Apakah Umur Segini Memang sedang Sangat Ingin Kembali ke Masa Kecil?
Menginjak usia 20 tahun ke atas, rasanya melihat anak-anak bermain bola, mengejar layangan, bersepeda ria, menjadi tontonan paling menarik setiap sore.
Saya merasakan ingatan yang timbul dengan begitu hangat. Saya juga pernah berada di posisi itu—bermain hingga petang, berenang tak peduli banjir, sepak bola meski hujan deras. Semuanya terasa begitu indah. Dan kenapa saya merindukan masa-masa itu lagi? Di umur sekarang?
Saya menulis ini di sela-sela pekerjaan yang bertumpuk. Menyempatkan waktu untuk menceritakan apa yang saya rasa setiap saya pulang kerja dan melihat anak kecil di lapangan.
Pertanyaannya: seberapa suram kah masa kini hingga saya ingin kembali ke masa kecil?
Sebetulnya, dewasa adalah dunia yang bebas. Kita punya kontrol atas hidup kita sendiri. Dan itulah yang kita inginkan semasa kecil. Dulu kita tak bisa bebas bermain sebab hidup dengan aturan yang dibuat orang tua. Naasnya, ketika dewasa tiba, kebebasan itu justru tidak ditemukan juga.
Ketika kecil, saya duduk di pinggir lapangan bersama teman-teman dengan baju yang sudah bercampur lumpur, memandangi matahari yang sedang tenggelam. Baju kami basah—air hujan bercampur dengan keringat—dan jelas itu akan jadi bahan amarah ibu nanti.
Ketika itu, kami berbicara perihal masa depan. Tentang bagaimana dunia dewasa sangat menjanjikan dan sarat akan kebebasan. Kami tak sabar. Kami ingin segera tumbuh dan punya kendali atas hidup sendiri. Begitu naif nya dulu. Begitu polosnya pikiran anak-anak dahulu kala.
Nyatanya, sekarang, setelah dewasa tiba, saya ingin kembali ke sana. Saya tidak melebih-lebihkan, tapi menjadi dewasa sangat, sangat rumit. Kompleks. Apa yang saya bayangkan ketika kecil ternyata tak ada dalam dunia dewasa. Yang ada hanya beban, tekanan, dan sedikit kebahagiaan. Memang ada bahagia, tapi mungkin hanya 10% saja. Sisanya? Hidup yang berantakan.
Dulu saya suka sekali sepak bola. Sekarang, saya sudah tak pernah menyentuh bola sedikit pun. Yang saya lakukan hanya menyentuh papan ketik untuk menyelesaikan pekerjaan.
Dulu saya senang sekali bermain petak umpet. Sekarang, saya sibuk bersembunyi dari atasan dan cicilan yang merongrong tiap bulan. Sungguh miris.
Dulu saya bahagia sekali menonton televisi malam bersama keluarga dan teman-teman. Sekarang, saya sibuk menghindari tontonan agar tidak begadang, sebab esok harus bangun pagi.
Betapa hal-hal demikian sangat berbanding terbalik dengan apa yang saya bayangkan semasa kecil. Hidup di masa dewasa rupanya hanya berisi kegiatan berulang-ulang yang membuat kepala memanas. Rutinitas yang menyebalkan harus saya lakukan setiap hari: bangun pagi, bekerja, pulang, gajian, lalu habis untuk bayar cicilan—dan diulang sampai satu tahun penuh.
Sampai kapan seperti ini? Apakah manusia memang dikutuk untuk terus bekerja sampai umur habis?
Pertanyaannya: seberapa suram kah masa kini?
Tidak suram. Semuanya berjalan dengan baik. Karena memang semua manusia mengalami hal semacam ini.
Pada akhirnya, memang beginilah hidup: lahir, besar, bekerja, menikah, punya anak, dan mati. Segala hal indah di belakang akan ikut kita kubur bersama jasad kita sendiri nanti.
Akhirnya, saya memang tidak bisa kembali ke masa kecil lagi.Saya hanya bisa menyimpan ingatan itu untuk saya pugar kembali di waktu-waktu yang akan datang. Betapa keras pun saya mencoba, hidup hanya akan berjalan seperti yang seharusnya.
Dan seharusnya memang seperti ini: menjadi dewasa, umur bertambah, dan menjalani hidup dengan penuh ketenangan.
Komentar
Posting Komentar