punya teman hanya terduduk sendiri sembari menunggu ibunya yang tak kunjung datang. Hari sudah terlalu siang, namun ibunya belum tiba. Ada apa? Apa Ibu tidak jadi datang?

Tak lama, telepon Linda berdering. Seseorang menelponnya. Dan ketika mendengar perkataan seseorang dari telepon itu, pandangan Linda menghitam dan ia jatuh pingsan.

“Ibumu meninggal dengan tiga luka tusuk di punggungnya.”

Hanya itu kalimat terakhir yang Linda dengar sebelum pingsan.

Itu kehilangan kedua dalam hidup Linda.

--

Linda menatap makam ibunya dengan sayu. Ia sudah menangis seharian penuh, kini tak ada lagi air mata yang bisa ia tumpahkan. Kematian ibunya tak diusut kepolisian, meski jelas-jelas ibunya dibunuh oleh seseorang. Pihak rumah bordil mengatakan pembunuhan seperti ini sering terjadi, biasanya banyak lelaki yang dendam terhadap para pelacur, entah karena tidak puas atau memang si pelacur itu melukai harga diri pemesannya.

Bukan sekali dua kali kematian seorang pelacur terjadi, dan dari dulu tidak ada yang diusut oleh kepolisian. Bahkan, kabar ini tidak tersebar ke mana pun. Dan itulah risiko terbesar menjadi seorang pelacur. Tapi tetap, Linda tidak bisa menerimanya—meski ia juga tak bisa melakukan apa pun.

Kini Linda sendirian. Ia tak punya siapa pun lagi. Linda kemudian pergi mencari pekerjaan ke ibu kota. Ia tak mau berhubungan lagi dengan rumah bordil itu. Linda tak punya waktu untuk berkabung, ia harus segera menemukan pekerjaan, sebab tak ada lagi yang menafkahinya.

Selepas lulus dan ditinggal ibunya, Linda berpindah-pindah tempat sampai ia menemukan sebuah pekerjaan. Beberapa bulan kemudian, ia diterima di sebuah coffee shop. Ia bekerja sebagai pramusaji di sana. Tidak bergaji besar memang, tapi cukup untuk hidup Linda.

Di tempat baru, Linda tidak diperlakukan berbeda. Di sana, tidak ada yang tahu latar belakangnya dan apa yang telah terjadi dengannya jauh sebelum sekarang. Linda mengenal orang-orang baru, ia bahkan punya teman dekat sekarang—hal yang tak ia punya di masa lalunya. Kini hidup Linda dimulai kembali, luka-luka yang ada di belakang coba ia kubur, dan ia menjalani hidup sebaik mungkin.

Terkadang, Linda merindukan ibunya. Ketika ia mengingat itu, Linda pasti meneteskan air mata. Ada sesak yang tak bisa lepas dari dadanya. Sampai sekarang, ia masih bertanya siapa yang tega membunuh ibunya. Apakah lelaki yang bertengkar dengan ibunya sebelum hari kematian itu?

--

Linda bekerja dengan tenang, mencoba hidup senormal mungkin meski di malam-malam tertentu Linda menangis sendirian. Namun, ketenangan itu terusik ketika rekan-rekan kerjanya mulai menggoda Linda. Linda memang perempuan cantik. Ada satu dua customer pula yang kadang mencoba mendekati Linda. Meski begitu, Linda belum terpikirkan untuk punya hubungan dengan seseorang.

Godaan-godaan itu masih bisa Linda tolerir sampai suatu saat beberapa rekan kerjanya melecehkan Linda. Mula-mula mereka hanya menggoda secara verbal saja, namun lama-kelamaan ada sentuhan-sentuhan pada titik-titik tubuh vital Linda. Linda merasa risih. Ia tahu ini bukan hal yang wajar. Ia masih ingat pelajaran yang pernah diajarkan oleh si lelaki tua dahulu kala tentang bagian tubuh mana yang tak boleh disentuh lelaki yang bukan suaminya. Dan Linda juga mengerti, ia telah dilecehkan. Namun, ia juga tak bisa berbuat apa-apa sebab tak mungkin ia bercerita perihal ini pada siapa pun. Dan bisa-bisa ia kehilangan pekerjaannya jika berani berbuat demikian.

Hari ke hari pelecehan itu nampaknya makin meresahkan. Sebab Linda tidak bereaksi atau melawan, rekan-rekan kerjanya itu makin berani. Linda terjebak dalam situasi yang tidak mengenakkan. Di ingatannya, terputar bagaimana dulu ibunya diperlakukan oleh lelaki dan itu jadi semacam memori buruk yang tak bisa Linda hapus. Apakah memang laki-laki bisa sebebas itu terhadap perempuan?

Pelecehan itu akhirnya berhenti setelah Linda dekat dengan salah satu customer. Namanya Zahran. Sebetulnya, Zahran adalah pelanggan tetap di sana. Namun, baru-baru ini Linda dan Zahran saling menyadari. Ketika di kafe, mereka saling tatap, seolah ada hal yang sama yang mereka rasakan. Linda pun demikian. Pandangan Zahran padanya tak seperti lelaki lain. Ada sesuatu yang baik, yang hangat, dan membuat hati Linda berdebar.

