SHEILA ON 7 DAN MEMORI BAIK

Saya pertama kali mendengarkan Sheila On 7 mungkin sekitar 15 tahun yang lalu. Waktu itu saya kelas 4 SD, dan orang yang mengenalkan saya pada band asal Jogja tersebut adalah teman sekelas.

Teman ini sebetulnya tidak terlalu suka mendengarkan musik, tapi bapaknya adalah maniak musik. Beberapa anak memang terkadang tidak mirip bapaknya. Nah, karena saya sering main ke rumahnya, jadilah saya mengenal band ini.

Di rumah teman saya, ada satu lemari pendek penuh dengan kaset VCD, dan hampir semuanya adalah kaset musik. Di zaman itu, media untuk mendengarkan musik belum seluas sekarang. Paling hanya lewat radio, VCD, dan walkman saja.

Di suatu sore sepulang sekolah, saya pertama kali mendengarkan lagu Sheila On 7 berjudul “Betapa”, dan entah kenapa saya langsung jatuh cinta dengan band ini. Sebenarnya saya sudah tahu band-band pop tahun 2000-an seperti Wali, Peterpan, bahkan Kangen Band. Tapi Sheila On 7 seperti punya magis tersendiri.

Setelah mendengarkan satu lagu itu, keesokan harinya saya langsung meminjam kaset tersebut dan memutarnya berkali-kali di rumah. Bukan hanya “Betapa”, hampir semua lagu yang ada di kaset itu saya suka—sebut saja “Yang Terlewatkan”, “Mudah Saja”, dan lain-lain.

Saya, entah kenapa, sangat suka dengan vokal Mas Duta. Padahal, seperti yang diketahui banyak orang, di awal-awal kariernya Duta tidak dijagokan untuk menjadi vokalis karena suaranya dianggap tidak terlalu istimewa. Tapi nyatanya, sampai sekarang, saya tetap menyukai suara Mas Duta.

Sejak mengenal Sheila On 7, hari-hari saya dipenuhi dengan lagu-lagu mereka. Mungkin waktu itu saya masih terlalu kecil untuk memahami arti dari lirik-lirik mereka—apalagi karena kebanyakan lagu mereka bertema patah hati. Tapi saya tidak peduli. Sebagai anak SD, selera saya hanya sesimpel: “enak didengar.” Dan itu cukup.

Saya tumbuh bersama lagu-lagu mereka. Dari kelas 4 naik ke kelas 5, lalu lulus SD, dan beranjak remaja. Hingga akhirnya ketika saya mulai mengerti tentang cinta, lagu-lagu Sheila On 7 terasa makin menancap di hati.

Saya ingat sekali patah hati pertama saya, ketika kelas 8 SMP. Waktu itu saya jatuh cinta pada seseorang, tapi tidak mungkin bisa bersama karena beberapa hal. Lagu “Pemuja Rahasia” menjadi semacam pelarian sekaligus pelipur lara. Saat itulah saya mulai memperhatikan lirik—dan tenggelam bersamanya.

Ada juga momen bahagia ketika saya akhirnya bisa mengajak jalan perempuan yang saya sukai ke kecamatan. Saya bahagia sekali waktu itu. Lagu Sheila On 7 berjudul “Hari Bersamanya” sangat cocok menggambarkan apa yang saya rasakan. Meski pada akhirnya, dia tetap saja menolak saya.

Sheila On 7 bagi saya bukan sekadar band. Apa yang mereka tulis dan sampaikan benar-benar mampu hidup dalam ingatan saya, bertahun-tahun lamanya. Mereka menemani saya tumbuh dari masa ke masa—dari patah hati, momen-momen kecil yang membahagiakan, hingga masa perpisahan sekolah.

Lagu “Sebuah Kisah Klasik” masih menjadi lagu perpisahan paling manis dalam ingatan saya.

Sekarang, saya hampir berusia seperempat abad. Tapi Sheila On 7 tak pernah terasa usang. Lagu-lagu mereka masih saya dengarkan setiap hari—ketika bekerja, di perjalanan, atau bahkan di kasur sebelum tidur.

Mereka bukan sekadar band Jogja.

Mereka menyimpan memori baik di setiap bait dan musiknya.


Komentar