"Janji jangan sampai pergi, ya."
Katamu dengan begitu lembut. Itu dulu—dulu sekali. Kala itu, kita sedang duduk di atas bangunan tua di sudut kota. Bangunan itu bekas kantor sebuah perusahaan, namun sudah lama tak terpakai. Mungkin bangkrut. Matahari tersenyum memancarkan sinar jingganya. Hangat. Nyaman. Burung-burung berlalu-lalang mencari tempat pulang. Rumah. Kau dan aku duduk takzim menatap mentari.
"Janji jangan sampai pergi, ya."
Kau tersenyum, mengacungkan jari kelingking, menunggu aku menyambut. Aku pun tersenyum, mengaitkan kelingking kita. Jemari saling terkait. Menyatu. Waktu itu, aku kira kata yang kau ucapkan adalah sesuatu yang nyata. Namun kini, kata itu hanya jadi deretan huruf kosong. Tak bermakna. Tak nyata.
Sekarang, aku hanya bisa mengingat kata itu dengan sesak yang menusuk di dada. Sakit yang menjerat begitu nyata. Pasalnya, gedung ini, tempat ini, sudah berbeda. Asing. Sebab kau tak ada lagi di sisinya. Aku hanya duduk termenung sendiri, dengan sisa air mata yang masih menggenang di pelupuk mata. Memandang jauh, entah ke mana. Semilir angin memberi hawa sejuk—yang ternyata tak mampu meredakan panasnya hatiku.
Kenangan tentangmu terus berputar di kepala. Senyummu, tawamu, candamu, pelukmu, kecupmu—semuanya masih terngiang dalam ingatan.
"Janji jangan sampai pergi, ya."
Kalimat itu terus bergema. Mendengung. Bagai kawanan lebah yang begitu mengganggu. Kenapa? Kau yang mengucap janji, kau pula yang mengingkarinya. Kenapa semudah itu kau remukkan janji yang kau rangkai sendiri?
Belum sempat tanyaku terjawabkan, kau telah pergi jauh. Hilang dari pelukan. Lepas dari genggaman. Kau hancurkan segala rasa demi dia yang kau anggap tepat. Kau tak mengerti. Kau tak akan pernah mengerti—sebagaimana kerasnya usahaku untuk menjadi tepat untukmu. Tapi dengan begitu lugu, kau berputar arah. Berganti rasa. Kau pilih dia, dengan segala kesempurnaan yang melekat padanya.
Kau luluh.
Aku rapuh.
Kau berpindah.
Hatiku pecah.
"Janji jangan sampai pergi, ya."
Iya, aku tidak pergi. Aku di sini. Di tempat di mana semua bermula. Di tempat kenangan kita berkumpul. Di tempat rindu kita mengepul. Aku di sini, dengan perasaan yang masih sama. Tak berubah sedikit pun. Tak berganti barang secuil pun. Aku di sini—dan akan tetap di sini. Menunggu kau kembali. Menunggu semua menyatu lagi.
Matahari memerah. Terbakar. Langit berwarna merah jambu. Aku mendongak. Mengerti.
Proses transisi memang selalu menyakitkan.
Namun setelahnya, akan tercipta sesuatu yang luar biasa.
Komentar
Posting Komentar