Mereka berkenalan dan akhirnya jadi lebih dekat. Zahran memang anak yang baik, bahkan menurut Linda ia terlampau baik. Zahran adalah tipikal lelaki polos yang sepertinya belum tahu cara kerja dunia. Secara fisik, Zahran lumayan menawan.

Hari ke hari mereka semakin dekat. Kini, hampir setiap selesai bekerja, Zahran mengantarkan Linda pulang ke kosnya. Melihat itu, rekan-rekan kerja Linda yang dulu melecehkannya sekarang tidak lagi berani. Mereka mulai menjaga jarak.

Linda merasakan kebahagiaan dan rasa tenang yang sudah lama tak ia rasakan. Bersama Zahran, ia seperti menemukan titik terang dalam hidupnya. Cahaya gelap yang ada di masa lalunya kini perlahan memudar. Tak lama, mereka berpacaran.

Bulan demi bulan berlalu dengan cepat dan begitu menyenangkan. Zahran benar-benar sempurna bagi Linda. Apa yang lelaki itu lakukan untuknya melebihi ekspektasi Linda sendiri. Di bulan ketiga, Zahran mengenalkan Linda pada keluarganya. Dan ibunda Zahran merasa sangat cocok dengan Linda. Dan Linda pun demikian. Keluarga Zahran tak peduli dengan apa yang pernah terjadi dengan Linda. Dan Linda sangat terkesan karenanya.

Lalu tak berlama-lama, mereka segera menentukan tanggal pernikahan. Waktu itu, Linda telah sampai di usia yang sudah sah untuk menikah. Meski terasa terlalu cepat, Linda memutuskan untuk menikah dengan lelaki itu. Ya, mungkin ini jalan indah yang telah Tuhan gariskan untuknya.

Namun, segala kebahagiaan itu lenyap dalam waktu yang begitu cepat. Tepat 7 hari sebelum pernikahan mereka, Zahran meninggal. Seseorang menabraknya.

Itu adalah kehilangan ketiga Linda.

---

Linda terus menangis di depan jasad kaku itu.

Linda memandang calon suaminya yang terbungkus kain, mencoba mengusapnya sekali lagi seakan masih tak percaya bahwa kebahagiaan terakhir yang Linda punya ternyata harus hilang—lagi. Calon ibu mertuanya tak henti-henti menenangkan Linda.

Akhirnya, Zahran dimakamkan. Linda dan segenap keluarga Zahran memandang makam Zahran dengan tatapan yang menyedihkan. Mereka juga tak menyangka Zahran, anak yang baik itu, harus diambil secepat ini. Dan yang lebih menyedihkan adalah fakta bahwa Zahran korban tabrak lari.

Linda masih bersimpuh di depan makam Zahran ketika semua orang telah pergi. Ke mana lagi ia harus berpulang setelah ini? Benaknya bertanya. Mata Linda telah sembap sedari tadi. Bahkan air matanya pun serasa telah mengering. Kesedihan benar-benar menghancurkan dirinya.

Ketika itu, seseorang menepuk pundak Linda. Seorang lelaki. Lelaki yang familiar di hidup Linda. Raut wajahnya kini semakin terlihat tua. Ya, lelaki ini. Linda ingat akhirnya. Lelaki ini yang dulu memprovokasi warga agar mengeroyok si lelaki tua. Lelaki ini pula yang ada di sudut parkiran sebelum ibunya terbunuh. Apakah lelaki ini dalang dari semuanya?

"Tenang, Linda. Ayah masih ada di sini buat kamu," ucap lelaki itu.

Ayah? Kenapa dia memanggil dirinya ayah?

Linda berdiri, waswas. Siapa lelaki ini?

"Akhirnya ayah bisa bareng sama kamu, Linda," ucapnya lagi.

"Apa maksudmu? Siapa kamu?" Linda berteriak.

Lelaki itu menghela napas. "Aku nggak bisa menahan perasaan ini, Linda." Lelaki itu mendekat pada Linda.

Linda mundur perlahan.

"Aku cemburu pada semua yang bisa kamu sayangi, Linda." Tatapan lelaki itu tajam pada Linda. "Bahkan ibumu sendiri."

Linda masih tak mengerti apa yang diucapkan lelaki itu.

"Bertahun-tahun aku mengawasimu, Linda. Kamu sayang sekali dengan mereka, tapi tidak dengan ayahmu sendiri, Linda." Kini suara lelaki itu naik satu oktaf. "Betapa mirisnya." Lelaki itu mulai menangis.

"Tapi setelah bertahun-tahun, akhirnya aku bisa bersama anak aku sendiri. Setelah lelaki tua di langgar itu, ibumu sendiri, bahkan kekasihmu yang baru saja dikubur itu—aku bunuh."

"Kamu sekarang hanya punya ayah. Mari ikut ayah, Linda," kata lelaki itu.

Linda terduduk lemas setelah mendengar apa yang lelaki itu katakan. Semuanya? Semua kebahagiaan itu direnggut oleh lelaki ini yang mengaku ayahnya?

Linda merasa hidupnya tak lama lagi.



Komentar