PERCAKAPAN ONLINE

 



Di sebuah percakapan online dengan teman, pada suatu malam, saya disuguhkan pertanyaan yang cukup dalam dan membuat saya berpikir panjang.

“Ada gak sih kejadian yang mengubah seluruh pandanganmu tentang hidup?” kata salah satu teman, dari ujung sana.

Segera ingatan saya mendobrak ke masa lalu, memilih memori acak yang paling membekas. Jujur saja, hidup saya tak banyak hal menarik. Jadi, untuk menjawab pertanyaan ini saya membutuhkan beberapa menit. Teman saya, yang saat itu kebetulan kami sedang bermain game bersama, kembali menegur, memastikan saya siap menjawab pertanyaan.

Akhirnya saya memilih kejadian itu. Kejadian yang sangat membekas dan mengubah seluruh apa yang saya pikir tentang kehidupan. Kejadian ini sudah berlalu hampir lima tahun lamanya.

Bertahun-tahun lalu, saya berkenalan dengan seorang perempuan manis berkacamata di sebuah organisasi. Sama seperti dalam film, saya tak merencanakan perkenalan ini. Semua terjadi begitu saja. Kami tak sengaja sering bertatap pada waktu acara hingga di akhir acara kami berfoto bareng dan bertukar kontak. Sesederhana itu, tapi semua hal setelah itu tak menjadi sederhana lagi bagi saya.

Pesan demi pesan mulai kami tukar setelah pertemuan itu. Rupanya dia sepantaran denganku, hanya berbeda empat bulanan. Dengan selisih umur yang tak jauh, hal itu membantu saya dalam mencairkan obrolan. Ada referensi-referensi yang satu jalur. Ada kesamaan yang membuat pesan berjalan lancar. Meski, di satu titik, dia sangat cuek. Ia rupanya tipikal perempuan dingin yang penuh misteri. Untuk sebuah alasan, ia begitu menarik untuk didapatkan.

Semua terjadi begitu cepat, pada akhirnya saya jatuh cinta dengan dia setelah beberapa bulan kami berkomunikasi. Saya rasa, waktu itu, perasaan tumbuh seperti kecambah kedelai yang tiap hari berkembang membesar. Entah dia yang memang sangat menarik atau di waktu itu saya yang sedang kesepian hingga mudah jatuh cinta. Tapi apa pun itu, hari-hari berjalan dengan sangat indah.

Di suatu malam pertengahan April, saya membeberkan apa yang saya rasa di teras rumahnya. Ia sedikit terkejut meski cepat-cepat ia sembunyikan ekspresi tersebut. Ia meminta saya untuk menunggu. Saya yang tengah bergejolak, mengiyakan dan akan menunggu sampai kapan pun. Berlebihan memang.

Hari berlalu, bulan berlalu, bahkan tahunan, semua berjalan seperti biasanya dan rasa yang saya punya perlahan makin berkembang. Waktu ke waktu komunikasi kami semakin pudar. Dia sibuk dengan pekerjaannya dan saya pun demikian, meski saya tetap berusaha mencoba menghubunginya. Tapi, naas sekali, pesan saya hanya dibalas satu kali dalam sehari. Itu pun hanya di malam hari. Dia bilang, dia sibuk dan tak sempat buka HP. Saya tahu itu bohong. Di dunia digital sekarang, siapa sih yang tidak aktif selama 24 jam?

Meski begitu, saya tetap memelihara perasaan ini agar tidak hilang. Di waktu itu, entah kenapa saya sangat yakin dengannya bahwa ia juga punya perasaan yang sama dengan saya. Padahal, komunikasi kami buruk. Padahal, semua seperti berjalan hanya satu arah. Di titik ini, saya sudah dibutakan oleh cinta.

Perlahan, saya lelah sebab pesan-pesan saya hanya menggantung di centang dua abu-abu. Tapi, ketika kelelahan sudah ada di pucuk pikiran, dia menetaskan sebuah ide. Dia mengatakan bahwa dia tak akan membalas lagi pesan saya, tapi sebagai gantinya kami boleh berhubungan lewat telepon di akhir minggu. Saya menyetujuinya. Dan arc baru hubungan kami tiba: telepon akhir minggu.

Saya tidak mengerti apa yang ia inginkan sebenarnya. Dia bisa saja menolak di awal ketika saya menyatakan perasaan. Tapi, ia memilih untuk meminta saya menunggu. Saya jadi berpikir bahwa ia juga punya perasaan yang sama dengan saya, meski mungkin ada yang harus ia selesaikan dahulu di hidupnya. Pokoknya, saya tetap kekeuh akan tetap menunggunya sampai kapan pun. Cinta sangat berperan besar dalam hubungan ini. Saya bahkan seperti orang bego yang sedang menunggu sesuatu yang belum pasti. Tapi begitulah cinta, kadang semua hal jadi mungkin dalam genggamannya.

Di akhir minggu, tepatnya malam Senin, kami bertelpon ria. Dalam telepon, dia tidak secuek itu. Bahkan ia bertanya banyak hal, yang segera saya jawab dengan antusias. Dari sini, saya jadi berpikir bahwa mungkin ia tipikal perempuan yang dingin dalam pesan dan cair dalam obrolan. Beberapa orang sepertinya memang demikian. Kami bercerita banyak hal, karena selama seminggu itu kami tak berkomunikasi jadi bahan obrolan benar-benar terhampar luas. Ada banyak topik, ada banyak candaan yang meleleh di malam itu. Saya, pada satu kesempatan, mengucapkan selamat tidur di akhir telepon. Sungguh menyenangkan sekali.

