Saya sedang rebahan santai ketika sebuah cuplikan film lewat di Reels Instagram yang sedang saya scroll. Cuplikan itu terasa sangat dalam dan menyentuh inti jantung saya. Agak berlebihan, nggak sih? Tapi memang begitulah adanya. Saya tidak berbohong.
Setelah itu, saya mencari judul film tersebut dan menemukannya.
Film itu berjudul 500 Days of Summer.
Tapi maaf sekali, saya harus bilang di awal: artikel ini isinya full spoiler.
Film yang disutradarai Marc Webb dan dibintangi Joseph Gordon-Levitt sebagai Tom Hansen serta Zooey Deschanel sebagai Summer ini menceritakan kisah romansa antara Tom dan Summer. Tom adalah seorang arsitek yang terjebak di sebuah perusahaan pembuat kartu ucapan. Ia hidup dalam kebosanan sampai Summer datang ke perusahaan itu sebagai sekretaris. Summer adalah perempuan cantik yang memenuhi segala aspek perempuan yang bisa disebut sempurna. Selain karena cantik, ia juga cerdas dan lembut.
Tak butuh waktu lama bagi Tom untuk jatuh cinta pada Summer—apalagi setelah adegan ikonik di dalam lift.
Summer menyambut perasaan Tom meski dengan ambigu. Summer pun menyukai Tom, tapi ia sedang tak ingin mempunyai hubungan dan sudah mengatakannya di awal pada Tom. Tom tak masalah dengan itu. Lalu mereka berdua menjalin kisah yang begitu manis. Mereka seperti sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara—pergi ke bioskop, jalan-jalan malam hari, berkaraoke, bahkan tidur bersama. Mereka melakukan itu selama berbulan-bulan. Semua yang mereka lakukan persis seperti sepasang kekasih.
Konflik muncul ketika Tom meminta kejelasan hubungan mereka. Summer berubah dan mulai menjauh. Ia memperjelas bahwa sejak awal memang tidak ingin punya hubungan dengan siapa pun. Tom marah. Ia merasa mereka tak seharusnya melakukan semua kenangan manis itu jika hanya sebatas teman.
Alur film ini tidak linear—lompat-lompat dan tidak berurutan. Di scene awal, kita tiba-tiba saja disuguhkan hari ke-200-an ketika Tom sudah patah hati. Saya yang menonton sebetulnya agak sedikit terkejut dan mesti fokus agar tidak kehilangan feel di tengah cerita.
Namun dengan konsep yang seperti itu, film ini justru membawa saya jauh lebih masuk ke dalam ceritanya. Saya dibawa naik turun; perasaan saya diobok-obok dengan indah. Saya sedang tersenyum melihat kemesraan Tom dan Summer, lalu di scene berikutnya bisa saja dijatuhkan sekeras-kerasnya melihat Tom murung dan stres. Ketidaklinearan film ini memberikan magis yang unik, meski saya kadang bingung di tengah-tengah.
Film 500 Days of Summer bagi saya sangat menyentuh. Bukan hanya karena jalan ceritanya, tapi bagaimana film ini membingkai semua emosi Tom dengan baik. Sebagai lelaki, saya bisa merasakan kesakitan yang dialami Tom—merasakan jatuh cinta dengan seseorang, bahkan tidur dengannya, tapi hubungan mereka tidak jelas dan hanya sebatas teman.
I feel you, Tom.
Selain itu, saya kira film ini sangat dekat dengan realita—setidaknya bagi saya sendiri. Terkadang seorang lelaki memang tidak bisa membedakan antara seseorang yang benar-benar jatuh cinta atau hanya mencari pelipur kebosanan. Summer adalah potret perempuan yang tak ingin terikat oleh hubungan, tapi tetap ingin merasakan hangatnya cinta. Bagi saya ini salah. Bagaimanapun, perasaan Tom seharusnya tidak disambut Summer jika ia memang tak punya niat untuk menjalin hubungan di awal.
Tom tahu ia seharusnya tidak terbawa perasaan—menganggap semua hal manis yang mereka lakukan sebagai bagian dari cinta. Namun Tom tidak bisa. Perasaannya sudah sebegitu besarnya. Dan Summer, seharusnya bisa menjauh.
