BADAI PASTI SELESAI

 Semalam desaku dilanda badai. Angin kencang. Petir yang menggelegar serta hujan yang lebatnya minta ampun terus mengguncang desa. Aku sedang meringkuk dengan bantal guling yang aku dekap erat-erat. Ponsel aku matikan sedari tadi. Katanya, ponsel mengandung listrik yang bisa mengundang petir. Aku tidak pernah tahu itu mitos atau bukan. Yang jelas, ponsel yang biasa sering aku mainkan, malam itu aku matikan sepenuhnya. Aku takut.

Aku adalah tipe manusia yang suka hujan, tapi sangat takut pada angin. Entah kenapa, setiap angin besar melanda, aku selalu ketakutan. Merekatkan gigi dan bersembunyi di bawah selimut. Dalam bayanganku, angin besar itu akan menerbangkan seluruh rumah yang ada, menumbangkan seluruh pohon yang ada. Padahal tidak mesti seperti itu. Mungkin aku hanya terpengaruh oleh film-film bencana yang sering aku tonton di televisi. Nyatanya, malam tadi angin dan petir benar-benar sedang mengamuk. Aku mendengar dari arah kamar ibu suara lantunan ayat suci, yang artinya badai kali ini sungguh mengerikan. Aku makin merekatkan pelukanku pada guling. Selimut aku tarik hingga menutupi badan.

Angin makin gencang, gemuruhnya kadang-kadang membangkitkan bulu kudukku. Setiap kali kilatan cahaya terlihat, aku menahan napas. Aku benar-benar takut malam itu. Aku jadi teringat banyak hal. Aku teringat berita-berita bahwa tahun ini bencana semakin intens terjadi. Mulai dari banjir, gempa bumi, gunung meletus, bahkan tsunami juga. Dari agama yang aku percayai, semua bencana itu adalah tanda dari Tuhan. Semacam peringatan bahwa dunia sudah tidak muda lagi dan mungkin sudah mendekati akhir.

Aku semakin takut. Angin terus-menerus terdengar menyeramkan. Ia seperti menabrak-nabrak dinding rumahku. Aku takut jika saja tiba-tiba rumahku roboh dan terbawa angin. Doa-doa mulai aku lantunkan. Aku harap semuanya baik-baik saja sampai badai ini selesai.

Badai seperti ini memang sering datang, setidaknya dua kali dalam satu tahun. Aku yang sudah umur 20-an sudah melihat dan melewati banyak badai yang bahkan lebih mengerikan. Tapi tetap saja, ketika badai itu datang, ketakutanku tidak berubah, sama seperti ketika aku melihat badai untuk pertama kalinya. Aku tidak mengerti perihal kenapa bisa seperti itu. Yang jelas, badai selalu menakutkan untukku.

Malam itu badai mengaum keras. Hujan jatuh dengan deras. Tapi badai tersebut hanya berlangsung beberapa jam saja. Tidak terlalu lama. Perlahan, hujan dan angin serta petir itu mulai mereda. Hilang sedikit demi sedikit, hingga sepenuhnya selesai. Badai itu telah berhenti. Aku yang masih berselimut, segera membuka selimut dan bernapas dengan lega.

“Alhamdulillah,” ucapku penuh penghayatan.

Setiap badai selesai, kelegaan yang hadir dalam hatiku benar-benar membuat aku tenang. Setelah semalaman diterpa angin kencang dan hujan yang deras, akhirnya aku bisa bernapas lega. Aku jadi ingat satu hal. Seseorang di YouTube pernah bilang bahwa hidup juga demikian.

Demikian bagaimana?

Ya, dalam hidup akan selalu ada badai yang besar. Yang memporak-porandakan seluruh apa yang kita punya. Yang membuat air mata kita jatuh lebih banyak. Yang membuat hidup jadi lebih menyeramkan. Setiap orang, setiap manusia, pasti akan melewati badainya sendiri, dengan kapasitas dan kemampuan yang dimilikinya sendiri.

Seseorang yang aku tonton di YouTube itu melanjutkan. Ia berkata bahwa sebesar apa pun badainya, ia pasti akan reda dan selesai. Tak peduli selama apa pun badai itu berlangsung, semua akan berhenti pada titiknya. Selesai pada waktunya. Dan tugas kita hanyalah bertahan dalam badai itu, menguatkan diri agar tetap mampu berdiri, merekatkan kaki agar tetap hidup sampai segalanya berhenti—sampai petir itu hilang, sampai hujan itu reda.

Aku jadi mengerti. Apa pun masalah yang aku hadapi saat ini, akan selesai suatu saat. Mungkin aku merasa sudah di titik paling rendah, tapi mengingat bagaimana masalah ini akan selesai, memberiku tenaga baru. Ya, aku harus bertahan, setidaknya sampai masalah ini selesai. Sulit memang, tapi sedari kecil aku memang sudah kesulitan. Harusnya aku bisa bertahan sampai jauh.

Malam itu, setelah badai selesai, aku duduk di teras rumah. Mencoba melihat efek yang ditimbulkan oleh badai tersebut. Beberapa pohon tumbang, bahkan ada beberapa genting rumah tetangga berjatuhan. Tapi, besok matahari akan bersinar lagi. Semuanya selalu bisa diperbaiki kembali. Hari baru akan selalu lebih baik.

Komentar