Baru saja saya melihat berita tentang seseorang yang meninggal karena dipukuli, hanya karena tidur di dalam masjid. Saya tidak tahu seperti apa kronologinya dan mengapa hal itu bisa sampai terjadi. Yang jelas, berita semacam ini mengusik rasa penasaran saya.
Kemarin, saya juga membaca berita tentang seseorang yang meninggal karena dibegal. Pembegalan memang masih marak terjadi, tetapi dalam hal ini, saya kembali menyoroti tentang kematian.
Beberapa hari lalu, saya mendengar cerita dari pelanggan saya sendiri bahwa temannya baru saja dibunuh karena menagih utang. Soal uang memang bisa berbuntut panjang, tapi apakah sepadan dengan nyawa seseorang?
Di tempat lain, di FYP Instagram, seorang lelaki memutilasi kekasihnya karena suatu permasalahan.
Betapa saya merasa kematian terasa begitu dekat.
Kematian memang terjadi setiap hari di dunia, begitu juga dengan kelahiran. Seratus orang meninggal, seribu bayi lahir kembali. Saya kira memang begini cara bumi menyeimbangkan populasi. Tapi, dengan begitu banyaknya kasus kematian yang terjadi, saya merasa sedikit cemas.
Bagaimanapun, saya masih manusia normal yang takut akan kematian. Bukan berarti saya belum siap meninggalkan apa yang saya punya di dunia, tetapi lebih dari itu—kematian adalah akhir dari segalanya. Dan membayangkan saya mati rasanya terlalu mengerikan.
Terkadang, ketika saya susah tidur di tengah malam, saya duduk dan berpikir jauh. Kematian adalah hal yang selalu mampir di ingatan. Saya sering memikirkan bagaimana saya mati, kapan saya mati, dan akan ke mana setelah saya mati. Sekilas ini seperti pertanyaan filsafat, nyatanya ini adalah pertanyaan yang muncul karena banyaknya kasus kematian yang setiap hari muncul di media sosial.
Berita-berita itu jadi semacam pengingat bagi saya bahwa kematian adalah bentuk paling sempurna dari sebuah misteri. Kematian tak pernah memberi aba-aba. Ia datang pada siapa pun yang menurutnya pantas—tak peduli usia, tak peduli nama, tak peduli sehat atau sakit. Jika memang sudah waktunya, ia akan datang, siap atau tidak.
Sebaliknya, berita yang setiap hari saya konsumsi justru memberikan rasa cemas berlebih. Saya resah, saya takut. Bagaimana kalau ternyata besok saya harus mati? Lebih parah, bagaimana kalau ternyata sepuluh menit ke depan nyawa saya akan diambil—entah karena sakit, entah karena dibunuh, atau mungkin dikeroyok orang. Saya merasa kematian mengintai di sudut-sudut setiap detik, dan saya mesti awas serta siap.
Dalam agama saya, kematian digambarkan sedemikian sakit hingga tak ada kalimat yang cocok untuk menggambarkannya. Analogi yang dipakai agama untuk mendeskripsikan kematian terdengar seperti cerita horor dengan tingkat keseraman tertinggi. Saya pernah mendengar seorang penceramah bercerita, dan bulu kuduk saya berdiri ketika ia menggambarkan bagaimana kematian datang dan mengambil seluruh kehidupan yang kita punya.
Ketika saya menulis ini, jam sudah menunjukkan pukul dua pagi. Saya tidak bisa tidur. Instagram saya isinya orang-orang meninggal entah kenapa. Algoritma sepertinya sedang mengingatkan saya tentang hal ini. Saya jadi teringat banyak hal indah dalam hidup saya.
Kalau saja kematian datang, akan seberat apa saya meninggalkan orang-orang yang saya sayangi di dunia ini? Akan sesedih apa arwah saya melihat ibu, ayah, adik, pasangan, dan teman-teman saya menangis di pemakaman? Saya tak punya bayangan sama sekali. Sepertinya, itu adalah hal terburuk dari kematian: saat kita harus meninggalkan semua hal indah itu, untuk kemudian tinggal di alam yang sama sekali tak kita kenali.
Kehidupan setelah kematian adalah kecemasan berikutnya. Seakan kematian belum cukup, saya mesti memikirkan proses setelah arwah saya dicabut. Ada neraka dan surga, ada siksa dan nikmat. Kenapa saya merasa hidup adalah kutukan?
Pada akhirnya, saya mesti berhenti untuk overthinking. Pikiran ini tidak sehat. Jika terus dibiarkan, bisa menimbulkan stres berkepanjangan dan berujung sakit. Mari cukupkan, dan mulai menikmati hidup.
Kematian adalah satu-satunya pengingat paling sempurna bagi saya untuk bisa memanfaatkan kehidupan sebaik mungkin. Untuk bisa menyayangi orang-orang seluas mungkin. Untuk bisa berbuat baik sebanyak mungkin. Saya ingin menghabiskan banyak waktu dengan keluarga, teman, bahkan pasangan. Saya ingin menyimpan banyak kenangan indah untuk saya bawa ke alam kedua.
Komentar
Posting Komentar