Aku mengelus kucing oren gemuk itu. Wajahnya gembul. Pipinya tembem. Suaranya pelan. Kucing ini tiba tiba saja datang ke kost ku dua tahun yang lalu dengan tubuh penuh luka, kotor dan bau. Aku bukan cat lover. Tapi melihat kucing yang menyedihkan membuat perasaan ku tergerak.
Aku kemudian merawat dia. Memandikannya, membawanya ke klinik bahkan memberinya perawatan setiap satu minggu sekali. Aku menamainya Mon. Tak ada alasan khusus, aku memberi nama itu asal asalan saja. Lagipula apalah arti nama.
Waktu ke waktu mon tumbuh jadi kucing gemuk nan lucu. Berat badannya naik setiap bulan Membuat ia seperti kucing yang kebanyakan makan gorengan. Terakhir aku timbang berat dia hampir 7 kg. Gila memang ini kucing.
Mon sudah jadi bagian penting di hidupku. Dia yang menemaniku melewati hari hari sepi di kost. Dia yang menerima semua ceritaku tentang hidup. Dia yang setia mendengarkan seluruh apa yang aku keluhkan tentang pekerjaan, bos, bahkan perempuan yang sedang aku sukai. meski dia hanya bisa mengeong, tapi itu sudah lebih dari cukup.
Saat aku pulang kerja, mon pasti sedang duduk di samping pintu. Ia seolah tahu jam berapa aku pulang. Ia juga sepertinya tahu hari itu aku masuk shift apa. Mon selalu duduk meringkuk dengan ekor yang di kibas kibaskan. Wajahnya melas, tanda lapar mulai menggerogoti perutnya. Setelah itu aku masuk, memberinya makan dan aku akan melihat dia lahap sementara aku bercerita tentang hari yang aku lewati. Setiap hari seperti itu.
Mon pernah sakit. Dia tiba-tiba saja muntah dan lemas. Wajahnya pucat. Waktu itu aku panik bukan main bahkan sampai tidak masuk kerja karena sibuk membawa ia ke klinik hewan. Mon di rawat beberapa hari. Kata dokter, dia keracunan. Sepertinya mon makan sesuatu yang bukan makanannya. Saat itu aku sangat sedih melihat mon terkulai lemas dengan infusan menancap di tubuhnya. Namun akhirnya Mon kembali sehat meski berat badannya turun lumayan drastis. Tapi tak butuh waktu lama untuk mengembalikannya, apalagi dengan nafsu makan dia yang gila gilaan.
Kini aku akan menjaga kucing oren ini dengan sungguh sungguh. Dia satu satunya teman hidup yang aku punya sekarang.
----
Suatu sore teman kerjaku mampir ke kost karena ada barang yang mau dia pinjam. Selly namanya. Dia baru masuk ke tempat kerjaku beberapa bulan ini, belum lama. Orang nya manis dengan kulit sawo matangnya yang entah kenapa terlihat cocok untuk dia. Jujur saja, aku sedikit tertarik padanya. Ada sesuatu yang membuat perasaan ku tergugah saat melihat matanya.
Ketika itu, dia melihat mon sedang tertidur. Ia bertanya dan mengelus pelan kepala mon. Mon terbangun, dan segera lompat ke pelukan selly. Selly tertawa. Sepertinya mon menyukai selly. Ah, kucing ini tahu juga rupanya orang cantik.
"namanya siapa?" tanya Selly.
"Mon." Jawabku.
"umur berapa, kok gembul banget?" lanjut selly bertanya.
"udah 4 tahun kayaknya." jawabku ngasal. Aku tidak tahu berapa umur mon sesungguhnya.
Mon makin nyaman dalam pangkuan selly.
"kamu punya kucing juga?" tanyaku.
Selly menggeleng, "tapi aku suka aja sama kucing."
Mon sepertinya benar benar menyukai selly. Ia sampai mengikuti selly keluar ketika perempuan itu hendak pulang. Seolah mon tak mau di tinggalkan oleh selly. Ah, kucing genit.
Selly jadi lumayan sering mampir ke kost. Entah karena ingin mengembalikan barang yang dia pinjam atau karena ingin bertemu mon. Terkadang, selly membawa snack untuk mon dan mon akan kegirangan di buatnya. Mon malah terlihat lebih nyaman dengan selly ketimbang aku sendiri.
