Aku tak yakin dengan hari itu. Bagaimana mungkin? Seorang wanita cantik mau duduk berdua denganku, yang bukan siapa siapa ini, apalagi belum genap satu bulan kami berkenalan.
Nyatanya tuhan selalu punya cerita berbeda. Aku tak tahu apa alasan ia mengiyakan ajakan ku. Padahal dia bisa saja menolak atau mencari alasan lain. Tapi aku senang, meski aku tak tahu motif apa yang ia gunakan dalam pertemuan pertama ini. Dan aku tak seharusnya menebak nebak seperti ini.
Aku lelaki yang cukup pesimis dan takut sesuatu hal buruk terjadi pada pertemuan pertama. Jadi aku berdoa semoga hari itu lancar dan tidak ada satu kesalahan apapun. Aku mungkin berlebihan, tapi rasa senang yang ada benar benar meluap dari dada. Meski, pada titik tertentu, ini hanya menonton bioskop, tidak lebih. Dan mungkin dia menganggap pertemuan ini hanya bagian dari hubungan platonik saja. jadi aku harus bisa menurunkan ekspektasi.
Siang itu, panas begitu menyengat. Dia datang dengan setelan sederhana. Kacamata yang ia pakai melengkapi kesederhanaan itu yang kini terasa sempurna. Aku yang sedari tadi menunggu dengan deg-degan, tersenyum ketika ia melambaikan tangan. Aku balas melambai, dan kami mulai berkendara, menembus matahari yang kian panas.
Di perjalanan, aku kebingungan harus mengobrolkan apa. Sesekali bertanya namun hanya pertanyaan klise saja dan aku yakin ia merasakan hal yang sama. Ada kecanggungan yang tak bisa kami tolak. Bagaimanapun ini adalah kali pertama kami berkendara berdua. segala kalimat yang ada dalam kepalaku mendadak hilang begitu saja. Seolah aku lelaki tolol yang payah.
Tak sampai 15 menit, kami sampai disana. lalu Berjalan beriringan dengan debar jantung yang tidak stabil menuju studio dua. Aku yang seperti itu, mungkin dia tidak. Mungkin dia tidak merasakan apapun. Mungkin dia hanya menganggap angin lalu pertemuan ini. Mungkin dia, mungkin dia, ah kenapa kepalaku memikirkan kemungkinan kemungkinan yang belum tentu benar? Seharusnya aku menikmati saja apa yang aku rasakan sekarang dan tidak perlu merepotkan apa yang akan terjadi selanjutnya.
sebagai lelaki, tentu sangat sulit untuk tidak melihat wajahnya yang manis. Sesekali aku menengok dan memandangnya beberapa detik untuk kemudian membuang muka ke arah lain. aku takut sesuatu tumbuh jika melihatnya terlalu lama. Cinta misalnya?
Di depan studio dua, kami duduk menunggu jam tayang film di putar. Lampu temaram khas bioskop terasa hangat. Aku melihat ke lorong, sepi.
"wajar saja, ini jam kerja dan di hari kerja. Kita doang yang nganggur, punya waktu di hari ini." dia berkata sembari tertawa pelan.
Aku ikut tertawa. Memang ajaib. Pertemuan kali ini memang ajaib. di pekerjaanku, memang tidak bisa aku libur di hari weekend, dan sebaliknya, dia biasanya libur hanya di hari minggu. Secara teori, kami hampir tidak mungkin libur di hari yang sama. Namun Entah ada mukjizat apa, hari itu, kami berdua libur di hari yang sama, dan bukan di hari weekend. Aku tak mau mengaitkan apapun, ini murni kebetulan. Dan kebetulan kali ini benar benar membahagiakan.
Sembari mengunyah pop corn yang porsinya terlalu banyak dengan minuman blackcurrant yang sedikit asam, kami berdiam diri. Sekali lagi, aku tak tahu harus membicarakan apa. Dia juga sepertinya demikian. Kami hanya berbicara satu dua patah kata lalu diam kembali. Membiarkan keheningan mengambil alih suasana.
Aku bahkan sampai berpikir, lampu lampu di sana mungkin menertawakan aku yang seperti tidak punya kemampuan apapun untuk membahas sesuatu. aku seperti lelaki bisu yang hanya sibuk membuka ponsel meski tidak ada apa apa di dalamnya. Ya, aku hanya pura pura sibuk. Aku pernah dengar entah dari siapa, katanya, kalau kita sedang grogi cobalah untuk terlihat sibuk. Apakah itu bisa menghilangkan rasa grogi? Tidak juga, tapi hal itu tetap ku lakukan.
Di seberang sana, sepasang kekasih sedang duduk bercengkrama, tak jauh dari kami. Aku sesekali melihat ke arah mereka. Entah untuk apa aku tidak tahu. Tapi aku kadang bertanya dalam hati, mereka memang sepasang kekasih atau sama seperti aku dan perempuan yang duduk di sampingku ini?