Kegiatan itu berjalan setiap minggu tanpa terlewat. Sampai akhirnya satu tahun penuh saya telah menunggunya. Dalam sebuah momen, saya dan dia kembali duduk di teras rumahnya yang diterangi lampu temaram. Saya sudah menantikan momen ini. Selama satu tahun penuh saya mencintainya dan berdoa hampir setiap malam untuknya. Saya harap kali ini dia memberikan jawaban yang jelas. Tapi, kalian tahu? Dia kembali menggantung saya. Dia bilang dia belum cukup yakin untuk memulai kembali sebuah hubungan. Malam itu, bahu saya merosot, hati saya terasa retak dan hanya menunggu untuk remuk.

Dia kembali meminta saya menunggu.

Dan ya, dengan kebodohan yang saya punya, saya mengiyakannya kembali. Saya, dengan tekad yang 200% bulat, akan menunggunya sampai dia siap memberikan jawaban yang tidak menggantung. Apakah memang cinta sebodoh ini?

Cerita ini sebetulnya masih panjang. Tapi biar saya ringkas saja. Pada akhirnya, saya hampir tiga tahun lebih menunggu dia dengan komunikasi seadanya. Dan hanya telepon di akhir minggu saja yang membuat saya yakin kisah ini akan berakhir indah. Begitu naifnya saya dahulu kala. Saya juga tidak mengerti kenapa saya bisa begitu yakin dia akan jadi milik saya suatu saat setelah saya menunggu bertahun-tahun. Ada semacam kepercayaan yang tumbuh dalam dada saya. Ada imajinasi yang hidup, bahwa suatu saat saya akan hidup bersamanya, mengitari bumi, dan menjalani kehidupan yang sempurna.

Akhirnya, saya menyerah.

Tepat di sebuah malam Jakarta, saya beranikan diri menelpon dia dengan tekad yang sudah bulat, saya berhenti. Saya berbicara dengan lembut dan mengatakan bahwa saya tak punya energi lagi untuk cinta ini. Saya merasa berjalan sendiri. Tertatih sendirian. Dia menangis dari ujung sana. Saya tak mengerti apa yang sedang ia tangiskan. Bukankah dalam hal ini seharusnya saya yang menangis? Dia bilang saya masih boleh menghubunginya, saya masih diizinkan untuk menelponnya setelah ini. Tapi, saya merasa sudah cukup. Apa yang saya habiskan bertahun-tahun ini biarlah jadi sesuatu yang tertinggal di belakang.

Beberapa bulan kemudian, setelah malam itu, seseorang menghubungi saya. Dia rupanya teman dari seseorang yang selama ini saya cintai. Dia menceritakan alasan mengapa perempuan itu berlaku kejam terhadap saya selama ini.

“Dia dulu punya pacar dan meninggal. Pacarnya itu mirip kamu,” ucap seseorang itu. “Mungkin dia trauma. Tapi di satu sisi, kamu kayak jadi orang yang sama dengan mantannya.”

Saya terdiam mendengarnya. Saya tak pernah menyangka. Semua yang telah terjadi mulai masuk akal pada akhirnya, meski tetap saja ia tak boleh menjadikan itu alasan untuk menggantung saya sedemikian lamanya. Tapi toh, saya mengerti dan menerima semuanya.

Teman online saya mendengarkan cerita panjang itu dengan khidmat, meski terkadang terpotong karena sinyal yang jelek atau game kami yang bermasalah.

“Gila, ceritanya gila,” kata teman saya dari ujung sana.

“Saya juga gak ngerti kenapa bisa kayak gitu.”

“Jadi, apa yang mengubah kamu dari kejadian itu?” tanyanya lagi.

Aku menghela napas, siap menjawab.

“Dari kejadian itu, semua pandangan saya terhadap cinta, perasaan, hubungan, berubah total. Saya jadi orang yang lebih mengerti bahwa semua hal terjadi karena sebuah alasan. Dan yang paling penting, saya jadi orang yang bisa menerima bahwa gak semua hal bisa saya dapetin. Ada hal-hal yang emang bukan buat saya, gak peduli sekuat apa pun saya usaha.”

“Saya gak tahu ini positif atau negatif. Yang jelas, ternyata, cinta pada titik tertentu memang tidak berkonotasi pada relationship. Cinta ya tetap cinta, gak peduli kita punya hubungan atau enggak dengan yang kita cintai. Selama tiga tahun itu, saya belajar banyak banget. Saya belajar sabar, saya belajar tulus, saya belajar nunggu. Yang saya yakin, hal ini berguna buat saya di masa depan. Bukan dalam hal cinta aja, dalam hal lain di kehidupan juga bakalan berguna.”

“Jadi untuk sekarang, saya bakalan lebih tenang kalau suatu saat saya mengalami hal yang sama. Entah oleh seseorang atau oleh pekerjaan. Saya, di fase ini, mungkin jadi lebih tenang dan dewasa. Saya gak gampang nyalahin orang lain kalo ada sesuatu yang gak sesuai ekspektasi saya.”

“Gilaaaa...” teman saya teriak di ujung sana.

Komentar

Posting Komentar