IBU DINARTI DAN KOTA YANG SIBUK

 

Ketika aku bekerja di sebuah kota industri beberapa bulan lalu, aku mendapatkan banyak cerita yang menarik sekaligus bermakna. Salah satunya datang dari seorang ibu paruh baya yang bekerja sebagai pembersih jalan raya.

Setiap pagi, sekitar pukul delapan lebih, ketika aku membuka toko, si ibu sudah terlihat di tengah jalan dengan membawa pengki dan sapu lidi. Kaos tangan panjang berwarna oranye tampak menyala disinari matahari pagi. Masker dantopi tak lepas dari kepalanya. Celananya juga seragam dengan warna kaosnya. Meski tertutup, aku bisa melihat bahwa beliau sudah berumur. 

Setiap pagi itu,aku berhenti sebentar dan memperhatikannya. Aku jadi teringat ibu di rumah.Ketika jalanan mulai padat, beliau memulai pekerjaannya. Menyapu, mengumpulkan sampah, lalu membuangnya ke sudut jalan. Sesekali iaberhenti sebab ada banyak truk berseliweran. Ia mengulang kegiatannya sepanjang jalan itu, dan hasilnya memang benar-benar bersih. Tapi belum tiga puluh menit saja, beliau sudah membuka topi dan menyeka keringat yang membanjiri dahinya. Dari sana, aku melihat banyak kerutan yang menandakan bahwa beliau tak lagi muda.

Setelah aku mengingat ibu di rumah, aku kembali melanjutkan pekerjaanku. Dan beliau, tiba-tiba saja hilang dari pandangan. Mungkin dia berpindah tempat. Hari semakin siang. Matahari siap menyengat siapa pun yang tak punya tempat berteduh.

Keesokan harinya, peristiwa yang sama terjadi lagi. Persis seperti kemarin. Aku membuka toko, melihat si ibu menyapu jalan, melihat ia kelelahan, hingga akhirnya aku hanyut dalam pekerjaanku sendiri. Hal itu terjadi hampir seminggu penuh. Aku mulai punya ide. Aku ingin mengobrol dengannya. Aku Selalu ingin tahu cerita-cerita dari mereka. Sampai akhirnya, pada hari libur, aku memutuskan untuk berbincang dengannya.

Pukul sembilan pagi waktu itu, aku sengaja membeli dua botol teh pucuk. Satu untukku dan satu untuk si ibu. Aku melihat ke seberang jalan, beliau masih sibuk. Aku akhirnya menunggu beliau istirahat. Sebenarnya aku agak sungkan, atau mungkin malu, tapi aku penasaran. Beliau terlihat menepi, mencaritempat teduh. Aku pun menghampiri dan menyapanya.

Di bawah pohon akasia di tepi jalan, kami duduk. Beliau bernama Dinarti. Umurnya hampir 60 tahun. Aku sedikit tercengang, sebab di umur segitu, beliau masih tampak sehat dan lincah.

"Sering minum jamu," katanya sembari terkekeh, memperlihatkan giginya yang sudah ompong di sebelah kiri.

Beliau kemudian meminum teh pucuk yang aku berikan. Satu tegukan yang hampir habis. Wajar, rasa dahaga sudah muncul sedari tadi, apalagi di tengah terik seperti ini. Kami berbincang banyak hal. Ternyata, ia tinggal sendirian di sebuah kontrakan kecil. Suaminya sudah wafat dua tahun lalu. Beliau hanya punya dua anak, dan keduanya sudah menikah, ikut suami ke luar Jawa. Jadi, ia sendiri dan tak ada yang mengurusnya.

Entah kenapa, ketika ia bercerita, ia tetap tertawa kecil. Padahal, aku yang mendengarnya merasa tersentuh. Bagaimana seorang ibu yang sudah berumur, tinggal sendiri, dan tak ada yang mengurus, tetap bekerja dengan begitu keras. Tapi senyum dan tawa beliau membuat kisah itu tak seberat kedengarannya.

"Mungkin emang gini takdir saya, Nak."

Ucapannya kali ini terdengar dalam dan pasrah. Aku diam. Beliau juga. Deru mesin kendaraan membising di telingaku. Ada kehampaan yang tiba-tiba hadir di sini. Hadir di antara berisiknya dunia.

"Sudah hampir dua tahun saya kerja beginian," lanjutnya.

Dulu, ketika suaminya masih hidup, ia hanya ibu rumah tangga biasa yang sering sakit-sakitan. Semenjak suaminya meninggal, ia terpaksa mencari kerja dan menahan sakit yang dideritanya. Rupanya, menjadi pembersih jalan raya bukan satu-satunya pekerjaan yang ia lakoni.

"Setelah dari sini, saya pergi jualan es dawet. Terus sorenya, bantuin tetangga Cuci piring. Tetangga yang rumahnya gedong ya." Lagi, ia tertawa. Aku paham maksudnya. Aku hanya bisa membayangkan betapa lelah dan sepinya hidup beliau.

Tak lama, ia meminta pamit dan berterima kasih. Aku hanya tersenyum.

"Besok-besok aku bawa makanan ya, Bu," kataku sambil menyalami tangannya.

Beliau hanya terkekeh, lalu pergi ke dalam gang. Aku terdiam, menatap jalanan. Melihat betapa kota ini begitu sibuk, penuh orang-orang yang bergegas mengejar waktu. Tapi setelah mendengar ceritanya, aku justru merasa sepi. Merasa kosong.

Ternyata, ada banyak orang yang Tuhan beri kekuatan lebih untuk menghadapi hidup yang keras, seperti Ibu Dinarti. Ia meninggalkan kesan yang berarti dalam hidupku. Kepasrahan dan semangatnya dalam menjalani hidup akan Selalu aku ingat. Juga senyum polosnya dan gigi ompongnya yang khas.

Namun, sejak hari itu, aku tak pernah melihatnya lagi.

Komentar

Posting Komentar