"kayaknya belum di buka ya pintu bioskop nya?" tanya ia tiba tiba.
Jam memang sudah menunjukan jadwal film di putar. Tapi sepertinya tidak ada petugas yang mengarahkan.
"kita dobrak aja kali, ya." jawabku. Tentu becanda. Tidak mungkin, kami benar benar mendobraknya. Bisa bisa kami di tangkap, di penjara, lalu mati membusuk di penjara. Bentar bentar, ini menghayal nya kejauhan deh.
Dia tertawa. Meski pelan, aku senang ia menangkap jokes tipis ku itu. Ya, meski aku tak tahu ini memang terdengar lucu baginya atau ia hanya formalitas saja. Aku harap sih, apa yang aku ucapkan memang lucu.
Tak lama kemudian kami masuk dan mencari tempat duduk. Studio terlihat kosong. Kami masih sibuk mencari tempat duduk yang sesuai nomor, meski sebetulnya kami bisa duduk di mana saja karena hari itu yang menonton film hanya 5 orang dan tidak akan ada orang yang mengusir kami jikalau pun kami salah tempat duduk.
lalu Film dimulai. Tapi yang kupikirkan bukan cerita di layar, melainkan bunyi napasnya yang halus, dan tangan kirinya yang sesekali menyentuh tas di pangkuannya serta ia yang sesekali mengecek ponsel.
Aku ingin menyapa. Tapi aku takut merusak keheningan.
Aku ingin bilang, “Aku deg-degan, tapi bukan karena filmnya.” Tapi aku takut terlihat bodoh dan konyol.
Sampai film selesai, aku hanya diam. Beberapa kali tertawa dengan adegan yang di tampilkan di layar. Mencuri pandang sekali-dua kali. melihat pantulan film dari kacamatanya yang terlihat tenang. Dan saat lampu menyala, aku tahu... kesempatan itu sudah meleleh bersama kredit akhir.
2 jam film di putar lalu selesai tiba tiba. Itu film bagus dan menjadi lebih bagus karena aku menonton dengannya.
Kemudian kami keluar bioskop. Perasaanku masih tak berubah, debar di dadaku masih belum mereda. Kami kemudian pulang ketika hari hampir sore . Sebelumnya, aku sempat membeli sebuah buku.
Dan ketika sampai, aku berterima kasih, dia pun demikian. Aku melihat ia menjauh dan kemudian aku menghela nafas panjang lalu tersenyum kecil. Meski pertemuan ini sebentar, apa yang membekas di dadaku takkan hilang dalam waktu yang lama.
Apa yang aku rasakan? Apakah cinta bisa tumbuh secepat ini? Kami masih dua orang asing yang baru saling mengenal dan rasa rasanya tak pantas jika aku langsung jatuh padanya.
Aku tak percaya cinta tumbuh hanya dari pandangan saja. Cinta selalu tumbuh dari hal hal pelik. Dan, jika ada yang mengaku jatuh cinta pada pandangan pertama, bisa aku pastikan mereka hanya terbuai bukan cinta. Cinta mesti tumbuh oleh kebiasaan, sifat, waktu dan keberuntungan. Rupa? Rupa hanya pemantik saja. Sisanya, cinta di rawat oleh hal hal yang rumit. Bahkan aku yakin keberuntungan juga ikut andil dalam tumbuhnya cinta.
Tapi aku bukan anak kecil lagi. Aku tidak ingin segera menghakimi apa yang aku rasakan. Mungkin sesuatu sedang tumbuh. Mungkin ini hanya euforia belaka dan tak semestinya aku langsung mengartikan ini semua.
Selain itu, tampaknya dia biasa saja. Aku tak melihat apapun dari pandangannya terhadapku. Tidak ada hal lebih. Atau bisa aku artikan, dia hanya mencari teman saja. Tidak ada menuju arah romantis. Lagipula ini baru pertama kalinya, dan bukankah terlalu berlebihan jika segera memikirkan hal hal semacam itu?
Di titik ini, aku harus sadar diri.
Akan sangat memalukan jika aku menganggap pertemuan ini sebagai sesuatu yang spesial sementara ia hanya menganggap pertemuan ini basa basi semata. ya, sangat memalukan.
Aku terkadang sulit membedakan antara orang yang ramah atau memang punya ketertarikan padaku. Kesalahpahaman semacam ini membawa ku pada luka luka yang tak seharusnya ada.
Tapi apapun itu, aku sangat senang bisa menghabiskan waktu dengannya.
Akan kah ada hari berikutnya?
Ah, aku ragu atau mungkin mustahil.
Tapi terima kasih, semoga banyak hal hal baik hadir dalam kehidupanmu selanjutnya.
Senang bisa berkenalan.

Komentar
Posting Komentar