Tapi tetap saja ada perdebatan bahwa di dalam film ini tak ada protagonis atau antagonis. Film ini adalah bentuk paling sempurna dari ambiguitas cinta. Tom tidak salah, ia hanya lelaki yang jatuh cinta. Summer pun tidak salah, ia perempuan yang belum siap memulai hubungan. Tapi di film ini, Tom menjadi pihak yang paling tersakiti.
Setelah mereka renggang, Tom merasa kosong. Ia bekerja dengan malas, bengong berhari-hari, bahkan sampai stres berkepanjangan. Marc Webb betul-betul bisa menyampaikan apa yang Tom rasakan dengan halus tapi manis. Sebetulnya tak banyak scene yang memperlihatkan Tom tidak stabil setelah kehilangan Summer, tapi apa yang ditampilkan Webb sebagai sutradara sudah cukup membuat penonton seperti saya tahu bahwa Tom sedang hancur—tanpa perlu scene yang lebay.
Berbulan-bulan tanpa Summer—karena setelah kejadian itu Summer pindah pekerjaan—Tom sedikit demi sedikit bisa berdamai. Ia merasa bahwa hidup memang harus dilanjutkan, seberat apa pun pahitnya. Tentang Summer, perlahan ia hapus. Ia kemudian memutuskan resign dari pekerjaan lamanya dan mencoba menjadi arsitek sesuai cita-cita lamanya.
Di tengah itu, ia kembali bertemu dengan Summer. Dan di sinilah letak kesakitan sesungguhnya. Summer menyapa Tom, dan Tom masih sama seperti dulu—ia senang dan bahagia melihat Summer kembali, tak peduli apa yang terjadi sebelumnya. Summer bahkan mengundang Tom untuk hadir di pesta rooftop di apartemennya. Jelas, Tom menyanggupinya.
Di sinilah adegan yang membuat saya sangat menyukai film ini.
Ada satu scene di mana dua panel ditampilkan berdampingan: expectation dan reality.
Panel expectation berisi kejadian indah—Tom datang ke pesta rooftop Summer, disambut dan dicium oleh Summer, lalu berbaur bersama tamu lain. Summer memperkenalkan Tom kepada mereka. Setelah itu, Summer dan Tom berdiri berdua memandang jauh sembari melepas rindu.
Di panel reality, semuanya berbanding terbalik. Tom disambut Summer hanya dengan senyuman. Tak ada sesi perkenalan. Summer lebih sibuk dengan kolega-koleganya, meninggalkan Tom dalam kesendirian. Puncaknya adalah ketika Tom melihat cincin di jari Summer. Tom segera berlari pulang dengan luka yang basah di dadanya.
Saya sangat terpukul dan bisa merasakan apa yang dirasakan Tom. Namun di akhir, dalam scene yang sangat sederhana, Summer mengatakan bahwa ia ragu dengan Tom. Dan itu jadi masuk akal mengapa ia tak ingin menjalin hubungan serius dengan Tom. Meski saya cukup bingung apa yang diragukan Summer pada Tom—apakah perihal masa depan Tom? Ataukah karena kepribadian Tom?
Apa pun alasannya, pada akhirnya Summer menikah dengan seseorang yang bukan Tom, dan Tom hanya bisa menahan semua kesakitan itu sendirian.
Film ini diakhiri dengan ciamik, di mana dalam satu kesempatan Tom bertemu dengan seorang perempuan bernama Autumn.
Pertanyaan berikutnya: apakah Autumn akan menjadi pasangan sejati Tom, atau hanya Summer yang kedua?
Film ini bagi saya menawarkan kisah yang menyakitkan. Sebagai lelaki, saya bisa hadir dan hanyut dalam luka yang Tom alami—apalagi di akhir ternyata Summer menikah dengan orang lain.
Tom bahkan berkata dengan getir pada Summer, “Aneh rasanya melihat kamu yang tak ingin jadi pacar siapa pun, tiba-tiba sekarang jadi istri seseorang.”
Ah… saya terdiam,
menikmati luka yang ternyata menjalar ke hati saya juga.

Komentar
Posting Komentar