Sebagai penggemar berat Hindia, saya telah mendengarkan hampir seluruh lagunya, dari album Menari dengan Bayangan yang rilis tahun 2019 sampai mixtape terbarunya yang bertajuk Doves, 25 on Blank Canvas, yang kebetulan baru saja saya selesaikan dalam sekali duduk.
Mixtape ini sudah tersedia di YouTube secara gratis dan berdurasi hampir 53 menit, berisikan kurang lebih 16 lagu. Hindia, sebagai salah satu alter ego dari Baskara yang punya banyak band, selalu membahas hal-hal yang tak pernah ia bawakan di .Feast atau Lomba Sihir. Di mixtape ini, saya menangkap lagu-lagu yang sangat personal dari Baskara. Tentunya sedikit berbeda dengan album sebelumnya, Lagipula Hidup Akan Berakhir, yang terasa sangat berat jika kita tilik satu per satu judulnya. Mixtape ini, bagi saya, adalah lanjutan dari album Menari dengan Bayangan yang diperluas dan diperdalam secara lirik.
Sebut saja single “Mimi,” yang sebetulnya tidak terdengar seperti sebuah lagu karena hanya berisikan monolog Baskara tentang kucingnya yang meninggal. Bagaimana bisa Hindia memasukkan hewan peliharaan dalam sebuah single, bahkan hanya bermonolog saja? Tetapi saya tetap mendengarkannya sampai selesai dan ikut merasa relate karena saya pun punya peliharaan. Di album Menari dengan Bayangan ada satu single juga berjudul “Wejangan Mama,” yang berisi monolog dari mama Baskara Putra. Hindia tentu punya ciri khas di sini.
Coba kita beranjak ke single yang berjudul “Harga Satu Pil.” Single ini terasa begitu menohok entah kenapa. Dari judulnya saja saya sudah bisa membayangkan apa yang akan Hindia sampaikan. Bagi saya, lagu ini terasa seperti kejujuran yang gamblang. Manusia, dengan segala yang menimpanya, dengan semua kerumitannya, dengan hal-hal peliknya, rela menebus sebuah pil demi ketenangan. Lagu ini memuat banyak pertanyaan. Lirik-liriknya dipenuhi tanda tanya yang mengisyaratkan bahwa manusia tak mengerti apa pun dan membutuhkan jawaban.
Di mixtape ini, saya terpesona dengan lagu “everything u are” yang begitu powerful. Di setiap albumnya, Hindia selalu punya lagu tentang cinta. Di single “everything u are” saya merasa dibawa pada perjalanan sepasang manusia dari awal bertemu, sama-sama terjebak dalam hidup, untuk kemudian, dengan satu alasan, hidup bersama selamanya.
> Cerita kita tak jauh berbeda, got beat down by the world. Sometimes I wanna fold.
Lirik ini dijatuhkan di titik puncak lagu. Klimaks yang begitu memanjakan telinga dengan perpaduan drum keras dan distorsi gitar mampu mengantarkan saya pada keindahan yang paripurna. Saya tidak berlebihan. “everything u are,” bagi saya, adalah lagu terbaik Hindia sejauh ini. Dari susunan lirik, beat, hingga selipan bahasa Inggris yang terasa melengkapi sempurnanya lagu ini.
Hindia tidak memainkan banyak elemen musik elektronik di mixtape ini. Hampir semua lagunya menggunakan instrumen seperti lagu-lagu rock ballad yang cepat dan cadas. Tidak seperti di album sebelumnya, di mana Hindia memakai alat musik elektronik. Hal ini tentu saja menambah rasa pada musik Hindia. Tanpa instrumen elektronik, saya merasakan sentuhan yang lebih dalam. Saya bukan anti musik modern, hanya saja, sebagai anak yang besar di tengah musik rock, instrumen elektronik tidak terdengar mewah di telinga saya.
Hindia, pada akhirnya, sukses membuat sebuah mixtape yang relate dengan kehidupan sekarang. Semua lagunya seperti mewakili keresahan yang ada di tiap dada manusia. Bukan hanya soal cinta, tetapi juga soal kehilangan, politik, bahkan sesederhana kematian hewan peliharaan. Lagu-lagunya membawa kita dari satu kejadian kecil ke kejadian kecil lain secara runut. Secara keseluruhan, mixtape ini bagi saya sangat sempurna.
Mendengarkan Hindia memang selalu seperti ini. Saya bukan hanya hanyut oleh musik, tetapi juga tenggelam oleh lirik-lirik yang begitu menawan. Baskara bisa kita masukkan sebagai salah satu pencipta lagu dengan lirik terbaik saat ini. Dan saya yakin, kepiawaian itu pula yang membawa Hindia bisa berada di titik sekarang. Buktinya, sudah tiga album ia cetuskan dan semuanya punya lirik yang berkualitas serta musikalitas yang patut diacungi jempol. Tidak main-main memang Hindia ini.

Komentar
Posting Komentar