DUA PORSI NASI GORENG



Entah mana yang paling nikmat, nasi goreng atau sumbang tawanya yang lekat di telinga.


---

Malam tak memberikan kesempatan untuk bersedih. Ada kebahagiaan yang meluap ketika deru kendaraan yang kami naiki melaju di jalanan padat. Aku bersisian dengannya, mencoba menenangkan diri atas gemuruh yang membadai di perasaanku. Wangi parfum yang menguar dari tubuhnya seolah memberi tanda bahwa semua hal yang melekat padanya mestilah seharum itu. Aku tak berlebihan, tapi memang keparat jika aku tidak mengakui bahwa dia begitu memesona malam itu.

Ini bukan pertama kalinya, tapi setiap kali aku bersamanya (entahlah, ini bisa disebut kencan atau bukan), semua hal terasa seperti baru. Padahal mungkin sudah ratusan kali kami duduk berdampingan. Perasaan ini seolah mekar tiap kami bertemu. Mungkin terdengar berlebihan, namun dalam asmara, hiperbola adalah bumbu paling manis untuk menggambarkan perasaan.

Kendaraan yang kami tumpangi tak berhenti memecah angin malam menjadi beberapa bagian. Aku masih mencoba meraih kesadaran bahwa malam itu aku duduk di sisinya sedekat dan seintim itu. Untuk seorang lelaki, keintiman punya banyak tafsir. Aku, yang telah menyukai perempuan ini hampir setengah tahun, menafsirkan bahwa duduk sedekat itu adalah bukti nyata adanya perasaan satu sama lain. Aku tidak ke-GR-an, tapi nuraniku berkata demikian.

Perjalanan malam itu terasa panjang, padahal tujuan kami hanya berjarak dua kilometer. Tapi biarlah, semoga waktu melambat. Aku tak ingin kehilangan momen sehangat ini dengannya. Aku ingin detik berhenti. Aku ingin duduk lebih lama dan menikmati keheningan yang sejak tadi memeluk kami.

Sesekali aku menengok ke wajahnya yang terkena cipratan muram lampu jalan—menatapnya beberapa detik sebelum kembali berpura-pura sibuk dengan hal lain. Itulah wajah yang selama ini menjadi bagian terpenting dalam sejarah hidupku. Wajah yang membuatku berkali-kali bertekuk lutut. Wajah yang memberi alasan untuk bangun dan bekerja. Untuk beberapa orang, bekerja memang harus punya alasan. Termasuk aku. Dan itu bukan kesalahan.

Mobil Grab yang kami tumpangi berjalan tersendat. Selain karena jalanan macet, aku rasa sopirnya belum terlalu mahir. Terlihat dari cara ia mengemudi. Namun mobil ini terawat, wangi, dan terasa nyaman untuk bersandar. Alasan yang cukup bagiku untuk memberi bintang lima pada driver.

Perempuan di sampingku sibuk membuka ponsel. Entah siapa yang ia hubungi—keluarga, teman, atau mungkin pacarnya? Di titik ini aku sudah tak peduli siapa pun yang dia hubungi. Faktanya, aku sedang duduk berdua dengannya, malam minggu, menuju bioskop terdekat. Siapa pun yang sedang dia hubungi pastilah orang malang yang tak tahu bahwa kami sedang bersenang-senang bersama. Terdengar kejam, ya?

Tak lama, mobil melambat dan kami sampai di tujuan. Sebuah mal besar dengan pengunjung yang sepi. Jika dibandingkan dengan mal yang pernah kukunjungi, mal ini termasuk besar, tapi naasnya tidak sejalan dengan jumlah pengunjung yang minim, bahkan cenderung lengang. Aku berpikir, pastilah pemilik mal ini rugi setiap harinya. Aku hanya menebak—ekonomi terkadang tidak sesederhana yang kita lihat.

Kami menuju lantai tiga, tempat bioskop berada. Bagian paling kusukai adalah ketika aku dan dia berjalan bersisian, hanya berjarak beberapa sentimeter. Mengobrol sepanjang jalan, merasakan kebahagiaan yang tak terukur. Melihat orang-orang sibuk membeli barang impian atau menjulid orang lain yang tampak aneh, lalu tertawa renyah setelahnya.

Tentu, sesekali aku masih menengok padanya.

