ZIARAH

 Kata Ibu, hari Jumat adalah hari yang sakral. Dalam Al-Qur’an pun dijelaskan bahwa hari Jumat adalah hari di mana pahala akan dilipatgandakan. Selain itu, kata Ibu, hari Jumat adalah hari paling baik untuk berziarah. Seperti hari ini, Ibu mengajak saya dan kedua adik saya untuk berziarah ke makam nenek. Rasanya sudah lama kami tidak mengunjungi beliau.

Saya masih ingat ketika nenek diambil oleh Sang Pencipta. Saya masih ingat jelas wajah nenek ketika sakaratul maut. Napasnya tersengal, dadanya turun naik, matanya terbuka lebar. Kami sekeluarga menangis sejadi-jadinya. Alhamdulillah, sakaratul maut nenek saya tidak sesulit yang ada di film-film. Beliau diambil dengan tenang, dengan tersenyum. Namun, itu tak menghalangi air mata untuk jatuh. Saya dan seluruh keluarga menangis—pedih. Dan itu terjadi sekitar enam bulan yang lalu. Sudah cukup lama, tapi saya merasa itu baru kemarin. Rasa rindu dan sedih sesekali masih terasa.

Selepas azan Asar berkumandang, kami pergi ke area pemakaman yang jaraknya bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Mungkin hanya sekitar sepuluh menit saja. Saya, kedua adik saya, dan Ibu berjalan beriringan. Matahari telah berwarna jingga, menandakan sore semakin menua.

Tak lama kemudian, kami sampai di tempat pemakaman umum. Kuburan-kuburan berjejer, bermacam-macam. Ada yang mewah, ada juga yang hanya berbentuk seperti gundukan tanah saja. Saya paham, orang yang mampu akan membuat kuburan semewah mungkin—entah untuk tujuan apa.

Setelah sampai, kami langsung membersihkan kuburan nenek yang sudah tertimbun banyak dedaunan. Setelah bersih, kami berjongkok di samping makam. Adik saya yang paling kecil saya pangku.

“Assalamualaikum, Bu. Maaf, saya baru bisa berkunjung sekarang. Biasa, karena sibuk mengurus rumah dan anak-anak,” ucap Ibu, seolah sedang berdialog dengan nenek.

Hening. Desir angin sore yang menjawab.

“Bagaimana kabar Ibu? Semoga tenang dan baik-baik saja di sana, ya.”

Kali ini, suara Ibu sedikit bergetar. Saya tahu air mata sudah di pelupuk mata.

Lalu tangan Ibu mengusap-usap batu nisan dengan lembut. Saya melihat satu tetes air jatuh dari matanya. Ibu terisak. Menangis, tertahan. Mungkin Ibu tak ingin menangis lepas karena sedang di pemakaman. Adik saya pun mulai menangis. Memang, adik saya yang kedua paling gampang urusan menangis. Sementara, adik yang saya pangku terdiam melihat ibunya menangis. Ada sesak yang menerpa dada saya. Membuat air mata seolah ingin keluar dari tempatnya. Saya tahan.

“Maaf, Bu. Saya belum sempat membahagiakan Ibu. Saya belum sempat mewujudkan impian Ibu. Sampai sekarang, saya masih belum bisa merenovasi rumah. Maaf, Bu.”

Air mata Ibu semakin deras. Saya tahu, impian nenek saya adalah mempunyai rumah yang layak—setidaknya tidak bocor saat musim hujan tiba. Air di mata saya semakin mendesak meminta keluar. Saya, sebagai anak pertama, merasa tertohok. Sebab, belum bisa membantu apa-apa.

Lalu kami membaca Yasin sembari terisak. Tapi, sekuat mungkin saya menahannya meski perlahan air mata mulai turun. Tak sampai dua puluh menit kami membaca surah Yasin.

Kemudian, sepi tiba-tiba merajai. Ibu masih menatap sayu pada batu nisan yang sedari tadi dibelainya. Saya tertegun. Ada semacam rasa cemas yang menjalar. Saya edarkan pandang pada barisan kuburan yang lain. Pada akhirnya, manusia akan berakhir di bawah tanah—busuk, hancur, tak tersisa. Tak ada satu makhluk pun yang bisa mencegahnya. Kematian adalah hal mutlak bagi manusia yang hidup.

Hal yang bisa saya pelajari adalah tentang bagaimana kita memanfaatkan waktu sebelum kematian menjemput. Saya seperti tersadarkan bahwa waktu terus berjalan tanpa henti, mendekatkan kita pada kematian. Maka, hal yang paling baik adalah tidak menyia-nyiakan waktu yang masih tersisa. Bisa jadi, waktu kita sudah dekat. Bahagiakan orang yang paling disayang. Jangan sampai malah menangis menyesal karena terlambat.

Sore beranjak gelap. Kami akhirnya pulang, meninggalkan nenek sendirian.

Komentar