ULANG TAHUN IBU

 Di suatu malam yang dingin di bulan Oktober, Ina tengah sibuk memilih baju. Dipandanginya lemari tua yang menyimpan seluruh pakaiannya. Ia bingung harus memakai pakaian seperti apa untuk pesta ulang tahun Rio—teman sekelas sekaligus lelaki yang sedang dekat dengannya. Ina sudah menunggu malam ini sejak seminggu yang lalu. Jadi, ia ingin memakai pakaian terbaiknya.

Tangannya menunjuk dari atas ke bawah, mencoba memilih warna yang paling cocok. Hingga akhirnya matanya jatuh pada sweater biru muda. Sebetulnya, itu adalah sweater tebal yang dibelikan ayahnya ketika ia mendapat juara kelas tahun lalu. Ina termenung memandangi sweater itu. Sebab kini, ayahnya telah pergi meninggalkan ia dan ibunya untuk selamanya. Ayah Ina meninggal setengah tahun lalu karena penyakit asma yang telah lama dideritanya.

Saat hendak mencabut sweater itu dari tumpukan baju, beberapa kertas berhamburan jatuh. Tiba-tiba, ponselnya berdering. Ina buru-buru mengambil ponsel yang tergeletak di atas kasur tanpa sempat membereskan kertas-kertas tersebut.

"Halo, iya... aku juga udah mau berangkat, nih," ucap Ina sambil tersenyum.

Setelah telepon ditutup, Ina langsung mengenakan sweater itu dan menyemprotkan parfum satu-satunya yang ia miliki. Ia berharap parfum murah ini bisa membuat Rio terkesan. Ina menyambar tas dan langsung pergi. Dari pintu tengah, Ibu Ina memandang anaknya dengan tersenyum. Terlihat kerut memenuhi wajahnya, rambutnya pun sudah dipenuhi uban.

---

Ina datang tepat waktu ke pesta ulang tahun lelaki yang tengah digilainya. Suasana ramai, terlihat beberapa meja berdiri tegak dengan makanan yang memenuhi permukaannya. Ina menyapa teman-temannya yang sudah datang lebih dulu. Bukan salam seperti biasanya, melainkan salam khusus yang mereka buat sendiri.

"Hampir aja kamu telat. Ini acara mau dimulai," ucap Sarah, teman sebangku Ina.

"Iya, untung aja. Soalnya tadi agak lama pas pesan taksi," jawab Ina.

"Ya sudah, yuk!" Sarah menarik tangan Ina ke depan panggung.

Di atas panggung, Rio dan kedua orang tuanya sedang berdiri. Di depan mereka, ada satu kue berwarna hijau—warna kesukaan Rio.

"Terima kasih kepada teman-teman yang sudah bersedia hadir di pesta kecil-kecilan ini," ucap Rio merendah. Padahal pesta ini terbilang cukup mewah.

Acara berjalan lancar. Setelah orang tua Rio pergi, suasana pesta berubah jadi lebih berwarna. Dikeluarkanlah minuman-minuman beralkohol yang sejak tadi disembunyikan agar tidak diketahui orang tua Rio. Musik DJ menggema melawan malam. Semua orang berjoget riang mengikuti dentuman irama. Tak terkecuali Ina. Ia juga berjingkrak tak karuan. Matanya memerah, sebab terlalu banyak meminum alkohol.

Malam terus melarut, tapi kesadaran Ina justru semakin surut.

"Selamat ulang tahun, Rio," ucap Ina kepada Rio yang tengah berjoget.

"Iya, makasih." Rio menarik lengan Ina dan menciumnya penuh gairah. Ina hanya menurut, mungkin karena pengaruh alkohol. Mereka saling beradu di tengah keramaian. Ina merasa hatinya melayang tak karuan. Malam ini terasa sebagai malam paling membahagiakan untuknya.


---

Ina pulang terlalu larut. Ia berjalan sempoyongan. Karena sudah terlalu malam, akhirnya Sarah mengantarnya pulang dengan mobil. Setelah sampai, Ina berterima kasih, lalu melambai pelan seiring mobil Sarah menjauh.

Langkah Ina goyah. Ia terlalu banyak meminum alkohol. Ia membuka pintu, lalu berjalan menuju kamarnya. Di sana, Ina terduduk, mencoba meraih kesadarannya yang sempat hilang. Matanya menangkap kertas-kertas yang masih berhamburan di lantai. Ia mengambil satu dan tak sengaja membacanya. Ternyata itu hanya sebuah kartu keluarga. Tidak penting. Tapi tunggu dulu—Ina memicingkan mata, ia tak sengaja melihat tanggal lahir ibunya: 12 Oktober 1962.

Dada Ina bergemuruh. Ini hari ulang tahun Ibu.

Seketika, rasa bersalah membanjiri dirinya. Ia selalu ingat ulang tahun temannya, tapi tak pernah mengingat ulang tahun ibunya sendiri. Miris. Hati Ina terasa tersayat oleh sesuatu yang menyakitkan. Ia segera bangkit dan menuju kamar ibunya.

Pintu berderit pelan. Terbuka. Dilihatnya seorang wanita tua tengah terlelap. Ina memandang wajah itu, menilik setiap keriput yang tumbuh. Ia mendekat dan duduk di tepi ranjang. Tangannya yang masih berbau alkohol mencoba mengusap rambut ibunya.

Ina baru sadar, uban Ibu semakin banyak. Ia kembali memandangi wajah itu dengan perasaan bersalah. Selama ini, Ina jarang memperhatikan. Ternyata Ibu semakin tua. Tanpa terasa, air mata Ina jatuh. Ia tidak tahu alasannya, tapi ia merasa telah menjadi anak yang durhaka.

Ina mengusap kepala ibunya dengan lembut.

"Selamat ulang tahun, Ibu..." ucap Ina, sembari mengecup kening ibunya.

Komentar