Waktu itu umurku 8 tahun, mungkin masih kelas 3 SD. Selayaknya anak kecil yang butuh mainan, aku merengek sembari terus menangis pada ibuku. Di zaman itu sangat populer mainan Power Ranger yang punya banyak warna. Mainan itu hanya kecil saja dan murah. Lima karakter hanya dibanderol 10 ribu. Tapi, aku belum tahu bahwa aku lahir dalam keluarga yang kurang secara ekonomi. Oleh karenanya, rengekan tangisku itu tak digubris sama sekali oleh ibu. Bahkan aku dicubit berkali-kali agar berhenti menangis. Dulu aku keras kepala. Apa pun yang aku inginkan harus terkabulkan. Tapi tetap saja, sampai tangisku habis, aku tidak mendapatkan mainan favorit itu.
Esok harinya, setelah keinginan untuk membeli mainan itu sedikit hilang, ibu menghampiriku yang sedang menonton televisi. Ia duduk di sampingku dengan tenang. Aku yang masih ingat dengan cubitan tangannya yang masih terasa di tanganku, sedikit menjauh dari ibu. Aku takut ibu akan memarahiku lagi. Aku takut. Tapi ibu tersenyum. Ia mengusap tanganku yang kemarin dicubitnya.
"Maaf ya, Nak. Ibu belum bisa belikan mainan itu. Untuk saat ini, Ibu masih butuh uang buat makan dan jajan kamu juga. Coba kamu bayangkan, mending pilih mainan atau makanan yang bisa bikin kenyang?" kata ibuku lembut.
Aku tak bisa menjawab. Tentu sebuah mainan tidak bisa dibandingkan dengan makanan. Mereka punya fungsi yang berbeda. Tapi di umur 8 tahun, aku belum bisa berpikir semacam itu. Tentu makanan selalu lebih penting ketimbang apa pun. Aku menjawab dan memilih makanan. Ibu tersenyum lagi. Hangat. Dan sangat damai.
Setelah itu, aku tak ingat lagi orang tuaku pernah membelikanku mainan. Aku juga tak terlalu banyak meminta. Aku adalah tipikal anak kecil yang selalu memendam dan diam jika sedang punya keinginan. Aku takut merepotkan ibuku. Aku takut keinginanku hanya menyusahkan kehidupan orang tuaku yang sudah susah.
Tapi itu sudah berpuluh tahun yang lalu.
Kini umurku sudah hampir seperempat abad. Tapi ingatan tentang masa kecil selalu hadir dalam kepalaku. Jelas saja, aku sangat merindukan masa-masa kecil. Masa di mana hal-hal terasa ringan. Tak ada beban dan tekanan yang harus dipikul. Ketika hidup hanya memikirkan main dan makan.
Saat ini aku sedang berada di sebuah pasar, di depan sebuah toko mainan. Ada banyak mainan yang lucu dan unik. Oleh karena itulah aku teringat dengan kenangan masa kecil. Aku melihat mainan yang berjejer di etalase. Mulai dari mobil, motor, dan karakter tokoh kartun terpajang dengan manis di sana. Aku menghela napas panjang.
Setelah mengingat kejadian di masa lampau, aku jadi mengerti satu hal: bahwa tak semua yang kita inginkan akan kita dapatkan. Itulah poin penting yang harusnya aku pelajari dari dulu. Aku mengerti bahwa dunia akan selalu berjalan dengan semestinya, tidak mesti berputar dengan apa yang kita inginkan. Kadang kala sesuatu yang sangat kita ingin gapai malah hilang entah ke mana, menyisakan sesak yang mungkin akan tetap hadir dalam dada sampai kapan pun.
Aku kembali menengok pada jejeran mainan yang ada di etalase. Setelah dewasa, aku jadi tahu bahwa segala apa yang aku impikan tidak ada yang terwujud sama sekali dan mau tidak mau aku harus menerimanya meski aku terluka.
Tiba-tiba saja aku bergetar. Ingin menangis. Tapi aku tahan. Aku ingat bagaimana aku harus melepas banyak hal yang aku inginkan demi hal lain. Aku ingat aku merelakan seseorang yang aku cintai bertahun-tahun bersanding dengan lelaki lain. Aku ingat aku tidak jadi membeli laptop karena uangku terpakai untuk keluarga. Aku ingat aku bahkan rela tidak jadi membeli makanan favoritku hanya karena adikku ingin sepatu. Ada hal-hal yang, meski kita sangat menginginkannya, kita tak bisa menggapai itu. Dan itulah yang mesti kita mengerti. Kita boleh punya keinginan dan kemauan, tapi harusnya kita ingat bahwa tak semuanya juga bisa terwujud. Ada kalanya kita harus menerima dengan lapang dada. Memahami hal-hal itu sebagai bagian dari proses kehidupan.
Aku lalu pergi dari toko mainan itu dengan sebuah mainan lucu.
Komentar
Posting Komentar