Aku juga jadi lebih dekat dengan selly. Di kantor, kami sering berbincang. Kami beda divisi tapi entah mengapa ada saja kesempatan yang membuat kami bertemu. Selly pintar. Cerdas dan asik. Ia jenis perempuan yang mudah membaur Dan tak sulit untuk mendapatkan teman baru. Sebagai anak baru, dia bahkan sudah mendapatkan teman lebih banyak ketimbang aku yang telah bertahun tahun kerja di kantor.
Kami sering duduk bersama di kantin. Aku jadi lebih tahu tentang selly. Ia anak pertama dari 3 bersaudara. Ia berasal dari Sumatra dan Baru saja lulus kuliah. Ia nekat pergi ke ibu kota untuk mencari pengalaman tanpa bekal apapun. Ia suka korea dan hafal bahasa korea.
"aku gak les atau bimbel si. Kayaknya karena dulu hampir setiap hari nonton drakor." jawab selly ketika aku tanya darimana dia bisa berbahasa korea. Bukan hanya berbahasa, menulis huruf korea pun dia lancar.
Selain itu, dia punya mimpi ingin melanjutkan kuliah di Thailand Dan bekerja disini adalah salah satu langkah awal untuk ia bisa pergi kesana.
"Di jakarta, aku bisa lebih punya banyak kesempatan." ucapnya di suatu waktu.
Aku sering melihat wajah selly diam diam. manis dan tak bosan aku pandangi. Rambutnya tergerai panjang dan wanginya semerbak harum dengan parfum yang pasti mahal. Tipikal anak perempuan yang sangat menjaga penampilan.
----
Malam itu, selepas pulang kerja, kami berencana mengunjungi pasar malam yang baru saja buka dekat kantor kami. Disini jarang ada pasar malam, jadi sekalinya ada tak boleh kami lewatkan. Asal kalian tahu, selly yang mengajak.
Selly memakai sweater biru di padu dengan rok yang aku tak tahu jenisnya. Tas selempang kecil tersandar di bahu nya. Ada kecantikan yang berbeda, Selly seperti lebih cerah. Malam itu, aku terpesona padanya.
Pasar malam terlihat ramai. Hampir semua stand dan wahana penuh. Kami mesti antri jika mau mencoba satu per satu wahana yang ada disana. Lampu lampu berkilauan terang. Suara dengung manusia terbang ke langit. Aku dan selly bersisian. Hampir bersentuhan.
Kami berkeliling, mencari wahana yang tak terlalu antri. Rumah hantu ternyata sepi, antriannya tak sampai mengular. Kami memutuskan masuk ke sana. Jujur saja, sebetulnya aku sedikit penakut dan enggan untuk masuk kesana. Tapi, di hadapan perempuan aku mesti terlihat tangguh dan pemberani.
Di dalam rumah hantu, aku tahan tahan dengan kuat untuk tidak menjerit ketika para hantu itu datang dan mengagetkan kami. Aku harus menjaga harga diriku. Aku harus di pandang sebagai pelindung oleh selly. Selly berkali kali teriak ketika di kaget kan oleh pocong, kuntilanak atau genderuwo. Aku sebetulnya sama, tapi ku sembunyikan dalam diam. Aslinya, jantungku mau copot.
Sisi positif nya, Selly hampir tak pernah melepaskan genggaman tangannya padaku. Dia bahkan, di suatu kesempatan, memeluk aku ketika ketakutan. tentu saja aku sangat senang. Aku bisa merasakan kehangatannya. Aku bisa merasakan keintimannya. Hatiku berbunga-bunga di buatnya.
Keluar dari rumah hantu, kami mampir ke wahana biang lala. Selly bilang dia phobia ketinggian tapi ingin mencoba. aku bilang, "Tenang saja, kan ada aku."
Selly benar benar ketakutan ketika biang lala itu mulai berputar. Matanya tertutup. Kakinya gemetar. Aku mencoba menenangkannya dan meminta ia membuka matanya pelan pelan.
"tenang aja sel, kamu harus berani." ucapku sembari memegang tangannya.
Selly kemudian membuka matanya. Ia tersenyum, ternyata tak seburuk yang ia kira, katanya. Kami akhirnya bisa tertawa di dalam bianglala. Ketika kami berada di titik tertinggi, semua yang di bawah terlihat kecil. Cahaya lampu bertabur indah dari atas.
Selly terlihat bahagia dan menjatuhkan kepalanya di pundakku.
Sepulang dari pasar malam, aku kembali ke kost dengan ceria. Mon sedang tertidur ketika aku sampai. Tapi demi mendengar suaraku, dia bangun dan lari ke pangkuanku. Aku mengelus elus kepalanya. Ia mengeong manja. Bulunya beberapa hari ini lumayan rontok. Sepertinya mon sedang birahi.