Malam itu berakhir dengan kredit film yang berjalan vertikal di layar bioskop. Aku menghela napas, dan sepertinya dia pun demikian. Film yang baru saja kami tonton cukup menegangkan, membuat darah berdesir karena jumpscare yang brutal. Lampu bioskop menyala dan kami beranjak.

Sebelum pulang, kami memesan dua porsi nasi goreng di pinggir jalan. Aku suka nasi goreng—dan dia juga. Selain murah, nasi goreng adalah pilihan yang mengenyangkan di banding makanan lain. Oh iya, sebelum ini kami memang sudah mencicipi banyak nasi goreng dengan berbagai rasa dan harga. Bisa dibilang kami adalah “nasi goreng mania”. Sebutan spontan untuk pecinta nasi goreng garis keras. Setiap kali melihat abang-abang nasi goreng, selalu terbesit keinginan untuk mencoba dan menilainya dengan analisis yang (terlalu) detail.

Setelah pesanan selesai, aku kembali memesan Grab untuk pulang. Kali ini, mobil yang kami tumpangi bau. Dia yang pertama menyadarinya, memberi isyarat bahwa aroma mobil itu tak sedap. Entahlah, aroma apa ini—seperti campuran asap rokok, keringat sopir, dan makanan ringan yang melebur jadi satu. Aku tertawa melihat dia menutup hidung, sementara sang sopir masih asyik menyetir seolah tak terjadi apa-apa. Aku ingin berteriak padanya:

“Pak, ayo lebih cepat, kami tak mau mati di dalam mobil.” Tapi kalimat itu hanya ada di pikiranku.

Saat sampai di kos, kami berdua tertawa—mencoba menebak ekspresi penumpang berikutnya.

Akhirnya, dua porsi nasi goreng dalam kotak styrofoam itu kami buka. Warnanya cokelat kecap, ada potongan sosis dadu dan suwiran ayam tipis. Kepulan asap memenuhi ruangan, menciptakan aroma yang membikin perut berbunyi. Seekor kucing putih miliknya, bernama Miko, mendekat, menciumi nasi goreng milikku, lalu pergi begitu saja. Mungkin dia lupa, kucing tidak makan nasi goreng.

Tanpa berdoa, kami lahap makanan itu sambil sesekali mengobrol dan tertawa.

“Enak, meski agak asin,” katanya.

Aku hanya sibuk mengunyah dan berpikir.

Entah mana yang paling nikmat, nasi goreng atau sumbang tawanya yang lekat di telinga.

Malam itu, aku, dia, dua porsi nasi goreng, dan seekor kucing putih terangkum dalam satu memori. Sebuah kenangan indah yang tak ingin hilang meski sedikit. Aku akan menyimpan baik-baik segala yang terjadi malam itu antara aku dan dia. Hidup masih panjang, dan jika aku tak berakhir di pelukannya, setidaknya apa yang pernah terjadi di antara kami sudah lebih dari cukup.

Aku tak perlu memusingkan masa depan. Tak usah repot memikirkan status kami berdua. Aku mestinya menikmati waktu bersama tanpa terdistraksi oleh pertanyaan-pertanyaan di kepala. Apa pun status kami—HTS, teman, atau apa pun istilah Gen Z menyebutnya—tidak berpengaruh pada kebahagiaan yang sedang tumbuh di dadaku. Aku seharusnya bersyukur atas setiap saat bersamanya.

Aku melihat dia yang masih lahap memakan nasi goreng. Banyak pertanyaan muncul dan menunggu jawaban. Tapi demi melihat dia senang, tenang, tertawa, dan baik-baik saja, aku kubur semua pertanyaan itu. Apa lagi yang lebih penting selain dia baik-baik saja?

Kucing putih itu khusyuk menyaksikan kami makan dan tertawa. Ia tak punya akal yang cukup untuk mengerti kondisi manusia—untuk tahu bahwa dari dua manusia itu, salah satunya sedang berdebar karena bisa menatap perempuan yang disukainya sedekat ini.

Setelah dua porsi nasi goreng lenyap, aku pulang. Dia berterima kasih, aku menolak. Tak usahlah, lagipula dalam kasus ini, aku yang lebih disenangkan.

Pintu kos aku buka, lalu pergi. Ada sesuatu yang tertinggal di sana.


Adakah hari bahagia berikutnya?


Komentar