DOA YANG DIAM DIAM BERTUMBUH (PUISI)

Aku sangat senang membayangkan kita menjadi sepasang burung yang menebas langit dan hinggap di salah satu pohon paling rindang di tengah kota. Menikmati bagaimana rasanya menjadi bebas dan lepas bersamamu.

Aku juga ingin menenggelamkan diriku sendiri dalam kata-kata yang kau rakit, menjadi semacam lautan rindu—hanyut dan hilang ke dalam engkau, seluruhnya.

Tapi aku penghayal yang mahir. Aku hanya ingin kita menua, sampai bola mata kita tak mampu melirik apa pun lagi selain satu sama lain. Duduk di bangku taman, bersama cucu dan kupu-kupu yang tak henti berlari. Lalu pulang dengan tongkat di tangan masing-masing.

Itu masih jauh, tapi kepingan harapan ini akan tumbuh bersama waktu. Dan dunia akan terus berjalan. Harapan ini akan hidup sebagai doa yang akan terus memayungi langkah kita masing-masing.

Jadi, mari kita berbaring dan menunggu masa-masa indah itu sampai di pelukan kita.


Komentar