Saya bukan seorang analis film yang menilai film dari segi teknis, pengambilan gambar, colour grading, sinematografi, atau bahkan plot cerita. Saya hanya menonton film untuk hiburan dan tidak mau repot memikirkan hal-hal semacam itu.
Saya cuma ingin lari dari kenyataan dengan menonton film dan hanyut bersama cerita yang disajikan. Ya, meskipun aspek-aspek yang tadi saya sebutkan memang menunjang agar saya bisa hanyut dalam ceritanya.
Tapi, di film ini, saya mendapatkan pengalaman baru. Benar-benar baru. Saya tidak menyangka ada orang yang punya ide segar seperti ini.
Baru saja saya selesai menonton film Jatuh Cinta Seperti di Film-Film, dan film ini membuat saya termenung sejenak. Keindahannya sangat sulit dijelaskan.
Mengambil tema romantis komedi, apa yang disajikan Yandy Laurens sebagai sutradara terasa begitu hangat. Porsi komedinya tidak terlalu banyak—tipis-tipis saja—tapi tetap berhasil membuat saya tertawa.
Film ini bercerita tentang Bagus, seorang penulis naskah film yang ingin membuat cerita tentang dirinya yang jatuh cinta pada teman semasa SMA, yang kini baru saja menjanda karena suaminya meninggal. Sesederhana itu. Tapi entah kenapa, eksekusinya terasa begitu mak jleb. Ditambah lagi, film ini disajikan 90% dalam warna hitam putih. Iya, hitam putih. Siapa yang terpikir membuat film hitam putih di zaman yang sudah penuh warna seperti sekarang?
Saya yakin sang sutradara tidak membuat film ini hitam putih hanya agar terlihat beda dari film lain. Ada sesuatu yang ingin ia sampaikan. Dan saya merasakan sesuatu itu—meski saya tak tahu bagaimana cara menjelaskannya.
Yang paling saya suka dari film ini adalah dialognya. Sangat terasa nyata. Di samping para aktornya yang memang sudah legenda, dialog yang tercipta begitu kuat dan membuat saya tidak bisa berhenti mendengarkan. Di film ini, tidak perlu aktor yang ganteng parah atau aktris yang cantik bening untuk membuat saya simpati dengan mereka. Diperankan oleh Ringgo Agus, karakter Agus bisa dibilang tidak tampan, tapi saya bisa merasakan perasaan romantisnya.
Kita tahu, kebanyakan film romantis menggunakan aktor dan aktris yang menarik secara fisik agar feel-nya lebih berasa. Tapi di film ini, formula itu tidak dibutuhkan.
Film ini berdurasi hampir dua jam. Jika kamu tipe yang gampang bosan, mungkin film ini tidak cocok untukmu. Sebab alur dan ritmenya cenderung lambat. Tapi bagi saya, ini adalah salah satu film paling berkesan yang pernah saya tonton. Saya suka film dengan ide segar seperti ini. Saya suka film yang tak hanya menampilkan cerita, tapi juga menyisipkan pesan di dalamnya.
Saya ingat di salah satu adegan, Agus berkata, “Iya, hidup emang nggak bisa di-retake, tapi kita bisa bikin sequelnya.”
Ah, betapa indahnya kalimat itu. Saya sampai terdiam sejenak ketika adegan itu muncul.
Terkadang, manusia merasa bahwa hidup membawa kita pada situasi yang tidak diinginkan. Kita sadar bahwa apa yang sudah terjadi tak bisa diulang agar alurnya berubah. Yang bisa kita lakukan hanyalah melanjutkan hidup dengan cerita baru—dalam tanda kutip, sequelnya.
Pada akhirnya, film ini menawarkan pengalaman baru dalam menonton, yang membuatnya sangat layak untuk ditonton.
.jpeg)
Komentar
Posting Komentar