"aku seneng banget mon malem ini. Selly kayaknya juga suka deh sama aku." kataku pada mon, yang hanya ia balas dengan suara kecil.
"masa hampir sepanjang di pasar malam, dia menggandeng tanganku. Ya gimana gak deg deg an aku." kataku lagi.
Mon terlihat mengantuk.
"eits jangan tidur dulu mon, dengerin aku sebentar." aku tepuk kepalanya pelan agar dia tidak tidur.
"apalagi pas naik biang lala. Gila, mon aku bahagia banget. Bisa di senderin selly, bisa ketawa bareng selly. Kamu pasti cemburu kan mon. Pasti lah, pasti kamu cemburu. Orang setiap selly kesini kamu selalu pengen di elus sama dia." kataku panjang lebar.
Sialnya, kucing gembul ini sudah lelap tertidur dengan dengkuran anehnya.
Aku tertawa dan ikut tertidur beberapa menit kemudian.
-----
Beberapa hari kemudian, di waktu istirahat, aku dan selly sedang makan siang di kantin kantor. Selly memesan nasi goreng sedangkan aku hanya memesan cemilan kecil. Aku sedang tidak lapar hari itu.
Kami mengobrol kan banyak hal.
Hubungan aku dengan selly masih sebatas teman kantor. Tidak lebih. Meski dalam taraf tertentu, status teman agaknya tidak pantas karena kami sudah seperti sepasang kekasih. Bahkan teman teman kantor menjuluki kami dengan sebutan dua sejoli.
Meski begitu, aku tak berani menanyakan apapun perihal hubungan ini pada selly. Nampaknya selly nyaman dengan apa yang kami rasakan sekarang. aku juga tak pernah menyinggung masalah pacar atau relationship. Selama ini obrolan kami hanya sebatas pekerjaan dan keluarga.
Kedekatan kami Tak hanya sebatas ke pasar malam. Kami sering jalan berdua jika sedang ada film baru di bioskop. Dia sangat menyukai film. Bukan hanya sebatas penikmat film yang film selesai lantas selesai pula pembicaraan nya, ia akan menganalisis semua hal dari film yang baru saja di tonton. Entah alur, teknis, sinematografi bahkan sampai akting nya dia komentari. Aku sangat seneng mendengarnya ketika ia menganalisis sebuah film. Ia terlihat pintar. Dan cantik tentu saja.
Siang itu, panas tak begitu terik. Selly masih sibuk menghabiskan nasi gorengnya. Aku hanya memakan cemilan dan tak berselera. Tiba tiba, selly terbatuk, aku sigap memberikan air minum pada dia.
"aku juga sekarang punya kucing tau." kata Selly setelah membereskan makanannya
Aku menoleh, "oh iyaa? Sejak kapan?"
"baru beberapa hari lalu. Kucing kampung sih, tapi gemuk hampir sama kayak si MOn." selly berdiri, "udah yok balik, jam istirahat udah mau habis."
Sorenya, aku berjalan bersama selly menuju halte bus.
"Oh iya nama kucing kamu siapa?" tanyaku melanjutkan pembicaraan yang tadi terhenti.
"Rona." jawabnya cepat, "soalnya pipinya merah merona gitu."
Aku terkekeh kecil, "lucu namanya."
"kamu beli?" tanyaku.
"Enggak, aku di kasih." jawab selly antusias.
"oh iya, sama siapa?"
Sebelum Selly menjawab, sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan kami. Kaca mobil itu terbuka, seorang lelaki terlihat. Ia kemudian melambai pada selly.
Selly balas melambai, "aku duluan ya." ucapnya padaku lalu masuk ke mobil dan ia melaju beberapa detik kemudian.
Aku mematung, mencoba memahami apa yang baru saja terjadi. Siapa lelaki itu? Pacar selly? Jika benar, lalu apa maksud ia melakukan semua hal menyenangkan bersama ku?
Aku merasa dadaku menyempit, sakit.
Setelah sampai di kost, aku segera merebahkan diri, lalu tertidur. Lelap bersama pertanyaan yang menggantung di pikiran.
Tengah malam aku terbangun. Aku melihat jam, pukul 12 malam. Kemudian aku menyadari suatu hal.
Mon tidak ada.
Biasanya ia akan pulang sebelum jam 8 malam tapi sekarang sudah sampai tengah tapi ia tetap tidak ada.
Ya, Mon hilang.
Komentar
Posting Komentar